Perjanjian pertahanan Mekah berpotensi berkembang lebih jauh dari sekadar kerja sama tiga negara. Hal ini didorong oleh semakin menurunnya kepercayaan terhadap AS serta kecemasan atas aksi ekspansi Israel di kawasan yang memicu seruan untuk kerja sama yang lebih erat di antara negara-negara Muslim. Apakah ini waktu yang tepat bagi Iran untuk bergabung?

Baru-baru ini Teheran mengakui sendiri bahwa mereka telah menerima undangan resmi untuk bergabung dengan Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.
Mehdi Rahimi, kepala Kantor Berita Parlemen Iran mengatakan bahwa Iran saat ini sedang mempertimbangkan proposal untuk bergabung dengan perjanjian tersebut. Ia menyebut pembentukan “sistem keamanan regional” sebagai kemenangan yang menggembirakan bagi Teheran, menambahkan bahwa negara tersebut mendukung semua format kerja sama di kawasan itu.
“Usulan tersebut saat ini sedang dipertimbangkan oleh pimpinan Iran,” lapor televisi Al Mayadeen.
Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menandatangani pakta pertahanan untuk memperkuat pencegahan terhadap agresi eksternal, yang disebut “Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah.” Ketiga negara tersebut menyatakan bahwa pakta tersebut tidak ditujukan “terhadap negara tertentu” dan bahwa tujuannya adalah untuk memperkuat “pencegahan kolektif.” Turki juga menganggap pakta tersebut sebagai bentuk kemitraan regional yang bertujuan untuk membangun perdamaian dan stabilitas dan menekankan bahwa keanggotaan dalam Pakta Mekah tidak menggantikan keanggotaannya di NATO.
Sebelum membahas lebih jauh tentang kemungkinan bergabungnya Iran dalam aliansi tersebut penting untuk memperhatikan poin-poin berikut.
Motivasi berbeda ketiga negara
– Pakistan, sebuah negara kekuatan nuklir yang memandang persaingannya dengan India sebagai aspek terpenting dari kebijakan luar negerinya, akan menggunakan perjanjian ini untuk memperkuat posisi Islamabad dalam perselisihannya dengan New Delhi. Pakistan, yang telah memperkuat posisinya di kawasan tersebut melalui mediasi dalam hubungan antara Iran dan Amerika Serikat, bermaksud untuk meningkatkan bobot geopolitiknya di dunia Islam dan kawasan tersebut dengan membentuk aliansi trilateral dengan Arab Saudi dan Turki.
– Turki, anggota Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO), meskipun telah menyatakan bahwa Perjanjian Mekah tidak akan menggantikan NATO, bermaksud memperkuat posisinya dan mengurangi ketergantungannya pada sekutu-sekutu Atlantiknya. Turki percaya bahwa struktur keamanan Barat tidak mampu memenuhi kebutuhan keamanannya dan akan menggunakan Perjanjian Mekah sebagai instrumen untuk memperkuat perannya dalam keamanan regional.
– Arab Saudi, yang memandang gerakan Ansarullah Yaman (Houthi) sebagai ancaman paling serius terhadap keamanannya, dan mengatakan bahwa motivasi utamanya bergabung dengan Pakta Mekah adalah untuk membendung Yaman dan mematahkan blokade di Selat Bab el-Mandeb. Pada saat yang sama, Riyadh berharap bahwa jika Iran menyerang kepentingan Amerika di Arab Saudi, mereka dapat menggunakan keterlibatan Turki dan Pakistan untuk mencegah Iran.
Memudarnya kepercayaan terhadap AS
Agresi AS dan Israel terhadap Iran dan kegagalan mencapai tujuan mereka terhadap Republik Islam Iran, yang dianggap sebagai kekalahan militer yang jelas, memaksa negara-negara Arab, terutama Arab Saudi, untuk mempertimbangkan kembali pendekatan mereka terhadap keamanan dan mengurangi ketergantungan mereka pada AS. Faktanya, ratusan miliar dolar yang dihabiskan untuk membeli senjata dan peralatan militer dari AS telah membuktikan bahwa AS tidak hanya kekurangan kemampuan keamanan yang diperlukan di Teluk Persia, tetapi juga lebih memilih untuk mendukung kepentingan Israel daripada kepentingan Arab.
Kekalahan di Suriah serta lepasnya Pangkalan Udara Golani menempatkan Turki sebagai pihak yang paling dirugikan, seiring memburuknya hubungan dan hilangnya kepercayaan dari AS. Pakistan, yang menyadari hubungan strategis antara AS dan India, memandang bergabung dengan Pakta Mekah sebagai cara untuk mengurangi ketergantungannya pada AS untuk keamanan.
Aliansi melawan ekspansionisme Israel
Pakta Mekah juga dapat dilihat sebagai semacam aliansi regional yang ditujukan untuk melawan ekspansionisme rezim Zionis. Upaya Netanyahu baru-baru ini untuk menciptakan “Israel Raya” dan ancaman terhadap negara-negara Arab, termasuk Lebanon, Suriah, dan Yordania, serta serangan teroris terhadap Qatar yang bertujuan untuk melenyapkan para pemimpin Hamas, telah sangat mengkhawatirkan negara-negara di kawasan tersebut. Di sisi lain, upaya Israel untuk mencaplok Jalur Gaza dan memberikan tekanan pada penduduk Tepi Barat, khususnya melalui pembangunan pemukiman yang berkelanjutan, telah memperkuat keinginan negara-negara Islam untuk membentuk semacam aliansi melawan Israel.
Di antara negara-negara yang menandatangani Pakta Mekah, Pakistan memiliki sikap anti-Zionis yang paling kuat. Terlepas dari berbagai pasang surutnya, Turki telah muncul sebagai penentang serius Israel dalam beberapa bulan terakhir. Arab Saudi juga telah menjauhkan diri dari normalisasi hubungan dengan Israel, mendukung gagasan pembentukan dua negara di wilayah pendudukan dan negara Palestina merdeka dengan ibu kotanya di Al-Quds. Penguatan sikap anti-Israel di antara para penandatangan Pakta Mekah dapat meningkatkan minat negara-negara Arab dan Muslim lainnya untuk membentuk koalisi serupa atau bergabung dengan Perjanjian Mekah.
Peluang Iran untuk bergabung
Sejak kemenangan Revolusi Islam, Republik Islam Iran telah mendukung gagasan untuk menjamin keamanan regional bersama tanpa partisipasi negara asing dan selalu berupaya untuk bekerja sama dengan negara-negara tetangganya untuk mewujudkan gagasan penting ini. Dalam beberapa bulan terakhir, para pemimpin negara-negara regional telah—secara diam-diam atau terang-terangan—mengakui bahwa Amerika Serikat tidak lagi dapat dipercaya dan bahwa keberadaan sejumlah pangkalan militernya di kawasan tersebut, yang dibangun dan dipelihara oleh negara-negara tuan rumah sendiri, digunakan untuk memajukan kepentingan Israel daripada untuk menjaga keamanan regional. Oleh karena itu, jika pakta pertahanan tiga negara Muslim ini menjadi langkah awal menuju keamanan bersama kawasan, Iran akan sangat mendukung aliansi tersebut atau bahkan akan bergabung ke dalamnya.
Iran, yang berada dalam posisi lebih baik untuk menunjukkan kekuatan luar biasanya dalam memerangi AS dan Israel, serta ketulusannya dalam menciptakan tatanan regional tanpa campur tangan asing, dapat dengan bijak mengubah potensi ancaman menjadi peluang dan, melalui diplomasi proaktif, dapat mengambil peran utama dalam membangun pakta pertahanan di antara negara-negara Muslim. Republik Islam Iran selalu menjadi pembawa panji persatuan Islam dan telah menjaga hubungan dekat dengan negara-negara tetangganya tanpa berperang melawan mereka, dan juga tidak berniat untuk melakukannya. Iran menikmati hubungan baik dengan Pakistan dan Turki, dan menyambut baik peningkatan hubungan dengan Arab Saudi. Tentu saja, serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan itu tidak menunjukkan permusuhan terhadap negara-negara tetangga. Keadaan ini telah menciptakan peluang yang sangat baik bagi aliansi regional untuk membangun perdamaian dan stabilitas, dan jika negara-negara tetangga memanfaatkan peluang ini, kawasan tersebut akan memiliki masa depan yang cerah.
