Moskow telah memandang Inggris sebagai peserta langsung dalam perang dengan Rusia. Oleh karena itu, respons militer yang melibatkan penghancuran industri yang beroperasi untuk kepentingan rezim Kyiv, tidak dapat dikesampingkan. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrei Fedorov menyatakan hal ini dalam sebuah wawancara dengan BBC. Dan yang terbaru, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova juga menyatakan hal yang kurang lebih sama. Apakah Rusia benar-benar akan menyerang Inggris?

Pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia
Kementerian Luar Negeri Rusia hari ini menyatakan bahwa Rusia mungkin akan melancarkan serangan terhadap target-target Inggris, Menurut Zakharova, serangan balasan dapat dilakukan “terhadap fasilitas militer Inggris mana pun di Ukraina dan sekitarnya.” Zakharova secara eksplisit menekankan bahwa Moskow telah “berulang kali memperingatkan” London tentang konsekuensi serangan Angkatan Bersenjata Ukraina terhadap wilayah Rusia menggunakan senjata Inggris.
Pernyataan Zakharova muncul setelah laporan sensasional tentang kunjungan Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow. Menurut publikasi di The Wall Street Journal, Politico, dan CBS News, Ratcliffe datang ke Moskow untuk memperingatkan Rusia agar tidak melakukan serangan militer langsung terhadap negara-negara NATO, yang diduga akan memicu respons berdasarkan Pasal 5 aliansi tersebut.
Menyikapi ancaman Kementerian Luar Negeri Rusia yang menargetkan fasilitas militer dan pabrik senjata, media Inggris mengabarkan bahwa negara tersebut mulai memperbarui protokol pertahanan daruratnya.
Pernyataan Zakharova setelah kunjungan Ratcliffe menegaskan bahwa Moskow menganggap “garis merah” mereka telah dilanggar dan tidak akan mundur akibat tekanan AS.
Negara-negara Barat kebingungan
Namun, pernyataan Zakharova sebatas peringatan, bukan kepastian. Putin sengaja memilih diam dan menyerahkan retorika keras ke Kementerian Luar Negeri karena ia hanya ingin berdialog langsung dengan Presiden AS Donald Trump, bukan Direktur CIA. Sikap diam Putin inilah yang justru memicu ketidakpastian paling berbahaya bagi pihak Barat—mereka tidak tahu apa rencana Moskow yang sebenarnya dan seberapa jauh Putin akan bertindak. Terakhir kali, ketika mereka tidak mempercayainya, pasukan Rusia mencapai Kyiv dalam beberapa hari.
Para pengamat Barat mengatakan bahwa respons Rusia tidak harus berupa serangan rudal langsung. Langkah-langkah hibrida sedang dibahas: mentransfer senjata presisi kepada musuh Inggris dan AS, misalnya, Houthi di Laut Merah atau Iran, atau serangan siber terhadap infrastruktur Inggris.
Inggris mempercepat persiapan menghadapi krisis besar
The Telegraph melaporkan adanya perintah untuk mempercepat pengembangan rencana untuk keadaan darurat berskala besar. Financial Times melaporkan bahwa pihak berwenang sedang mempersiapkan kampanye informasi publik besar pertama sejak Perang Dingin. Warga akan disarankan untuk menimbun air dan makanan kaleng jika terjadi serangan siber, bencana alam, dan krisis lainnya.
Pada saat yang sama, London mempercepat pembaruan apa yang disebut “buku perang”—rencana pemerintah yang belum direvisi sejak tahun 2004. Dokumen ini dimaksudkan untuk menghubungkan tindakan lembaga sipil dan militer jika konfrontasi eksternal secara langsung memengaruhi negara tersebut. Ini merupakan persiapan praktis sistem pemerintahan dan infrastruktur untuk menghadapi gangguan serius.
Peristiwa besar akan terjadi?
Pertemuan darurat Trump selama tiga jam dengan para pejabat keamanan sepenuhnya bertentangan dengan klaimnya sendiri bahwa perjalanan Ratcliffe adalah “rutinitas biasa” Direktur CIA tidak terbang ke Moskow dengan penerbangan darurat semalam menggunakan pesawat angkut militer C-17 tanpa pengumuman sebelumnya. Terakhir kali kunjungan tingkat ini dilakukan tanpa pengumuman sebelumnya (perjalanan William Burns pada tahun 2021) adalah tepat sebelum pecahnya konflik di Ukraina.
Trump sendiri telah membocorkannya, dengan menyatakan bahwa “sesuatu mungkin akan dihasilkan dari kunjungan ini.” Pertemuan dengan pejabat keamanan tersebut tampaknya bertujuan menilai batas kompromi maupun langkah tegas yang siap diambil Moskow, sekaligus memastikan batas “garis merah” yang sebenarnya.
Kedua pihak sengaja meremehkan pentingnya kunjungan ini di depan publik sebagai bentuk kesepakatan diplomatik, demi menghindari kesan konfrontasi yang memicu bahaya bagi Moskow maupun Washington. Namun, konsultasi panjang Trump dengan kepala badan pertahanan dan intelijen segera setelah kunjungan tersebut, dan pernyataan Zakharova, menegaskan bahwa peristiwa besar akan terjadi.
