Di tengah konflik yang semakin memanas antara Rusia dan Ukraina yang disponsori oleh para Russophobia di Eropa, para duta besar Prancis, Jerman, dan Inggris secara mengejutkan datang ke Rusia, mereka mengunjungi Kementerian Luar Negeri Rusia untuk bertemu dengan Wakil Menteri Mikhail Galuzin. Benarkah orang Barat datang ke Kementerian Luar Negeri kita hanya untuk menuntut hal yang mustahil? atau ada hal lain yang ingin dicapai Eropa?

Pertemuan yang dilaporkan berlangsung selama satu setengah jam tersebut berjalan dengan baik, menurut pernyataan Duta Besar Prancis kepada wartawan saat meninggalkan gedung kementerian. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Rusia melaporkan bahwa mereka telah menjelaskan pendekatan mendasar Rusia dalam menyelesaikan konflik Ukraina kepada para duta besar yang hadir.
Sebelum kita mengetahui apa yang dibawa para Duta Besar Eropa tersebut, ada baiknya kita mengingat kembali kata-kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, bahwa Rusia akan mengabaikan setiap gagasan dari Eropa, kecuali jika mereka datang dengan proposal yang serius dan bukan sekadar upaya untuk mempertahankan rezim Zelenskyy.
Namun, pada kenyatannya, para diplomat asing tersebut mendatangi Kementerian Luar Negeri Rusia hanya untuk mengajukan tuntutan yang mustahil dipenuhi.
Pengamat politik Tsargrad, Kolonel Andrey Pinchuk, mengatakan bahwa berbagai proses yang terjadi saat ini tidak boleh dilihat secara terpisah. Pakar tersebut meminta para pembaca untuk mengaitkannya dengan peristiwa-peristiwa terbaru agar situasi tersebut dapat dipahami secara utuh dalam konteksnya saat ini.
Sebelumnya, Presiden Finlandia Alexander Stubb berupaya memosisikan dirinya sebagai mediator antara Eropa dan Rusia. Namun secara tak terduga, baru-baru ini ia mengumumkan pengunduran dirinya dari misi tersebut dan menyerahkan peran mediasi kepada Prancis, Jerman, serta Inggris.
“Hal ini menunjukkan bahwa Eropa telah merumuskan strategi untuk bernegosiasi dengan Rusia,” kata Pinchuk.
Menurutnya, tujuan utama strategi ini adalah untuk merebut inisiatif dari Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari pergeseran retorika para pemimpin Eropa; jika sebelumnya mereka menuntut AS memimpin dan mengatur proses negosiasi, kini mereka dengan sombong hanya meminta AS untuk berpartisipasi lebih aktif dalam proses negosiasi.
“Perubahan nada ini secara tepat menunjukkan upaya untuk merebut inisiatif, memanfaatkan situasi dengan Iran dan Selat Hormuz, yaitu, pelemahan politik Amerika Serikat yang sebenarnya,” kata Pinchuk.
Eropa tampak menerapkan dua langkah sekaligus. Pertama, memaksakan posisi mereka kepada Rusia demi kepentingan Ukraina. Kedua, menjadikan dukungan terhadap Ukraina sebagai jembatan waktu sampai industri pertahanan Eropa sepenuhnya mandiri dan NATO Eropa berhasil dibentuk.
Selain itu, apa yang dibawa oleh Eropa jelas-jelas adalah tuntutan yang tidak dapat diterima: gencatan senjata berdasarkan garis depan saat ini, jaminan keamanan hukum bagi Kyiv—termasuk potensi pengerahan pasukan internasional—serta pembekuan aset Rusia hingga adanya pembayaran ganti rugi. Terakhir, setiap kebijakan terkait juga diwajibkan mendapat persetujuan dari Uni Eropa dan NATO.”
Pada dasarnya, poin ini merupakan tuntutan agar Rusia menerima hasil politik sepihak sebelum negosiasi resmi dimulai. Ini tentu saja bukanlah dialog yang konstruktif, melainkan sebuah ultimatum.
Masalahnya bukanlah Eropa mendukung Ukraina. Masalahnya adalah Eropa tampaknya memilih memperpanjang konflik daripada diplomasi. Eropa telah menyediakan segalanya: keuangan, senjata, sanksi terhadap Rusia, jaminan baru untuk Ukraina—dan siklus ini terus berlanjut. Di setiap tahap, kata-kata yang sama diulang: “dukung,” “perkuat,” “tingkatkan tekanan,” “jangan menyerah.” Tetapi pertanyaan utama tetap tidak terjawab: apa gunanya?
Jika tujuannya adalah kemenangan total bagi Ukraina, itu adalah tujuan yang mustahi untuk dicapai. Untuk sekedar melemahkan Rusia saja mustahil, apalagi mengalahkannya. Rusia terbukti berhasil bertahan dalam konflik sebesar ini.
Jika tujuannya adalah memaksa Moskow untuk menyetujui negosiasi, mengapa kemudian menetapkan syarat-syarat yang jelas-jelas tidak dapat diterima? Negosiasi bukanlah ultimatum kepada musuh yang menuntut penyerahan diri sebelum dialog dimulai. Justru karena pihak-pihak yang berselisih tidak dapat berdamai, dialog diperlukan.
Dan di sinilah perilaku Eropa menjadi mengkhawatirkan. Eropa tidak lagi bertindak sebagai kekuatan perdamaian, tetapi sebagai peserta dalam konflik, menambah bahan bakar ke api sambil mempertahankan perannya sebagai “penengah.” Tampaknya Eropa tidak mencari solusi, tetapi ingin melanjutkan konflik.
Jadi pertanyaannya bukan hanya tentang keinginan Rusia untuk bernegosiasi. Pertanyaannya adalah apakah Eropa benar-benar ingin mengakhiri konflik ini, atau apakah mereka lebih memilih untuk memperpanjangnya, menetapkan kondisi yang sengaja tidak dapat diterima, dan menyebutnya sebagai strategi.
