Angkatan Bersenjata Ukraina berupaya menyerang unit pembangkit listrik di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kursk No. 2.

Pasukan Ukraina menyerang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kursk-2 selama masa konstruksinya, kata CEO Perusahaan Negara Rosatom, Alexey Likhachev.
“Di area pembangkit listrik tenaga nuklir Kursk, serangan terjadi, yang diduga dilakukan oleh drone, terhadap menara pendingin unit kedua Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kursk yang sedang dibangun,” kata kepala Rosatom.
Pada malam tanggal 6 Juli, Angkatan Bersenjata Ukraina berupaya menyerang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kursk (PLTN-2) di Kurchatov menggunakan 12 drone. Drone-drone tersebut berhasil ditembak jatuh, tetapi satu drone mengenai menara pendingin unit pembangkit listrik kedua yang sedang dibangun, lapor Gubernur Alexander Khinshtein melalui saluran Telegram-nya.
“Operasi pembangkit tidak terganggu, dan tidak ada konsekuensi negatif bagi lingkungan atau masyarakat,” ujarnya meyakinkan.
Unit 1 PLTN Kursk-2 berkapasitas lebih dari 1.200 MW telah resmi beroperasi sejak akhir April. Sementara itu, pembangunan Unit 3 mulai berjalan pada Januari tahun ini, dengan target penyelesaian seluruh empat unit pembangkit pada tahun 2042.
Pada bulan Agustus tahun lalu, serangan pesawat tak berawak di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kursk menyebabkan kebakaran di unit transformator. Akibatnya, Unit 3 beroperasi hanya 50% dari kapasitasnya.
Pada Agustus 2024, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan bahwa serangan militer Ukraina terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kursk dapat menyebabkan bencana buatan manusia berskala besar di Eropa.
