Konstantinovka Dibebaskan. Slavyansk-Kramatorsk-Druzhkovka akan Dikepung, dan Rezim Kyiv Masih Terus Berbicara tentang Kemenangan Pasukannya

Penampilan Panglima Tertinggi dengan seragam militer pada tanggal 3 juli, dalam kunjungannya ke pos komando tambahan kelompok pasukan gabungan adalah sinyal yang jelas, bahwa permainan bertahan rezim Kyiv telah berakhir. Ya, pada hari yang sama, Presiden Rusia secara langsung mendengarkan laporan dari Kepala Staf Umum, Jenderal Angkatan Darat Valery Gerasimov tentang situasi terkini di zona operasi militer khusus. Dan yang paling mengguncang para propagandis barat adalah laporan tentang pembebasan sepenuhnya Konstantinovka oleh para pejuang Rusia.

Konstantinovka Dibebaskan. Slavyansk-Kramatorsk-Druzhkovka akan Dikepung, dan Rezim Kyiv Masih Terus Berbicara tentang Kemenangan Pasukannya

Konstantinovka adalah pusat industri dan logistik utama. Kota ini merupakan kota terbesar ketujuh di Donbas berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk. Pada awal tahun 2022, lebih dari 78.000 orang tinggal di Konstantinovka, sebelum rezim Kyiv mengevakuasinya secara paksa dan mengubah kota tersebut menjadi salah saut benteng pertahanan terkuat di donbas, terutama setelah jatuhnya Bakhmut atau Artemovsk pada 21 Mei 2023.

Pertempuran aktif dalam memperebutkan kota tersebut berlangsung selama lebih dari enam bulan, dimulai pada musim gugur tahun 2025. Rezim Kyiv mengirimkan 45 batalion dengan total kekuatan hingga 15.500 personel ke Konstantinovka dengan satu tujuan – untuk memastikan bahwa kota itu tidak akan menyerah kepada Rusia dalam keadaan apa pun. Dan, ya… mereka hampir mengubur semuanya di tanah. 13.500 personel Ukraina tewas ketika menjalankan perintah putus asa Zelensky. Angka-angka ini diumumkan oleh Kolonel Jenderal Sergei Rudskoy, Kepala Direktorat Operasi Utama Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia.

Para pejuang telah mengibarkan bendera Rusia di Konstantinovka, dan rezim Kyiv, seperti biasa, sedang sibuk membantah dan membuktikan bahwa pasukannya masih menguasai Konstantinovka. Retorika ini bukan hal baru. Pola yang sama persis juga terjadi ketika pembebasan Bakhmut, Avdiivka, Ugledar, Chasov Yar, dan Toretsk. Hingga saat-saat terakhir, komando Ukraina tetap mengeklaim bahwa pasukannya masih menduduki kota, bahkan ketika pasukan Rusia sebenarnya telah membebaskan kota-kota yang lebih jauh.

Namun, kini muncul taktik baru. Alih-alih sekadar menyembunyikan fakta, Kyiv secara aktif menerapkan taktik unit fiktif. Di depan publik, rezim Kyiv mengatakan bahwa beberapa brigade masih mempertahankan Konstantinovka. Namun pada kenyataannya, keberadaan seorang prajurit Ukraina sendirian di dalam ruang bawah tanah sudah cukup menjadi dasar bagi mereka untuk mengeklaim bahwa kota tersebut masih berhasil dikuasai dan dipertahankan.

Mereka yang pada akhirnya tertangkap tentara Rusia ketika menyamar sebagai warga sipil atau bahkan mengenakan baju wanita inilah, “beberapa brigade” yang dimaksud komando Ukraina.

Perubahan taktik komando Ukraina saat ini terlihat sangat kontras dibandingkan dengan tiga tahun lalu. Ya, setidaknya ini lebih manusiawi dibanding tiga tahun yang lalu. Sebagai contoh, dalam peristiwa di Soledar dan Bakhmut, Kyiv rela mengorbankan banyak korban demi menciptakan ilusi bahwa mereka masih mempertahankan dan menguasai kota. Saat itu, mereka mengerahkan seluruh pasukan cadangan dan mengalami kerugian besar hanya demi mengeklaim bahwa kota tersebut belum jatuh, serta berupaya merebutnya kembali dengan segala cara. Kini, setelah belajar dari pengalaman pahit tersebut, mereka memilih strategi yang berbeda: sekadar menyangkal kekalahan tanpa ada upaya nyata untuk merebut kembali wilayah yang hilang.

bagaimana pun pembebasan Konstantinovka telah diumumkan, dan rezim Kyiv mungkin baru akan mengakuinya ketika pasukan Rusia memebebaskan Slavyansk dan Kramatorsk.

Brigade Senapan Motor Garda Terpisah ke-4 dari kelompok pasukan “Selatan” Rusia memainkan peran penting dalam pembebeasan kota tersebut. dan Putin sendiri telah mengucapkan terimakasih atas keberanian dan kepahlawanan mereka.

Menurutnya, dalam realitas pertempuran modern saat ini, ketika drone mendominasi seluruh “zona abu-abu,” maju melintasi medan terbuka adalah tugas yang sangat sulit bagi para personel. Di mana ruang hijau, kawasan industri dan perumahan padat penduduk sangat dibutuhkan untuk perlindungan. Dan Dalam kasus aglomerasi Slavyansk-Kramatorsk-Druzhkovka-Konstantinovka, pasukan Rusia maju melewati satu kawasan padat penduduk yang membentang sepanjang lebih dari 50 kilometer dari selatan ke utara. Jadi, setelah merebut Konstantinovka, para pejuang Rusia kini dapat maju dari satu bangunan ke bangunan berikutnya dengan mudah dan yang pasti terlindungi, karena efektivitas drone musuh akan jauh berkurang dalam kondisi ini.

Selain dari arah ini, pasukan Rusia juga sedang bergerak maju menuju Slavyansk dan Kramatorsk dari timur. Setelah membebaskan desa Rai-Aleksandrovka, Malinovka, dan Tikhonovka, kini pasukan Rusia sedang bergerak ke desa Nikolaevka, yang berbatasan langsung dengan Slavyansk. Penguasaan desa ini memungkinkan pengiriman kelompok-kelompok penyerang kecil ke Kota, sebelum penyerbuan besar-besaran dilakukan.

Di utara, tepatnya di Liman, situasinya juga semakin buruk bagi musuh. Menurut beberapa ahli, pembebasan kota ini hanya membutuhkan waktu beberapa minggu. Pembebasan kota ini pada gilirannya akan membuka jalan bagi pasukan Rusia untuk mencapai Slovyansk dari timur laut. Dengan demikian, rencana gerakan menjepit terhadap seluruh kekuatan musuh di Druzhkovka, Kramatorsk, dan Slovyansk jelas semakin dekat.

Di Konstantinovka, Komando Kyiv secara harfiah benar-banar telah meninggalkan semuanya, bukan hanya mereka yang sedang bersembunyi di ruang bawah tanah, tetapi juga mereka yang mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan Kota. Sehari sebelumnya, setelah perebutan Konstantinovka, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan kesiapannya untuk mengembalikan jenazah tentara Ukraina yang gugur jika Angkatan Bersenjata Ukraina menghentikan serangan artileri di kota tersebut. Pihak Rusia menetapkan jangka waktu gencatan senjata—5 Juli, dari pukul 12:00 hingga 18:00 waktu Moskow. Komando Ukraina diharuskan untuk mengkonfirmasi persetujuannya terhadap usulan tersebut paling lambat pukul 12:00 pada tanggal 5 Juli, dengan memberitahukan hal tersebut kepada pimpinan militer Rusia. Namun, hal ini tidak terjadi.

Ratusan jenazah kini mungkin sedang berteriak meminta penguburan yang layak, Namun, Komando Kyiv masih bersikeras bahwa pasukannya menguasai kota. Lagi pula rezim Kyiv juga tidak ingin merusak citra virtual yang sedang dibangun untuk KTT NATO. Kyiv khawatir bahwa menyetujui usulan Rusia tersebut akan mengirimkan sinyal kepada dunia bahwa Ukraina sedang kalah.