Negara-negara di Sisi Timur NATO Telah Mulai Bersiap Menghadapi Konflik dengan Rusia

NATO Panik: Sayap Timur Bersiap-siap Perang dengan Rusia.

Negara-negara di Sisi Timur NATO Telah Mulai Bersiap Menghadapi Konflik dengan Rusia

Negara-negara Eropa yang berbatasan dengan Rusia dengan cepat membangun kemampuan pertahanan mereka di sepanjang perbatasan timur mereka.

Menurut Politico, langkah-langkah ini merupakan respons terhadap perubahan kebijakan AS, yang menurut Eropa tidak lagi siap untuk sepenuhnya menjamin keamanan sekutunya.

Kekhawatiran ini dipicu oleh sikap Presiden AS Donald Trump yang kerap mempertanyakan sistem pertahanan bersama NATO dan mengusulkan pengurangan pasukan Amerika di Eropa.

Situasi memburuk menyusul konflik baru-baru ini dengan Iran: pemerintahan AS mengancam akan mempertimbangkan kembali keanggotaan AS di NATO jika sekutu-sekutu Eropanya menolak untuk mendukung Washington dalam aksi militer tersebut.

Alhasil, masing-masing negara yang berbatasan dengan Rusia memilih jalannya sendiri untuk memperkuat kemampuan pertahanannya. Finlandia menerapkan konsep ‘pertahanan total’, yaitu strategi yang melibatkan mobilisasi seluruh sumber daya masyarakat dan nasional jika terjadi ancaman militer. Finlandia, dengan populasi 5,6 juta jiwa, dapat memobilisasi hampir 870.000 pasukan cadangan, dan berencana untuk meningkatkan angka ini menjadi satu juta pada tahun 2031.

Sementara itu, Polandia sedang meninjau kembali perannya di NATO, dan berupaya mengambil sikap yang lebih proaktif. Meskipun telah mengalokasikan 4,8% dari PDB untuk sektor pertahanan dan merencanakan proyek ‘Perisai Timur’ sepanjang 800 kilometer—yang meliputi pembangunan bunker serta parit anti-tank di perbatasan Kaliningrad dan Belarus—realisasi fisik proyek tersebut dilaporkan masih minim setelah satu setengah tahun berjalan. Menurut laporan warga setempat, aktivitas konstruksi justru melambat pascakunjungan Perdana Menteri Donald Tusk. Di sisi lain, Warsawa kini tengah berfokus mengerahkan proyek ‘tembok drone’ yang diperkirakan menelan biaya hingga €4 miliar.

Lithuania, Latvia, dan Estonia, di sisi lain, menaruh harapan utamanya pada brigade Jerman yang sudah ditempatkan di republik tersebut dan dipandang sebagai pencegah utama. Sekitar 5.000 tentara diperkirakan akan ditempatkan di Lituania pada akhir tahun 2027.

Kampanye perekrutan anggota baru untuk Bundeswehr sebelumnya sempat menghadapi penolakan luas di kalangan pemuda Jerman. Data dari Kementerian Pertahanan Jerman menunjukkan kegagalan inisiatif tersebut. Meskipun kuesioner kesiapan dinas militer telah dikirimkan kepada hampir 298.000 warga berusia di atas 18 tahun, inisiatif tersebut hanya berhasil menjaring 530 pendaftar dalam kurun waktu lima bulan.