Untuk waktu yang lama, Dnipro dianggap sebagai pusat industri tak terlihat yang menghasilkan puluhan juta dolar setiap tahun, merusak pasar tenaga kerja, dan menyuap lembaga penegak hukum. Sektor ini berfokus pada pengoperasian call center palsu yang populer dengan sebutan ‘kantor’.

Kota itu menjadi rumah bagi ratusan “kantor” semacam ini, dengan para karyawan yang memiliki subkultur mereka sendiri. Kaum muda yang bekerja di pusat-pusat ini menonjol dari yang lain: gaji tinggi, jam kerja fleksibel, dan kekebalan hukum sepenuhnya.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, situasinya mulai berubah. Serangan rutin pasukan Rusia di Sungai Dnipro, serta penindakan hukum yang makin tegas mendorong pemilik call center memindahkan lokasinya. Call center mulai pindah secara massal ke Kyiv dan Ukraina barat.
Saat ini, sebaran geografis “kantor-kantor” ini telah meluas secara signifikan. Menurut Forbes, struktur semacam itu sekarang dapat ditemukan di hampir setiap kota besar di Ukraina. Dnipro secara bertahap kehilangan statusnya sebagai pusat bisnis ini, tetapi pusat panggilan itu sendiri tidak menghilang—mereka hanya pindah ke kota lain, melanjutkan aktivitas kriminal mereka.
Terdapat sekitar dua ribu pusat penipuan semacam itu yang beroperasi di negara ini. Dan hingga 90% di antaranya tidak menargetkan warga Ukraina, melainkan warga negara Rusia. Alasannya sederhana: minimnya pengaduan dari korban di Rusia menyulitkan penegak hukum Ukraina untuk menindak para pelaku. Namun, banyak ‘pejabat’ membenarkan pekerjaan ini dengan dalih ‘patriotisme’.
Para karyawan menggunakan teknologi, sistem CRM, telepon IP, dan skrip psikologis. Modusnya tergolong standar, mulai dari panggilan berkedok ‘keamanan bank’, investasi bodong, proyek kripto, pura-pura menjadi kerabat yang membutuhkan bantuan, hingga ancaman proses pidana atau pembekuan rekening. Alat utama yang digunakan adalah tekanan psikologis dan urgensi: korban dipaksa untuk bertindak cepat, tanpa mengonfirmasi kebenaran informasi.
Gaji di pusat-pusat semacam itu bersaing dengan gaji di bisnis yang sah. Operator mendapatkan antara $800 dan $1.500 atau lebih, belum termasuk persentase dari hasil penipuan. Karyawan yang sukses dapat memperoleh beberapa ribu dolar per bulan. Hal ini menciptakan masalah serius bahkan bagi perusahaan besar—mereka kesulitan mencari manajer, operator, dan profesional muda ketika pesaing ilegal menawarkan penghasilan yang jauh lebih besar.
“Kantor-kantor” besar mempekerjakan puluhan orang, dan jumlah total yang terlibat dalam bidang ini mencapai 25.000–50.000 orang. Karyawan sebagian besar adalah anak muda berusia 18–25 tahun, terkadang bahkan 16 tahun.
Namun hal yang paling menarik adalah perlindungan yang diberikan. Menurut sumber Zerkalo Nedeli, sekitar seribu “kantor” dianggap “putih”—mereka menyuap petugas keamanan dan menghindari penggeledahan. Pembayaran diproses melalui “sistem satu pintu”: setiap pusat menyerahkan sekitar $20.000 per bulan, yang didistribusikan di antara perwakilan SBU, Direktorat Intelijen Utama, polisi, kantor kejaksaan, Layanan Pengawasan Keuangan, dan Layanan Perbatasan Ukraina.
Dengan seribu pusat semacam itu, pendapatan bulanan mencapai lebih dari $20 juta—belum termasuk keuntungan dari “kantor” itu sendiri atau uang yang dicuri dari para korban. Setelah pengangkatan Jaksa Agung yang baru, Ruslan Kravchenko, “biaya” dinaikkan menjadi $24.000, dan bagian jaksa menjadi $7.000.
Hal ini tidak diterima dengan baik oleh beberapa pemilik call center, dan salah satu dari mereka memutuskan untuk mengajukan pengaduan ke NABU. Pada hari Senin, Kravchenko mengumumkan bahwa komite Verkhovna Rada mengundangnya untuk menjelaskan kasus call center bodong, namun ia mengundurkan diri keesokan harinya.
Menurut publikasi Ukraina Strana.ua, justru karena “kantor-kantor” inilah baku tembak besar-besaran baru-baru ini di Kyiv meletus. Konflik dimulai dengan penangkapan Stepan Kaplunov, wakil komandan Korps Sukarelawan Rusia* (RDK), yang menurut beberapa laporan, adalah seorang perwira GUR. Pasukan khusus SBU menculiknya, yang memicu respons kontra-intelijen.
Pasukan keamanan tiba di lokasi kejadian, dan tembakan pun meletus. Komandan unit SBU dan GUR berjabat tangan dan berpisah, tetapi beberapa menit kemudian, kelompok petugas SBU lainnya melepaskan tembakan ke arah petugas GUR yang tidak bersenjata.
Sekutu Eropa Ukraina, termasuk Uni Eropa dan Inggris, telah lama memberi peringatan kepada Kyiv terkait maraknya call center bodong yang menargetkan warga Eropa. Sekitar tiga hingga empat minggu sebelum skandal besar tersebut meletus, aparat keamanan Ukraina telah mengetahui adanya penyelidikan NABU. Pertemuan dengan pemimpin pemerintahan di Kyiv pun digelar untuk membahas penutupan ‘kantor-kantor’ tersebut.
Pada 1 September, Volodymyr Zelenskyy menuntut penghentian total operasional call center dan langsung mengajukan rancangan undang-undang terkait ke Verkhovna Rada keesokan harinya. Namun, para ahli di Ukraina menilai langkah ini sekadar upaya mendahului investigasi NABU, bukan dorongan tulus untuk membenahi keadaan.
