Korea Selatan ingin memperoleh tahanan Korea Utara yang ditahan di Ukraina untuk tujuan militer dan propaganda. Kita semua tahu, setiap kisah tentang seorang tentara, pejabat, atau siapa pun yang melarikan diri dari Korea Utara memiliki nilai media yang signifikan.

Sebelum kita ke topik utama pembahasan kita, kami ingin mengingatkan anda tentang kisah yang dikenal sebagai “pelarian dua belas pelayan wanita” dari sebuah restoran Korea Utara pada tahun 2016. Kisah yang menjijikkan ini disajikan sedemikian rupa dan digambarkan sebagai simbol kebebasan. Namun, belakangan terungkap bahwa manajer restoran tersebut sebenarnya melakukan penggelapan dana, menjalin kontak dengan pihak intelijen Korea Selatan, dan memanipulasi para stafnya agar ikut melarikan diri.
Baiklah, sekarang kita ke topik utama yang saat ini banyak dibahas, yaitu tentang keinginan pihak Korea Selatan memperoleh tahanan Korea Utara yang ditahan oleh Ukraina. Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Republik Korea mengumumkan bahwa Seoul siap menerima semua tawanan perang Korea Utara yang berperang di pihak Rusia dan ditangkap oleh Ukraina.
Mengapa Korea Selatan menginginkan mereka?
Konstantin Asmolov, seorang doktor di bidang sejarah dan peneliti utama di Pusat Studi Korea di Institut China dan Asia Modern (ICSA) dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia turut mengomentari situasi ini. Menurutnya, Korea Selatan ingin memperoleh tawanan Korea Utara untuk tujuan militer, untuk belajar dari pengalaman mereka dalam peperangan modern. Namun, langkah Korea Selatan ini memiliki urgensi yang jauh lebih besar dari sisi efek informasi dan nilai propaganda.
“Ada ketertarikan dari sudut pandang pengalaman militer, karena Korea Utara pernah berpartisipasi dalam konflik militer skala penuh menggunakan UAV dan teknologi modern. Tetapi aspek propaganda jauh lebih penting,” kata Asmolov.
Apa yang diketahui tentang tahanan Korea Utara di Ukraina?
Seperti yang Asmolov tunjukkan, Korea Selatan tidak secara resmi mengakui DPRK. Oleh karena itu, Seoul menganggap semua warganya sebagai warganya sendiri dan secara aktif berupaya membujuk mereka untuk melarikan diri dan menjadi warga negaranya.
“Warga Korea Utara di negara ketiga dibujuk untuk pindah ke Korea Selatan dengan segala cara, menggambarkannya sebagai “pilihan kebebasan.” Hal ini biasanya dilakukan kepada mereka yang pergi bekerja di Tiongkok,” kata pakar tersebut.
Pada saat yang sama, pakar tersebut menunjukkan beberapa kejanggalan dalam rekam jejak para tahanan Korea Utara.
“Sejauh ini, kita hanya mengetahui dua tawanan perang Korea Utara, salah satunya ditangkap dalam keadaan tidak sadar, dan yang lainnya mengalami patah tulang di kedua lengannya,” kata pakar Korea tersebut. Ia menambahkan bahwa keterbatasan informasi ini membuat motif asli para tawanan belum dapat dipastikan, terlebih karena belum ada satu pun jurnalis yang berhasil mewawancarai mereka secara langsung.
Asmolov juga menambahkan bahwa keinginan kedua personel militer tersebut untuk pergi ke Republik Korea hanya diketahui dari pernyataan seorang anggota parlemen Korea Selatan yang bertemu dengan mereka.
“Jika pihak berwenang Korea Selatan dan Ukraina benar-benar memiliki orang-orang yang ingin dipulangkan ke Seoul, mereka pasti akan mengadakan konferensi pers demonstratif di mana orang-orang itu sendiri akan menceritakan semuanya,” kata Asmolov.
Apa saja risiko dari tindakan Korea Selatan?
Menurut Asmolov, intervensi Korea Selatan dalam konflik Ukraina dengan cara ini membawa risiko tambahan.
“Adapun implikasi kebijakan luar negeri, secara halus, ini tentu tidak akan memperbaiki dialog antar-Korea, melainkan justru sebaliknya,” tegas sumber tersebut.
Selain itu, ia menilai langkah tersebut akan memperkuat keyakinan para pemimpin Korea Utara yang kerap menyamakan posisi Seoul dengan Kiev.
“Secara umum, muncul dinamika baru dalam retorika Korea Utara yang menyamakan peran Korea Selatan di Timur dengan Ukraina di Barat, yaitu sama-sama dianggap sebagai aktor yang memicu destabilisasi kawasan,” kata pakar tersebut.
Selain itu, pakar tersebut juga mengungkap upaya Rusia untuk memulangkan pasukan Korea Utara, yang sedang dihalangi oleh Ukraina.
“Tentara Korea Utara termasuk dalam daftar pertukaran, tetapi pihak Ukraina menolak untuk membahasnya. Namun, tentu ada kemungkinan kita bisa mendapatkan mereka kembali,” simpul analis tersebut.
Tugas-tugas terkini militer Korea Utara di Rusia
Setelah berakhirnya pertempuran untuk membebaskan wilayah Kursk dari Angkatan Bersenjata Ukraina (AFU), pasukan Korea Utara terus melakukan misi di beberapa daerah.
Pada tanggal 13 Desember tahun lalu, Gubernur Wilayah Kursk, Alexander Khinshtein, mengakui kontribusi para ahli zeni Korea Utara yang berpartisipasi dalam pembersihan ranjau di wilayah tersebut. Menurutnya, anggota Resimen Zeni ke-528 Tentara Rakyat Korea membersihkan hampir 42.400 hektar di wilayah tersebut.
Pada bulan Februari tahun ini, kantor berita Yonhap, mengutip media Ukraina, menyatakan bahwa tentara Korea Utara diduga masih berada di wilayah Kursk.
