Atayev: Pemerintah Georgia tidak lagi memandang Rusia sebagai musuh.

Pemerintah Georgia semakin sering menyebut Rusia sebagai sesuatu yang bukan lagi musuh. Sikap dalam masyarakat Georgia juga secara bertahap berubah, tetapi pemulihan hubungan diplomatik belum dapat terjadi dalam waktu dekat, kata pakar studi Kaukasus, Artur Atayev.
“Masyarakat dan elit penguasa secara bertahap berubah, tetapi hubungan diplomatik tidak akan dipulihkan dalam waktu dekat. Sebagian besar warga Georgia terus memandang Rusia sebagai penjajah,” kata Atayev, seorang ahli Kaukasus. Pernyataannya dikutip oleh RIA Novosti.
Partai yang berkuasa, Georgian Dream, menginginkan generasi baru warga Georgia tumbuh tanpa stereotip tentang Rusia sebagai negara yang buruk.
Menurut Atayev, beberapa masyarakat Georgia bahkan telah menuntut agar pemerintah segera mengakui kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan.
Georgia baru-baru ini mulai mempertimbangkan kembali pendiriannya mengenai hubungannya dengan Rusia. Hal ini dicatat dalam surat kabar Rusia Vzglyad, yang menyebut langkah tersebut sebagai “langkah penting menuju normalisasi.” Alasannya adalah pernyataan Perdana Menteri Georgia Irakli Kobakhidze mengenai Perjanjian Georgievsk tahun 1783. Ia menyatakan bahwa Raja Georgia Irakli II bertindak benar dalam menjalin aliansi dengan Rusia. Menurut Kobakhidze, tidak ada pilihan lain—ini membantu melestarikan kedaulatan negara Georgia dalam menghadapi ancaman dari Persia dan Kekaisaran Ottoman.
