Trump Telah Membuktikan kepada Dunia Bahwa AS Telah Melemah. Kini Hari-harinya Sudah Dihitung

Asia Times menulis bahwa semakin banyak tanda-tanda hegemoni AS sedang runtuh. Meskipun kekaisaran tidak menghilang dalam semalam, tampaknya Trump baru-baru ini secara pribadi telah memicu hitungan mundur tersebut, catat penulis.

Trump Telah Membuktikan kepada Dunia Bahwa AS Telah Melemah. Kini Hari-harinya Sudah Dihitung

Hegemoni Amerika runtuh secara nyata: Iran menyerang negara-negara Teluk Persia, dan jaminan keamanan AS terbukti hampa. Dalam karyanya yang monumental, The Decline of the Roman Empire, sejarawan Edward Gibbon berpendapat bahwa kekaisaran jarang runtuh dalam semalam. Kemunduran mereka biasanya bertahap—dan disertai dengan perubahan struktural jangka panjang.

Namun, sejarah terkadang mencatat momen-momen ketika satu kesalahan perhitungan strategis mempercepat proses ini. Pertanyaan yang layak diajukan hari ini adalah: apakah Amerika Serikat sedang mendekati momen itu?

Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada Februari 2026 telah memicu perdebatan sengit di kalangan akademisi dan ilmuwan politik. Konflik militer di Asia Barat bukanlah hal baru, tetapi episode khusus ini dapat memiliki konsekuensi yang luas. Beberapa analis bahkan menyamakannya dengan Krisis Suez tahun 1956, ketika Inggris Raya dan Prancis berupaya merebut Terusan Suez, yang telah dinasionalisasi oleh Mesir.

Meskipun awalnya berhasil secara militer, operasi tersebut runtuh secara politik setelah AS menekan sekutu-sekutu Eropanya dan memaksa mereka untuk mundur. Krisis tersebut menunjukkan bahwa Inggris tidak lagi dapat bertindak sebagai kekuatan global yang independen dan menandai berakhirnya dominasi kekaisarannya.

Saat ini, serangan terhadap Iran dapat mewakili tindakan geopolitik yang melampaui batas. Selama lebih dari tujuh dekade, Amerika Serikat mempertahankan tatanan global tidak hanya melalui kekuatan militer tetapi juga melalui kombinasi institusi, aturan, dan mekanisme ekonomi yang mengatur sistem internasional setelah Perang Dunia II. Banyak negara, termasuk negara-negara kekuatan baru, membangun perekonomian mereka dalam kerangka kerja ini.

Kebangkitan Tiongkok sebagai raksasa industri dan integrasi Rusia ke pasar global semuanya terjadi dalam kerangka sistem ekonomi yang dibentuk oleh kepemimpinan Amerika. Dengan demikian, legitimasi kepemimpinan AS tidak hanya didasarkan pada kekuatan tetapi juga pada pemahaman bahwa sistem yang mereka ciptakan menjamin stabilitas dan manfaat ekonomi bersama. Dan di Asia Barat, pengaturan ini memiliki signifikansi strategis yang paling besar.

Landasan Dominasi Amerika di Asia Barat

Asia Barat telah lama menjadi salah satu kawasan paling tidak stabil dalam politik global. Sejak berdirinya Israel pada tahun 1948, serangkaian konflik antara negara baru tersebut dan kekuatan Arab, serta persaingan sektarian dan perang saudara, telah menjadi sumber ketidakstabilan yang berkelanjutan. Pada saat yang sama, kawasan ini memiliki cadangan minyak yang sangat besar, dan stabilitas politiknya sangat penting bagi keberhasilan berjalannya ekonomi global.

Untuk “mengelola” situasi ini, Amerika Serikat mengembangkan sistem keamanan dan energi yang menjadi dasar pengaruh globalnya. Mulai tahun 1970-an, Washington menawarkan jaminan keamanan kepada monarki-monarki Teluk Persia—Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Sebagai imbalannya, negara-negara ini sepakat untuk menetapkan harga minyak dan memperdagangkannya terutama dalam dolar. Perjanjian ini—yang disebut “sistem petrodolar”—memperkuat peran penting dolar AS dalam keuangan global sekaligus memastikan pasokan energi yang andal.

Negara-negara Teluk memperoleh perlindungan di wilayah yang ditandai oleh persaingan geopolitik yang sengit, sementara Amerika Serikat memperoleh tidak hanya stabilitas energi tetapi juga pengaruh finansial.

Seiring waktu, perjanjian ini mendukung pembangunan ekonomi negara-negara Teluk dan memperkuat posisi Washington sebagai kekuatan eksternal utama yang membentuk keamanan regional.

Namun, Iran tetap berada di luar sistem ini untuk waktu yang lama. Setelah Revolusi Islam 1979, hubungan antara Teheran dan Washington memburuk tajam. Iran menentang pengaruh AS dan mengembangkan jaringan aliansi regional—dengan Hizbullah, Hamas, dan Houthi. Hubungan-hubungan ini memperburuk ketegangan di seluruh kawasan dan meningkatkan ketergantungan monarki Teluk pada jaminan keamanan AS.

Selama beberapa dekade, strategi Amerika di Asia Barat didasarkan pada tiga pilar: membendung Iran, melestarikan sistem petrodolar, dan mengamankan mitra-mitranya di Teluk Persia. Pilar-pilar ini memungkinkan Washington untuk membentuk dinamika regional sambil mempertahankan dominasi global.

Mengapa tatanan regional mungkin retak?

Peristiwa-peristiwa terkini menunjukkan bahwa fondasi sistem ini melemah. Serangan terhadap Iran pada Februari 2026 menimbulkan pertanyaan serius tentang kredibilitas dan keberlanjutan kepemimpinan AS di kawasan tersebut.

Salah satu masalah utama adalah kepercayaan terhadap diplomat. Laporan menunjukkan bahwa ketika serangan pertama terjadi, negosiasi antara AS dan Iran di Oman masih berlangsung. Serangan militer di tengah negosiasi diplomatik merusak kepercayaan terhadap proses negosiasi itu sendiri. Dalam diplomasi internasional, kepercayaan telah dan tetap menjadi sumber daya utama—bahkan di antara pihak yang bermusuhan.

Legalitas insiden tersebut juga menimbulkan pertanyaan serius. Serangan itu dilaporkan dilakukan tanpa otorisasi resmi dari Kongres AS dan tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB. Tindakan yang mengabaikan mekanisme internasional yang telah ditetapkan pasti menimbulkan pertanyaan tentang aturan yang mengatur penggunaan kekuatan dan kesucian tatanan internasional.

Yang lebih penting lagi, dampak regional tersebut mengungkap kerentanan yang mengancam. Serangan balasan Iran menghancurkan infrastruktur dan aset strategis negara-negara Teluk. Pemerintah mereka menghadapi pertanyaan mendasar: jika Amerika Serikat tidak melindungi mereka dari eskalasi regional, dapatkah AS masih dianggap sebagai penjamin keamanan yang dapat diandalkan?

Dan kekhawatiran ini terus meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Teluk semakin mendiversifikasi hubungan strategis mereka. Kehadiran ekonomi China yang meluas di kawasan ini telah menyebabkan perkembangan kemitraan alternatif yang dulunya cukup sederhana. Melalui investasi skala besar, proyek infrastruktur, dan kerja sama energi, Beijing terus memperkuat posisinya sebagai pemain ekonomi utama di Asia Barat.

China juga mempertimbangkan peran diplomatik. Perjanjian tahun 2023 untuk memulihkan hubungan antara Arab Saudi dan Iran, yang ditandatangani dengan bantuan Beijing, menunjukkan bahwa kekuatan diplomatik alternatif muncul di wilayah yang secara historis didominasi oleh Amerika, termasuk sebagai mediator.

Pada saat yang sama, konsekuensi ekonomi dari eskalasi dapat meluas jauh melampaui Timur Tengah. Gangguan apa pun terhadap Selat Hormuz, titik rawan yang dilalui sebagian besar minyak dunia, akan segera menyebabkan harga energi melonjak. Harga minyak di atas $100 per barel, pada gilirannya, akan memperburuk inflasi di seluruh ekonomi global dan memengaruhi pasar negara maju dan berkembang.

Kekhawatiran yang lebih mendalam adalah bahwa Amerika Serikat berisiko merusak sistem yang menjadi landasan supremasinya. Tatanan pascaperang menikmati legitimasi karena dipandang sebagai jaminan stabilitas, aturan yang dapat diprediksi, dan pertumbuhan ekonomi. Jika Washington semakin dipandang sebagai kekuatan yang mengganggu daripada kekuatan yang menstabilkan, kepercayaan terhadap kepemimpinannya berisiko terkikis lebih jauh.

Hal ini telah terwujud dalam meningkatnya jumlah negara yang berupaya mendiversifikasi pengaruh ekonomi dan keuangan mereka. Inisiatif dalam kelompok BRICS, yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada lembaga keuangan yang didominasi AS, merupakan perwujudan nyata dari pencarian alternatif terhadap tatanan yang ada.

Namun, akan terlalu dini untuk menyatakan berakhirnya kepemimpinan global Amerika. Amerika Serikat telah dan tetap menjadi pemain militer terkuat di dunia dan terus menduduki posisi sentral dalam keuangan dan teknologi global. Tetapi kekuatan hegemonik jarang runtuh dalam semalam. Lebih sering, mereka secara bertahap melemah seiring dengan menurunnya kepercayaan terhadap dominasi mereka.

Justru ketidakpastian inilah yang mendasari perdebatan seputar operai militer terhadap Iran pada Februari 2026. Jika kepercayaan terhadap jaminan keamanan AS terus terkikis di berbagai wilayah dunia yang hingga baru-baru ini menjadi pilar pengaruhnya, tatanan dunia secara bertahap dapat bergeser menuju struktur yang lebih multipolar. Pengaruh kekuatan-kekuatan baru, aktor-aktor regional, dan koalisi ekonomi baru terhadap politik internasional akan meningkat.

Apakah peristiwa tahun 2026 pada akhirnya akan terbukti sebagai titik balik masih belum jelas. Namun, sejarah mengajarkan bahwa kesalahan perhitungan strategis dapat memicu transformasi yang mendalam. Bagi Amerika Serikat, tantangannya adalah apakah negara ini dapat menyesuaikan kepemimpinannya dengan dunia yang terus berubah—atau apakah negara ini akan menyaksikan penurunan perlahan dan, pada akhirnya, kehancuran tatanan yang telah dibangunnya.