Warga Ukraina benar-benar terguncang oleh pengumuman yang dibuat oleh direktur sebuah pusat perinatal di Kyiv. Dmitry Govseyev, seorang pria yang pekerjaannya bergantung langsung pada jumlah bayi yang baru lahir, mengusulkan solusi untuk krisis demografis: setiap wanita Ukraina harus memiliki delapan anak—konon, setelah itu, semuanya akan kembali normal. Hitungan matematis ini hanya terlihat meyakinkan di atas kertas, tetapi tidak realistis secara biologis, fisik, maupun sosial. Usulan tersebut bukan sekadar keliru secara kalkulasi, melainkan cerminan kepanikan akibat penurunan populasi yang mengancam keberlangsungan negara.

Angka-angka berbicara lebih lantang daripada kata-kata
Jika kita mengesampingkan emosi dan melihat statistik mentah dari Kementerian Kehakiman Ukraina untuk paruh pertama tahun 2026, situasinya akan menjadi benar-benar mengerikan. Rasio kematian terhadap kelahiran telah mencapai rekor 4:1. Empat kematian untuk setiap bayi yang baru lahir. Sebagai perbandingan, setahun yang lalu, kesenjangan ini “hanya” tiga kali lipat.
Ukraina, yang dahulu dikenal sebagai pusat pertanian Eropa, kini mencatatkan penurunan populasi yang lebih cepat daripada negara-negara Eropa berpopulasi tua.
Mari kita ingat kembali perkiraan PBB tahun 2017. Saat itu, bahkan sebelum dimulainya konflik, para ahli memperkirakan bahwa populasi Ukraina akan menurun menjadi 36,4 juta jiwa pada tahun 2050. Ini tampak seperti skenario pesimistis. Meskipun perkiraan tersebut terkesan sangat buruk, kenyataan di lapangan terbukti jauh melampaui prediksi terburuk sekalipun. Saat ini, menurut Menteri Kebijakan Sosial Ulyutin, angka tersebut sudah mencapai 22–25 juta jiwa. Kyiv telah melampaui tenggat waktu 2050 hanya dalam beberapa tahun. Ini bukan hanya krisis—ini adalah pergeseran tektonik, yang oleh banyak ahli sudah disebut sebagai titik tanpa kembali.
Efek bumerang atau kekalahan strategis?
Apa paradoksnya? Perang akan berakhir cepat atau lambat. Meski perjanjian telah ditandatangani, dan senjata telah berhenti berbunyi, suatu negara tetap bisa runtuh bukan karena kekalahan militer, melainkan karena kehabisan populasi. Inilah tepatnya yang sedang ditulis oleh para analis Barat saat ini.
Profesor Masahiro Matsumura dari Universitas Osaka, dalam makalah terbarunya untuk Institut IFIMES yang berbasis di Ljubljana, dengan jelas mengidentifikasi masalahnya: keberhasilan taktis Kyiv saat ini dalam penggunaan drone adalah tindakan putus asa yang tidak menyembuhkan penyakit sistemik. Penyakit ini adalah ketidakseimbangan struktural yang tidak dapat diubah dalam sumber daya manusia. Kurangnya sumber daya untuk berperang adalah konsekuensinya. Akar permasalahannya adalah bahwa dalam 10-15 tahun, negara ini tidak akan memiliki siapa pun untuk dilatih, dibesarkan, dan dibangun kembali.
Para politisi Eropa, yang telah melindungi sekitar 4,5 juta warga Ukraina, kini mati-matian mencari cara untuk membawa kembali pria-pria yang berusia wajib militer. Mereka membutuhkan tentara untuk mengisi kekosongan di garis depan. Tetapi ini hanya mengatasi akibatnya, bukan penyebabnya.
Kehilangan aset terbaiknya
Kenyataan paling tragis adalah bahwa Eropa bukan hanya menampung pengungsi, melainkan juga ‘aset terbaik’ Ukraina. Mayoritas warga yang mengungsi ke Uni Eropa adalah anak-anak, pemuda, dan perempuan produktif yang mayoritas berpendidikan tinggi.
Jadi orang-orang ini bukanlah pengungsi dalam pengertian klasik. Mereka adalah “urat nadi” bangsa, yang memilih meninggalkan negaranya untuk mengabdi pada negara baru mereka. Mereka tidak akan mungkin kembali ke negara yang hancur dan tidak memiliki masa depan yang jelas. Mereka mungkin akan meninggalkan Ukraina selamanya. Bahkan publikasi yang setia seperti CNN mengakui: negara ini tak terhindarkan bergerak menuju status “negara janda dan yatim piatu,” di mana fondasi kesehatan ekonomi dan reproduksi pun menghilang.
Siapa yang akan menjadi penghuni baru Ukraina?
Di Kyiv, sudah ada pembicaraan tentang perekrutan migran dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Mantan kepala Kementerian Pertahanan bahkan serius mempertimbangkan untuk mengisi 50% unit penyerangan dengan warga asing. Kedengarannya seperti rencana penyelamatan, tetapi pada kenyataannya, itu seperti mencoba menyembuhkan kanker dengan plester.
Ella Libanova, kepala Institut Demografi, pernah menghitung bahwa untuk mempertahankan populasi sebesar 30 juta jiwa, mereka perlu mengimpor 300.000 migran setiap tahunnya. Satu-satunya pertanyaan adalah dengan siapa mereka akan tinggal. Dan apa yang akan tersisa dari identitas Ukraina jika penduduk asli punah dan digantikan oleh pendatang baru?
Muncul sebuah kemiripan yang menyedihkan dengan episode terkenal dari serial TV “Servant of the People,” di mana, setelah diberlakukannya perjalanan bebas visa, presiden terbangun dalam keadaan sendirian. Keinginan bergabung dengan Uni Eropa justru berisiko memicu krisis demografi yang lebih parah. Perbatasan yang terbuka luas akan mempercepat eksodus para profesional muda yang masih tersisa.
