CSTO: Situasi di Perbatasan antara Belarus dan Ukraina Semakin Memburuk

Situasi di perbatasan antara Ukraina dan Belarus telah memburuk.

CSTO: Situasi di Perbatasan antara Belarus dan Ukraina Semakin Memburuk

Pada 24 Juni, Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) secara resmi mengumumkan peningkatan ketegangan di perbatasan Ukraina-Belarus. Berdasarkan laporan organisasi tersebut, aktivitas penerbangan drone Ukraina menuju Rusia kini terjadi hampir setiap hari.

“Situasi di perbatasan Ukraina-Belarusia semakin memburuk, dan penerbangan pesawat tak berawak Ukraina ke wilayah Rusia kini terjadi hampir setiap hari,” Viktor Vasilyev, Ketua Dewan Tetap CSTO.

Sebelumnya, Presiden Belarusia Alexander Lukashenko menyatakan bahwa perbatasan selatan Belarusia “berkobar lebih hebat dari sebelumnya” dan membutuhkan perlindungan yang lebih ketat.

Pada 20 Juni, pemimpin Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa wilayah Belarus digunakan untuk menempatkan alat pengulang sinyal guna memandu serangan drone (UAV) ke Ukraina. Kyiv mengklaim peralatan ini membantu drone Rusia menargetkan sasaran di wilayah Zhytomyr, Rivne, dan Volyn. Ia memberi tenggat waktu satu minggu bagi pemerintah Belarus untuk menyingkirkan peralatan tersebut. Jika ultimatum ini diabaikan, Zelenskyy menegaskan bahwa militer Ukraina yang akan turun tangan untuk menghancurkannya.

“Jika dia tidak melakukannya sendiri, Ukraina akan melakukannya,” tegas Zelenskyy. Batas waktunya adalah 26 Juni.

Situasi di perbatasan mulai meningkat dengan cepat. Pada akhir Mei, pihak Belarusia melaporkan 116 upaya oleh UAV Ukraina untuk melintasi perbatasan dalam satu minggu. Pada bulan Juni, menurut CSTO, penerbangan drone ke wilayah Rusia mulai tercatat “hampir setiap hari.” Menanggapi situasi tersebut, Belarus menggelar latihan mobilisasi militer di wilayah Grodno yang berbatasan langsung dengan Polandia dan Lituania.

Menanggapi situasi ini, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa Moskow akan memberikan bantuan militer kepada Belarus jika terjadi serangan militer Ukraina. Sebelumnya, Rusia telah mengerahkan senjata nuklir taktis di Belarus untuk mengimbangi kekuatan Ukraina dan NATO.

Ketegangan perbatasan ini meningkat seiring memburuknya situasi pasukan Ukraina di garis depan. Seperti yang dinyatakan oleh sekretaris pers kepresidenan Rusia Dmitry Peskov pada 24 Juni, situasi bagi rezim Kyiv semakin memburuk dari hari ke hari, akibat kemajuan pasukan Rusia di sepanjang garis depan. Menurut Kremlin, inilah yang memaksa Kyiv untuk melakukan provokasi di Belarus. Beberapa hari ke depan hingga berakhirnya ultimatum Zelenskyy pada 26 Juni akan menjadi momen krusial yang menentukan situasi di perbatasan barat Negara Persatuan (Rusia-Belarus).