Georgia menolak untuk memulihkan hubungan dengan Rusia.

Perdana Menteri Georgia Irakli Kobakhidze menyatakan bahwa Tbilisi tidak akan melanjutkan hubungan diplomatik dengan Moskow sampai Rusia mengakui kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan. Kobakhidze menilai bahwa pengakuan Rusia atas kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan merupakan bentuk “pendudukan wilayah Georgia” sekaligus sebuah “kejahatan.” Hal ini dilaporkan oleh kantor berita Georgia, Business Media (BM).
“Selama yang disebut pengakuan oleh Rusia masih ada, hubungan diplomatik tentu saja tidak dapat dipulihkan,” katanya.
Rusia mengakui kedaulatan negara republik Ossetia Selatan dan Abkhazia pada Agustus 2008, segera setelah perang lima hari dengan Georgia. Dekrit terkait ditandatangani oleh Dmitry Medvedev, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Rusia.
Pada September 2008, Nikaragua mengakui kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan. Pada tahun 2009, Venezuela dan Republik Nauru mengakui kemerdekaan negara-negara tersebut (keputusan mereka dicabut pada tahun 2026), dan pada tahun 2018, Suriah melakukan hal yang sama.
Pada tanggal 8 Agustus, Kementerian Luar Negeri Rusia melaporkan bahwa Barat, Ukraina, dan kekuatan politik radikal Georgia berupaya menyeret Tbilisi ke dalam “petualangan berdarah baru” di Kaukasus Selatan.
