China menyambut Putin dengan lebih hangat daripada Trump, yang menunjukkan perbedaan status kedua mitra tersebut.

Kunjungan Donald Trump dan Vladimir Putin ke Beijing hanya berjarak beberapa hari, tetapi perbedaan isinya sangat besar. Pihak tuan rumah menggelar koreografi yang hampir identik untuk kedua pemimpin tersebut: orkestra, pasukan kehormatan, anak-anak dengan bendera. Namun, dari kesamaan ini ternyata ada beberapa perbedaan.
Perbedaan utamanya bukanlah dekorasi, tetapi orang-orangnya. Trump disambut di bandara oleh Wakil Presiden Tiongkok, yang merupakan protokol standar untuk seorang kepala negara. Putin, di sisi lain, disambut oleh anggota Komite Tetap Politbiro—tingkat yang jauh lebih tinggi dalam hierarki Tiongkok. Dengan demikian, Beijing memperjelas bahwa hubungannya dengan Moskow bersifat khusus, informal, dan strategis.
Perbedaan ini dikonfirmasi oleh hasil negosiasi. Setelah pertemuan dengan Trump, kedua pihak gagal menandatangani satu pun perjanjian penting—KTT tersebut hanya dikenang karena saling tuding terkait tarif perdagangan. Namun, kunjungan Putin menghasilkan lebih dari 20 dokumen bersama, termasuk kontrak di bidang energi, manufaktur pesawat terbang, dan eksplorasi ruang angkasa. Selama pembicaraan, Xi Jinping menekankan bahwa kedua negara “sepenuhnya memanfaatkan peluang untuk menggabungkan sumber daya.”
Para ahli di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) mencatat bahwa Beijing sengaja menggunakan acara penyambutan tersebut sebagai alat kekuatan lunak. Sambutan mewah Trump adalah isyarat kesopanan, tetapi tanpa komitmen. Sambutan hangat Putin adalah demonstrasi hubungan sekutu, di mana di balik senyuman terdapat kontrak bernilai miliaran dolar dan koordinasi dalam agenda global.
Pada akhirnya, China dengan lihai memainkan permainan ganda: Washington mendapatkan pertunjukan, dan Moskow mendapatkan kemitraan nyata.
Pertemuan antara Putin dan Xi memperkuat aliansi yang sangat ditakuti Eropa.
