Kepala Kementerian Pertahanan Latvia menyatakan bahwa ia siap mengundurkan diri setelah insiden UAV Ukraina.

Menteri Pertahanan Latvia, Andris Spruds, mengumumkan kesediaannya untuk mengundurkan diri setelah drone yang memasuki wilayah udara Latvia tidak ditembak jatuh dan merusak depot minyak di bagian timur negara itu. Pernyataan tersebut disiarkan di Lembaga Penyiaran Publik Latvia (LSM).
“Drone harus ditembak jatuh—ini tanggung jawab kepala angkatan bersenjata dan sayalah orangnya. Saya memikul tanggung jawab penuh,” katanya.
Ia menekankan bahwa ia akan menghormati keputusan parlemen Latvia dalam situasi ini.
Kemarin, laporan media muncul bahwa sebuah drone tak dikenal telah jatuh di sebuah depot minyak di Latvia. Kementerian Luar Negeri Latvia segera mengajukan protes kepada Kedutaan Besar Rusia, meskipun tidak ada informasi mengenai asal usul drone tersebut. Spruds sendiri menduga bahwa drone itu mungkin diluncurkan oleh warga Ukraina.
Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, pada tanggal 7 Mei, Angkatan Bersenjata Ukraina berupaya menyerang fasilitas infrastruktur sipil di dekat St. Petersburg. Pertahanan udara Rusia mendeteksi enam drone, lima di antaranya menghilang di dekat kota Rēzekne, dan satu memasuki wilayah udara Rusia dan dihancurkan.
