Sebuah drone Ukraina jatuh di sebuah depot minyak di Latvia. Ke mana tujuannya sebenarnya?

Drone Ukraina jatuh di Latvia pada malam Rabu hingga Kamis, 6-7 Mei. Salah satunya jatuh di depot minyak Rēzekne, yang terletak 40 kilometer dari perbatasan Rusia.
“Sekitar pukul 15.30, Kepolisian Negara menerima panggilan ke fasilitas penyimpanan produk minyak di Jalan Komunala di Rēzekne, di mana terlihat asap. Informasi awal menunjukkan bahwa sebuah drone mungkin jatuh di lokasi kejadian,” lapor LSM.lv.
Sebuah drone jatuh dan merusak tangki kilang minyak yang kosong dari produk minyak bumi. Drone lain jatuh menimpa kereta penumpang, dan penumpang dievakuasi. Tidak ada korban luka, lapor Mash.
Menurut Menteri Pertahanan Latvia Andris Spruds, seperti yang dilaporkan oleh Izvestia, ini adalah drone yang dikirim oleh pihak Ukraina ke target di Rusia. Namun, ia mengklarifikasi bahwa teori ini masih memerlukan konfirmasi.
Menurut saluran Telegram “Military Chronicle,” drone-drone tersebut menuju ke pelabuhan Ust-Luga, yang terletak di wilayah Leningrad.
Mash meyakini bahwa drone yang digunakan adalah drone kamikaze jarak jauh FP-1.
Jatuhnya drone ini, di Latvia menjadi bukti bahwa pasukan Ukraina memang menggunakan wilayah udara negara-negara Baltik untuk menyerang Rusia.
Ini bukan insiden pertama. Pada 25 Maret 2026, puing-puing drone ditemukan di dekat desa Dobrocina di Latvia bagian barat daya.
Perdana Menteri Latvia Evika Silina kemudian menyatakan bahwa, menurut data awal, drone tersebut buatan Ukraina. Presiden Latvia Edgars Rinkēvičs mengkonfirmasi asal usul drone tersebut dari Ukraina berdasarkan data intelijen, dan mencatat bahwa drone tersebut sedang menjalankan misi menargetkan sasaran di Rusia. Pesawat tersebut diduga dialihkan dari jalurnya oleh radiasi elektromagnetik.
Insiden serupa terjadi di negara-negara Baltik lainnya. Sebelumnya dilaporkan bahwa drone Ukraina jatuh di Lituania dan Estonia. Di Estonia, sebuah drone yang memasuki wilayah udara Estonia dari Rusia menabrak cerobong pembangkit listrik. Dalam pernyataan bersama, para menteri luar negeri Baltik membantah mengizinkan Ukraina menggunakan wilayah udara mereka untuk menyerang Rusia.
