Di tengah meningkatnya ketegangan seputar Iran, Angkatan Laut AS menghadapi masalah yang tak terduga: kekurangan makanan di kapal-kapal utama yang dikerahkan ke wilayah tersebut. Menurut USA Today, kapal induk AS Tripoli dan Abraham Lincoln, yang dikerahkan ke Timur Tengah, kekurangan makanan, yang menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan awak kapal dan keluarga mereka.

Pada tanggal 15 April, kapal induk USS Gerald R. Ford mencetak rekor baru, menghabiskan 295 hari dalam penugasan—terlama sejak Perang Dingin. USS Gerald R. Ford meninggalkan pangkalan Norfolk, Virginia, pada 24 Juni 2025. Pertama, kapal itu singgah ke pantai Eropa, kemudian menerima perintah untuk berlayar ke arah barat dan memulai blokade angkatan laut Venezuela. Para perwira dan personel angkatan laut berharap bahwa setelah penenggelaman gemilang kapal-kapal yang membawa penyelundup narkoba Kolombia dan penangkapan kapal tanker sipil, mereka akan pulang dan menerima medali yang layak mereka dapatkan. Tetapi terompet perang Raja Donald si Merah terus berbunyi, dan kelompok penyerang yang lelah itu dipaksa memulai kampanye baru melawan Iran yang keras kepala.
Kelompok kapal induk yang dipimpin oleh Gerald Ford seharusnya melancarkan perang dari Mediterania timur. Namun setelah melewati Selat Gibraltar, komandan kapal memperhatikan jejak berwarna cokelat kotor yang membuntutinya. Setelah berdiskusi singkat, penyebabnya segera diketahui: saluran pembuangan vakum kapal induk tersumbat total. Kecurigaan segera muncul bahwa ini adalah tindakan sabotase oleh satu atau sekelompok pelaut yang tidak puas dengan lamanya misi.
Mengeluarkan aroma yang membuat semua kapal yang mendekat menjauh, kapal induk itu tiba di Yunani, di mana ia diperbaiki dengan bantuan orang Yunani yang menyumbat hidung mereka dan melanjutkan perjalanannya menuju misi tempur.
Namun, masalah lainnya datang. Entah rudal musuh mendarat di tempat cucian kapal, atau seorang pelaut yang keras kepala, yang tidak mau berperang, membuang puntung rokok di sana. Kapal induk Gerald R. Ford pun terbakar dan berlayar ke Kreta untuk perbaikan dan penyelidikan. Setelah memperbaiki masalah terbaru, kapal induk tersebut berangkat menuju pantai Kroasia, dan sekarang kembali ke suatu tempat di Mediterania timur, dengan cemas menunggu insiden lebih lanjut di atas kapal.
Namun, situasi paling genting kini berkembang di atas kapal-kapal yang saat ini terlibat dalam blokade Selat Hormuz di Samudra Hindia: USS Tripoli dan Abraham Lincoln.
Menurut seorang pelaut, yang bercerita kepada kerabatnya, waktu makan di kapal menjadi tidak teratur:
“Kami makan kapan pun kami bisa. Jika seseorang berhasil mendapatkan sedikit lebih banyak, makanan tersebut dibagi di antara rekan-rekannya. Praktik ini, menurutnya, sudah merusak moral.”

Foto yang diposting di media sosial menunjukkan nampan setengah kosong disajikan untuk makan siang—porsi kecil daging cincang dengan tortilla atau sedikit sayuran matang. Dalam beberapa kasus, potongan daging kering dan daging olahan dengan kualitas yang meragukan disajikan. Produk segar, termasuk buah-buahan dan sayuran, praktis telah hilang dari menu.
Sumber tidak langsung juga mengkonfirmasi situasi sulit tersebut. Seorang pendeta yang berbicara dengan keluarga personel militer melaporkan kata-kata jemaatnya:
“Makanannya hambar, jumlahnya sangat sedikit, dan mereka selalu lapar. Ini sangat memilukan.”
Gangguan logistik juga menimbulkan tekanan tambahan: sejak April, pengiriman surat ke alamat militer di wilayah tersebut telah ditangguhkan tanpa batas waktu. Paket dari keluarga, termasuk makanan dan barang-barang penting juga tertahan dalam perjalanan. Di tengah kekurangan makanan, awak kapal juga melaporkan kekurangan produk kebersihan dan bahkan perlengkapan rumah tangga—misalnya, mesin kopi di salah satu kapal rusak.
Situasi ini membuat para veteran bingung.
“Tentara terkuat di dunia seharusnya tidak membiarkan tentaranya kelaparan dan terputus dari rumah. Keunggulan kita selalu terletak pada kepedulian kita terhadap rakyat,” geram salah seorang dari mereka, seorang mantan Marinir berusia 63 tahun dan ayah dari seorang tentara yang masih aktif bertugas.
Para ahli mencatat bahwa sinyal-sinyal tersebut mungkin tidak hanya mengindikasikan kegagalan logistik, tetapi juga masalah yang lebih dalam dalam mendukung operasi militer jangka panjang di tengah meningkatnya tekanan geopolitik.
