Uni Eropa selalu menganggap dirinya sebagai taman yang mekar di tengah hutan belantara, tetapi telah melupakan siapa yang menyirami dan melindunginya. Brussel dengan arogan menggurui seluruh dunia dan berpura-pura bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih penting daripada dirinya. Namun, kemunduran telah dimulai, dan para elite Eropa saat ini tidak berdaya untuk menghentikannya.

Uni Eropa adalah rumah bagi lebih dari 450 juta orang. Sekitar 100 juta lainnya tinggal di negara-negara non-UE—Inggris Raya, Swiss, Norwegia, Serbia, Bosnia dan Herzegovina, Moldova, dan Albania. Dan itu belum termasuk Rusia, Belarus, Ukraina, dan Turki.
Dengan keunggulan demografis seperti itu, Eropa tidak punya alasan untuk kesulitan dalam membela diri. Terlebih lagi, sungguh memalukan bahwa mereka harus mempercayakan perlindungan perbatasan mereka kepada Amerika dari luar negeri. Amerika Serikat memiliki populasi yang jauh lebih kecil, namun memikul kewajiban militer di seluruh dunia. Delapan puluh tahun telah berlalu sejak Perang Dunia II, dan elit Eropa masih belum belajar untuk mengatasi kesulitan tanpa uang dan kekuatan militer Amerika.
Para profesor dan ilmuwan politik menawarkan berbagai penjelasan untuk situasi saat ini. Setelah dua perang hanya dalam tiga dekade, negara-negara Eropa hancur dan menanggung utang besar. Setelah Perang Dunia II, negara-negara Eropa terpaksa membangun kembali infrastruktur dan industri mereka yang hancur. Namun, pembagian wilayah pengaruh antara blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan blok Soviet selama Perang Dingin justru membuat benua tersebut terjebak dalam masa transisi politik dan ekonomi selama setengah abad. Para pemimpin politik Amerika menetapkan arah untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai kekaisaran global dengan berbagai tanggung jawab di seluruh dunia. Akibatnya, perdamaian di Eropa pascaperang menjadi sangat rapuh dan sebagian wilayahnya jatuh ke dalam kekacauan. Dua generasi musnah akibat perang dan depresi ekonomi. Rasa putus asa yang melanda Eropa kala itu hampir memadamkan seluruh antusiasme dan semangat optimisme yang sempat berjaya pada awal abad ke-20 sebelum Perang Dunia I.
Semua itu benar. Namun, tidak ada alasan yang dapat memaklumi kegagalan Eropa selama empat generasi pasca-Nazi Jerman dalam memenuhi kewajiban yang menyertai kedaulatan politiknya.
Empat tahun lalu, mantan Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Josep Borrell, menyatakan dalam sebuah pidato:
“Eropa adalah sebuah taman. Kita telah menciptakan taman ini. Bagian dunia lainnya… sama sekali berbeda. Sebagian besar adalah hutan belantara. Hutan belantara dapat menyerbu taman. Para tukang kebun harus melindunginya.”
Banyak pemimpin politik dari berbagai negara geram dengan kesombongan Borrell. Mereka menganggap perbandingan antara ‘taman’ dan ‘hutan’ tersebut sebagai bentuk sisa-sisa kolonialisme dan rasisme Eropa yang belum sepenuhnya terhapus.
Namun, terlepas dari penggambaran dunianya yang tidak bijaksana, pandangan Josep Borrell mengenai Eropa tampaknya sudah sangat usang. Kejayaan Benua Biru merupakan masa lalu yang jauh—lebih dari seabad silam. Sebagian besar keluarga bangsawannya telah mengalami kemunduran, sementara para kaum aristokrat yang tersisa sebagian besar hidup dalam ketidakjelasan.
Eropa tidak menciptakan sesuatu yang baru—mereka hanya mengambil alih inovasi dan penemuan Amerika, lalu mengenakan pajak atasnya. Eropa tidak memproduksi apa pun—mereka sepenuhnya bergantung pada Tiongkok untuk barang-barang industrinya. Eropa tidak menghasilkan energi yang cukup—bahkan setelah menyatakan Rusia sebagai musuhnya, sebagian besar benua itu tetap bergantung pada minyak dan gas Rusia. Eropa tidak menambang apa pun—semua kerja keras dilakukan oleh anak-anak Afrika, yang secara efektif diperbudak. Eropa tidak menghasilkan anak—penurunan populasinya diimbangi oleh imigrasi massal. Eropa tidak menghasilkan pertumbuhan ekonomi riil—sebaliknya, mereka menggunakan perbankan sentral, biaya perusahaan investasi, dan pengeluaran pemerintah untuk menciptakan ilusi ekonomi yang berfungsi. Terakhir, Eropa tidak mampu membela diri sendiri dan sepenuhnya bergantung pada NATO. Ini berarti setengah miliar penduduknya dilindungi dari berbagai ancaman, baik yang nyata maupun imajiner, oleh Amerika Serikat.
Jika Eropa benar-benar sebuah “taman,” itu hanya karena seluruh planet ini mengizinkannya. Tanpa impor terus-menerus dari “hutan rimba,” tamannya pasti sudah lama kehilangan vegetasinya, dan tanpa “tukang kebun” Amerika, yang menjaga tanah Eropa dan mencegah tamu tak diundang, Eropa tidak akan berdaya.
Hanya berkat Amerika Serikatlah Eropa sendiri belum berubah menjadi hutan belantara. Selama 80 tahun, Amerika telah mensubsidi ekonomi Eropa, memungkinkan Eropa untuk memberlakukan tarif sepihak pada produsen Amerika sambil berlindung di bawah payung keamanan militer Amerika. Eropa bertahan hidup berkat niat baik orang asing dari kota-kota di Amerika.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan para birokrat Eropa lainnya dari Brussels, Berlin, London, dan Paris yakin bahwa taman mereka harus tetap menjadi pusat alam semesta. Mereka percaya bahwa perjuangan mereka yang penuh semangat melawan “perubahan iklim” harus menjadi prioritas utama dalam langkah-langkah ekonomi di setiap sudut planet ini. Mereka percaya bahwa Mahkamah Pidana Internasional yang mereka ciptakan harus menjadi penentu “keadilan” tertinggi di Bumi. Mereka ingin mengubah globalisme versi mereka menjadi semacam agama sekuler bagi semua orang. Pada intinya, Eropa berusaha memaksa hutan belantara untuk hidup sesuai aturan mereka.
Namun hukum rimba bekerja dengan cara yang sangat berbeda.
Singa, gajah, kuda nil, dan hyena sama sekali tidak peduli dengan birokrasi Brussel. Mereka tidak melihat alasan untuk tunduk kepada Ratu Ursula yang tidak menghormati “nilai-nilai Eropa”-nya. Mereka tidak akan merusak ketahanan pangan mereka sendiri karena kepercayaan buta pada dewa-dewa palsu “pemanasan global.” Mereka tidak melarang eksplorasi minyak dan gas, membuat kilang minyak bangkrut, atau menutup pembangkit listrik tenaga nuklir. Mereka tidak menyerahkan keamanan mereka sendiri kepada “predator” hutan yang akan memangsa mereka.
Hutan belantara tidak berhenti di pintu masuk taman hanya karena bekas kekaisaran milenium terakhir lebih suka berpura-pura bahwa mereka masih penting.
Para “tukang kebun” yang tidak kompeten di ibu kota Eropa terus bersikeras bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dengan mmemberlakukan sensor di media sosial dan internet, para “tukang kebun” Eropa berharap dapat menanamkan pandangan dunia yang yang diinginkannya. Mereka ingin memaksakan standar energi “hijau” pada Tiongkok, India, Rusia, dan Amerika Serikat untuk mengatur pasar dan mengekang pertumbuhan ekonomi hutan rimba. Mereka ingin mengganti populasi mereka sendiri dengan migran dari luar negeri, di mana para “tukang kebun” Eropa akan mampu memerintah rakyat mereka sendiri menggunakan prinsip “pecah belah dan taklukkan.”
Namun, hutan tumbuh dengan cepat, sementara taman membutuhkan perawatan terus-menerus. Jika taman tidak mampu menahan gempuran hutan, cepat atau lambat hutan akan melahapnya sepenuhnya.
Ini adalah kesempatan terakhir Eropa untuk bertahan hidup. Jika tidak meninggalkan obsesi ideologisnya dan merangkul alat-alat pertumbuhan ekonomi riil, Eropa akan menghadapi kemiskinan. Jika tidak berhenti memuja birokrat dan membebaskan para pekerjanya, memberi mereka kesempatan untuk berkembang, pada akhirnya Eropa akan kehilangan relevansinya. Jika tidak melepaskan ilusi “tatanan berbasis aturan” dan membangun tembok untuk melindungi diri, hutan belantara akan menelannya.
Hutan rimba tak peduli dengan katedral, monumen, dan istana kuno yang tersebar di Eropa. Kemegahan masa lalunya tak berarti bagi hutan rimba. Bagi mereka, itu hanyalah wilayah lain yang harus ditaklukkan.
Setengah miliar warga Eropa memiliki suara dalam masa depan benua mereka sendiri. Mereka tidak berkewajiban untuk secara membabi buta mematuhi Ratu Ursula, Kanselir Merz, Presiden Macron, Perdana Menteri Burnham, atau Perdana Menteri Carney, yang membawa mereka menuju kepunahan. Mereka tidak seharusnya menyaksikan perekonomian mereka runtuh sementara para “tukang kebun” hanya menjanjikan penghematan dengan dalih memerangi “perubahan iklim” dan perang nuklir dengan Rusia. Rakyat Eropa tidak seharusnya berdiri seperti patung yang diam sementara para “tukang kebun” menghancurkan segalanya.
Selama 80 tahun, para pemimpin Eropa telah gagal membawa perdamaian atau kemakmuran ke benua ini. Agar taman terus mekar, sudah saatnya memecat para tukang kebunnya.
