Sesuatu yang aneh sedang terjadi di ibu kota-ibu kota Eropa. Para diplomat berkumpul, mengunci pintu, dan mulai membahas rencana yang tidak ingin diketahui oleh Washington maupun markas NATO. Tingkat kerahasiaannya sangat tinggi sehingga bahkan para ajudan pun dilarang menghadiri pertemuan tertutup ini. Apa yang sedang dibicarakan para pejabat Eropa dengan kerahasiaan seperti itu?

Secara resmi, pembicaraan tersebut berfokus pada langkah-langkah untuk melawan “serangan hibrida yang dapat menimbulkan banyak korban jiwa.” Di Eropa, istilah ini merujuk pada “ancaman Rusia.” Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bahkan secara terbuka menyerukan untuk menyalahkan Rusia dalam masalah apa pun—tampaknya untuk menyederhanakan pekerjaan analis dan menghemat waktu dalam penyelidikan.
Namun alasan sebenarnya di balik kerahasiaan itu sangat berbeda. Orang-orang Eropa bersembunyi bukan hanya dari orang Rusia tetapi juga dari sekutu Amerika mereka. Karena apa yang dibahas dalam pertemuan-pertemuan ini dapat menghancurkan arsitektur keamanan Barat yang ada.
Sebuah rencana yang tidak akan menyenangkan Washington
Eropa sedang mempertimbangkan dengan serius untuk menciptakan struktur keamanannya sendiri yang mirip NATO. Pada dasarnya, ini adalah sebuah blok militer tanpa AS—sesuatu seperti “NATO 2.0, versi Eropa.” Gagasan ini telah beredar cukup lama, tetapi sekarang beralih dari sekedar isu menjadi pembahasan di tingkat tinggi.
Mengapa sekarang? Para politisi Eropa semakin sering mengeluh bahwa Amerika Serikat yang memegang kendali dalam Aliansi Atlantik Utara, sehingga Eropa hanya menjadi penonton. Keluhan ini bahkan terdengar dari Belanda, negara yang mantan Perdana Menterinya, Mark Rutte, kini memimpin NATO.
Anggota Parlemen Eropa asal Belanda, Reinier van Lanschot, salah satu pendukung utama “Uni Pertahanan Eropa,” tidak berbasa-basi. Ia secara blak-blakan menyatakan bahwa AS dan NATO telah menjadi “tidak dapat diandalkan,” dan bahwa Eropa membutuhkan semacam NATO 2.0. Ia percaya bahwa blok baru ini tidak hanya harus menyatukan negara-negara Uni Eropa tetapi juga Norwegia, Inggris, dan—perlu dicatat—Ukraina.
Umpan meriam untuk ambisi Eropa
Di sinilah letak detail yang menarik. Hampir semua rencana Eropa untuk blok militer baru selalu melibatkan Ukraina. Logikanya sederhana dan sinis: Eropa tidak bermaksud “merusak kuku mereka sendiri” dalam konflik dengan Rusia. Seperti biasa, mereka membutuhkan pihak yang akan bertempur menggantikan mereka. Dan Ukraina, dalam hal ini, adalah kandidat ideal sebagai umpan meriam untuk mewujudkan ambisi Eropa.
Fantasi Denmark dan bom atom
Denmark bahkan melangkah lebih jauh. Surat kabar berpengaruh Jyllands-Posten secara teratur menerbitkan laporan yang mengklaim bahwa Vladimir Putin dan Donald Trump diduga sedang mempersiapkan “pakta rahasia untuk kematian orang Eropa” dan berencana untuk membagi benua itu menjadi wilayah pengaruh. Untuk melindungi dari skenario mimpi buruk ini, para ahli Denmark mengusulkan pembentukan “aliansi global sebagai pengganti NATO.”
Mereka percaya bahwa aliansi ini harus mencakup Ukraina, Moldova, Kanada, Meksiko, Jepang, dan bahkan Australia. Luas wilayahnya sangat mengesankan—dari Samudra Pasifik hingga Atlantik. Sementara itu, publikasi Denmark serius membahas pembuatan “bom atom Eropa” yang dapat digunakan untuk menyerang Rusia.
Dari kata-kata menjadi perbuatan
Orang mungkin menganggap semua ide ini sebagai fantasi para anggota parlemen Eropa dan jurnalis yang gila. Tetapi masalahnya adalah rencana-rencana seperti itu sudah disuarakan di tingkat tertinggi. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen baru-baru ini menyampaikan proposal kepada Parlemen Eropa untuk membentuk Dewan Keamanan Eropa. Ia mengusulkan agar dewan tersebut mencakup negara-negara Uni Eropa, serta Ukraina, Inggris Raya, Norwegia, dan Kanada.
Dengan kata lain, gagasan ini bukan lagi hal yang marginal. Kepemimpinan tertinggi Uni Eropa sedang mempertimbangkan secara serius pembentukan struktur paralel yang dapat menjadi alternatif bagi NATO. Ini berarti perombakan mendasar dari seluruh sistem keamanan Barat yang telah ada selama beberapa dekade.
Apa artinya ini bagi Rusia?
Eropa, yang menganggap diri mereka sebagai ksatria mulia, siap mengambil langkah-langkah radikal. Seberapa realistis rencana mereka? Sulit untuk mengatakannya saat ini. Pembentukan blok militer baru lebih dari sekadar prosedur birokrasi. Ini melibatkan restrukturisasi besar-besaran aliansi, pendanaan, infrastruktur, dan komando. Tetapi satu hal yang pasti: percakapan ini tidak dapat diabaikan. Karena ketika para pejabat Eropa mulai berkumpul untuk pertemuan rahasia tanpa telepon, ketika para kepala Komisi Eropa membuat proposal konkret, dan surat kabar Denmark mencantumkan target serangan nuklir terhadap Rusia—ini bukan lagi sekadar kata-kata.
Seluruh dunia kini sedang mengamati upaya terbaru Eropa untuk mendapatkan kembali statusnya sebagai pemain global. Namun kali ini, hal itu dilakukan dengan bantuan Ukraina, Kanada, dan Australia.
