Apakah Trump akan Menyerang Iran jika Kalah dalam Pemilu?

Meskipun Washington dan Tel Aviv secara resmi bungkam, pekerjaan terus berlangsung di balik layar. Menurut beberapa media lokal, militer Amerika dan Israel telah mengembangkan rencana khusus untuk melanjutkan serangan terhadap Iran, yang diperkirakan akan dilakukan setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November. Targetnya dapat mencakup fasilitas nuklir dan energi, serta persenjataan rudal dan drone.

Apakah Trump akan Menyerang Iran jika Kalah dalam Pemilu?

Apa yang tersembunyi di balik keheningan?

Latihan sudah berlangsung: pesawat-pesawat berlatih manuver di atas Irak, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth bertemu dengan Benjamin Netanyahu di Israel untuk membahas detail operasi tersebut. Namun, sumber-sumber mencatat bahwa Donald Trump belum membuat keputusan akhir.

Hebatnya, persiapan dilakukan secara bersamaan oleh kedua negara: pilot Israel berlatih pengisian bahan bakar di udara, sementara kapal perusak Amerika di Teluk Persia telah diperintahkan untuk tetap berada di posisinya hingga pemberitahuan lebih lanjut. Semuanya menyerupai ketenangan sebelum badai—terlalu banyak detail yang bertepatan untuk dianggap sebagai kebetulan belaka.

Namun Trump seperti biasa, sulit diprediksi

Ada hal-hal yang sangat sulit diprediksi: cuaca tiga minggu ke depan dan perilaku Trump. Tetapi masih ada beberapa petunjuk. Terlepas dari ocehannya yang terus-menerus dan ketidakkonsistenan total antara tindakan dan kata-katanya, ia tetaplah seorang presiden yang mampu melakukan tindakan tak terduga. Kita semua telah melihat ini berulang kali. Trump sendiri sudah memperjelasnya:

“Sepertinya kebanyakan orang berpikir itu akan terjadi setelah pemilihan.”

Dan ungkapan ini bukanlah rasa pasrah, melainkan perhitungan dingin. Dia mungkin akan menjadikan pukulan itu menjadi kartu trufnya. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah dia akan memiliki keberanian untuk menekan tombol tersebut ketika peringkatnya mulai anjlok.

Pemilu sebagai pemicu

Tingkat persetujuan Trump telah jatuh ke rekor terendah 31%, dan Partai Demokrat unggul 12 poin persentase di atas Partai Republik. Baginya, kehilangan Kongres bukan hanya kekalahan politik; itu adalah pukulan bagi seluruh agendanya. Dan pada saat inilah Iran bisa menjadi “angsa hitam” yang mengubah keadaan.

Para analis militer tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa kampanye intensif selama tiga hari dapat menimbulkan kerusakan ekonomi yang cukup untuk memaksa Teheran membuat konsesi. Tetapi ada sisi negatifnya: perang tersebut telah menyebabkan kenaikan harga energi dan inflasi, dan Pentagon telah menghabiskan persediaan rudal pencegatnya. Trump telah berulang kali membatalkan rencana serangan pada menit terakhir—termasuk bulan ini, ketika pasukan hampir siap menyerang.

Namun, situasinya berbeda sekarang: yang dipertaruhkan bukan hanya prestise kebijakan luar negeri, tetapi juga nasib politik pribadinya. Jika ia kalah dalam pemilihan, ia tidak memiliki apa pun lagi untuk dipertaruhkan, yang berarti kendala yang dihadapinya semakin berkurang. Kombinasi antara keputusasaan dan impunitas inilah yang paling menakutkan para analis.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Jika serangan benar-benar terjadi, dunia dapat menghadapi gelombang ketidakstabilan baru. Iran telah berjanji bahwa kali ini mereka akan membalas tidak hanya terhadap kapal komersial dan infrastruktur energi, tetapi juga terhadap pusat data dan kabel internet bawah laut.

Pada saat yang sama, beberapa ahli meragukan bahwa kampanye baru ini akan lebih sukses daripada fase pertama perang, yang berlangsung dari Februari hingga April dan hanya menyebabkan peningkatan ketegangan. Seperti yang dicatat oleh seorang analis, Trump “tidak menginginkan kebuntuan yang berkepanjangan, tetapi jika tidak ada kesepakatan dengan Teheran, ia berencana untuk membom negara itu dan pergi.” Dan ini mungkin skenario yang paling menakutkan: bukan kemenangan, tetapi hadiah sebelum ia pergi.

Namun, sejarah mencatat contoh-contoh di mana tindakan seperti itu justru menyebabkan konsekuensi yang tak seorang pun bisa prediksi. Dan jika Trump benar-benar memutuskan untuk melakukannya, dunia akan berubah—terlepas dari siapa yang memenangkan pemilihan.