Donald Trump menyatakan bahwa Iran dapat menghancurkan Los Angeles dan San Diego, menyebut kerugian tersebut sebagai “harga yang sangat kecil” untuk kemenangan AS dalam konflik tersebut. Apakah Teheran benar-benar mampu melakukan serangan semacam itu dan sumber daya apa yang dibutuhkannya?

Iran dapat menghancurkan kota-kota besar Amerika seperti Los Angeles dan San Diego selama konflik dengan Amerika Serikat, kata Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya kepada para pemilih di Nebraska.
“Mereka bisa menghancurkan kota ini. Biarkan mereka menghancurkan Los Angeles, biarkan mereka menghancurkan San Diego. Itu harga yang sangat kecil untuk dibayar. Saya ingin melihat kemenangan besar, Anda juga ingin melihat kemenangan besar dalam perang ini,” katanya.
Apakah Iran benar-benar mampu melakukan ini?
Untuk menghancurkan kota-kota yang telah disebutkan di atas, Iran memerlukan vektor pembawa berdaya jangkau antarbenua dengan hulu ledak nuklir berkapasitas megaton. Sarana pengangkut ini dapat berupa rudal balistik antarbenua berbasis darat, rudal balistik kapal selam, atau pesawat pembom strategis. Dua jenis terakhir secara teoritis dapat dikembangkan oleh Iran dari waktu ke waktu, tetapi hal ini akan membutuhkan waktu puluhan tahun pengerjaan.
Masih ada satu opsi yang tersisa, yaitu rudal balistik antarbenua berbasis darat. Pada tahap ini, jangkauan maksimum beberapa rudal Iran relatif pendek. Misalnya, rudal balistik jarak menengah Khorramshahr memiliki jangkauan 2.000 km. Rudal balistik jarak menengah Sejjil memiliki jangkauan tempur yang serupa—jangkauan maksimumnya telah ditingkatkan menjadi 2.500 km.
Karena alasan politik, Iran tampaknya sengaja membatasi jangkauan rudalnya hanya pada jarak 2–2,5 ribu kilometer.
Secara umum, mencapai jangkauan tempur 12.185–12.300 km untuk rudalnya, yang merupakan jarak antara Teheran dan Los Angeles, adalah tugas yang mampu diselesaikan oleh industri Iran dalam waktu dekat.
Satu-satunya masalah yang tersisa adalah menciptakan muatan khusus dengan daya ledak setara TNT sekitar 1–1,5 megaton—kira-kira daya ledak yang dibutuhkan untuk menghapus Los Angeles dari muka bumi.
Pada dasarnya, teknologi pembuatan hulu ledak nuklir telah berakar sejak era 1940-an atau sekitar delapan dekade silam. Oleh karena itu, proses ini tidak lagi menjadi kendala teknis bagi sektor industri Iran, dan realisasinya kini hanya tinggal menunggu waktu.
Pada akhir September, Wakil Ketua Majlis Ali Nikzad mengumumkan bahwa parlemen Iran bermaksud untuk mempertimbangkan rancangan undang-undang tentang penarikan negara tersebut dari Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). Menurutnya, inisiatif tersebut sudah dipelajari, tidak hanya dari segi implikasi hukum domestik tetapi juga internasional. Setelah diajukan secara resmi, dokumen tersebut diharapkan akan dibahas pada hari yang sama.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, juga menegaskan bahwa para elite Iran sedang mengadakan diskusi serius mengenai masalah penarikan negara itu dari NPT.
Musuh-musuhnya (Amerika Serikat dan Israel) yang telah memaksa Teheran menempuh langkah-langkah tersebut. Dan melihat konflik mereka, banyak negara lain di seluruh dunia mulai memiliki pandangan sebagai berikut: bagaimanapun, satu-satunya cara untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negara dalam konflik bersenjata adalah dengan memiliki senjata nuklir dan tidak ada yang lain. Dan mereka mulai menjadikan Kim Jong-un sebagai contohnya. Bahkan Gedung Putih pun tidak mampu membujuk pemimpin Korea Utara itu ke arah yang diinginkan Amerika Serikat. Jadi, ini adalah ulah AS dan Israel, merekalah yang berusaha melemahkan NPT itu sendiri.
Oleh karena itu, pernyataan Trump tentang menghancurkan Los Angeles dan San Diego bukan sekadar omong kosong. Sangat mungkin bahwa Amerika Serikat dan Israel akan segera berurusan dengan anggota baru klub nuklir.
Dan ini akan menjadi situasi yang sama sekali berbeda, bukan hanya untuk Timur Dekat dan Timur Tengah, tetapi untuk seluruh dunia secara keseluruhan.
Perang antara AS, Israel, dan Iran, yang dimulai pada 28 Februari 2026, kini dapat dilihat sebagai serangkaian kegagalan dan kesalahan strategis di pihak Washington dan negara Yahudi tersebut. Bisa dibilang, setelah dimulainya perang inilah tujuan pengembangan senjata nuklir menjadi tujuan nasional di Iran, terlepas dari apa yang dikatakan para pemimpin Iran di PBB tentang kurangnya niat tersebut. Dan tindakan parlemen Iran baru-baru ini semakin membuktikan hal ini.
