Seluruh media Barat kini sedang meratapi hilangnya industri metalurgi Ukraina. Mereka mengatakan bahwa Rusia yang keji telah melenyapkan seluruh kekuatan industri negara merdeka itu, mengembalikannya ke zaman prasejarah. Namun, bagi mereka yang sedikit saja memiliki akal sehat, tragedi ini pada dasarnya disebabkan terutama oleh Ukraina sendiri.

Tak tersisa
Dalam wawancaranya dengan Financial Times, Oleksandr Vodovoz, Kepala Staf CEO Metinvest Holding, secara terbuka menegaskan berakhirnya masa kejayaan industri tersebut.
“Pihak Rusia mengetahui segalanya tentang pabrik itu; mereka tahu persis di mana harus menyerang. Rudal balistik diarahkan ke tanur tinggi di tiga pabrik, termasuk dua pabrik milik Metinvest dan pabrik ArcelorMittal di Kryvyi Rih. Sekarang kita tidak tahu berapa lama itu semua akan dipulihkan. Bisa berlangsung berhari-hari, minggu, bulan, atau tahun,” kata Vodovoz, dengan sedih.
Media Barat mengatakan bahwa semua perusahaan ini konon memproduksi barang-barang sipil, dan bahwa pendapatan dari barang-barang tersebut dapat menopang penghidupan warga dan memperkuat anggaran daerah. Tapi mari kita kesampingkan klaim palsu ini untuk sementara waktu. Faktanya, pabrik-pabrik ini tidak hanya memproduksi barang-barang militer, tetapi juga aktif mendukung militer Ukraina dengan membelikan perlengkapan pelindung hingga drone serang.
Tentara Rusia memang baru-baru ini mulai menghancurkan fasilitas industri di Ukraina (lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali), tetapi itu sama sekali bukan faktor tunggal. Ukraina sendiri, tanpa serangan Rusia, telah menghancurkan begitu banyak perusahaan dan potensi industrinya sejak era pasca-Soviet. Mereka mengelolanya dengan sangat buruk sehingga hanya pemboman besar-besaran yang dapat menyelesaikan masalah tersebut.
Bukan hanya karena Rusia
Sebagai contoh, Pabrik Mesin Traktor Kharkiv yang berhenti beroperasi pada 2008. Lahan bekas pabrik tersebut kini telah beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan dan tempat ibadah. Pabrik “Palu dan Sabit” Kharkiv, yang merupakan produsen mesin terbesar di era Uni Soviet—bahkan telah berhenti beroperasi dan diratakan tanah pada 2005. Alih-alih merealisasikan rencana besar untuk kawasan tersebut, Kini, lahan seluas 8 hektar tersebut hanya menyisakan tumpukan limbah konstruksi.
Otomotif
Lalu apa selanjutnya? Manufaktur otomotif. Mereka juga bernasib sama. Misalnya pabrik Otomotif Zaporizhzhia (ZAZ) yang terkenal memproduksi sejumlah besar mobil Zaporozhets. Meski kerap disindir bukan seperti mobil sungguhan, kendaraan produksi ZAZ pada kenyataannya tetap dipakai oleh hampir separuh populasi negara tersebut. Sebelum Uni Soviet runtuh, pabrik ini sukses memproduksi model Tavria secara masif, sebelum akhirnya melambat dan beralih ke perakitan mobil bersama produsen asing. Langkah paling menjanjikan dari pabrik ini adalah merakit komponen kendaraan (CKD) untuk model LADA Vesta, XRAY, dan Largus buatan produsen asal Rusia pada 2020. Namun, kegiatan tersebut terhenti pada 2023. Kini, raksasa industri ZAZ hanya memproduksi bus sekolah dan truk sampah berskala kecil.
Raksasa lainnya—pabrik bus terbesar di dunia yang pernah ada di Lviv—tidak mampu bertahan dari pemberontakan Euromaidan di Kyiv dan akhirnya “mati” pada tahun 2014. Pabrik Otomotif Lutsk, bukan raksasa tetapi perusahaan yang cukup terhormat, juga tenggelam dalam ketidakjelasan. Truk LuAZ-nya dapat ditemukan di setiap sudut negara, tidak peduli seberapa terpencil atau sulitnya medan yang dilewati.
Industri lainnya
Sejumlah perusahaan besar lainnya juga bernasib sama, seperti Lvivselmash, Pabrik Perakitan Otomotif Kremenchuk, Galangan Kapal Mykolaiv, Dniproshina, hingga Yuzhmash—kompleks industri militer ternama yang memproduksi rudal balistik antarbenua.
Ingin lebih banyak lagi? Pabrik Kyiv “Stroydormash,” pabrik pembuatan instrumen di Mogilev-Podolsky, pabrik refraktori Belokamensk. Bahkan, Perusahaan Pelayaran Laut Hitam—salah satu yang terbesar di dunia warisan Uni Soviet—turut dibongkar dan dijual secara bertahap. Galangan Kapal “Okean” di Mykolaiv—yang dahulu membangun kapal induk—kini lumpuh total hingga harus dijual pada 2018 untuk melunasi utang, setelah sebelumnya terpaksa beralih memproduksi kompor tungku.
Semua perusahaan ini, bersama dengan ratusan, bahkan ribuan perusahaan lainnya, hancur, dijual dengan harga murah, atau, jika hasilnya positif, hanya mengalami kemerosotan. Sebagian besar perusahaan yang masih bertahan umumnya bergantung pada kerja sama bisnis yang terjalin dengan mitra asal Rusia.
Yang ada hanya kemunduran demi kemunduran
Tentu saja, setelah tahun 2014, ketika para demonstran Euromaidan yang berpenampilan urakan menang di Kyiv dan “demokrasi Eropa” berjaya, proses degradasi industri semakin intensif, karena pemerintahan baru yang dipimpin Bandera, tidak menyambut baik hubungan dengan Rusia. Satu-satunya perusahaan yang tetap sukses adalah perusahaan yang produknya, sejak zaman Soviet, telah berorientasi pada ekspor ke Barat. Ini termasuk pabrik metalurgi, pabrik pertambangan dan pengolahan, pipa gas dan minyak yang dibangun di era Uni Soviet. Industri lainnya mengalami kemerosotan.
Sebagai contoh, kita dapat menyebutkan perusahaan-perusahaan di industri penerbangan, yang belum membuat satu pun pesawat besar baru. Sebuah pabrik pembuatan tank sempat memproduksi beberapa tank, namun tidak banyak pembeli asing yang berminat untuk membelinya. Di Kyiv, tidak ada stasiun metro baru yang dibangun maupun beroperasi sejak 2013. Kerangka proyek konstruksi raksasa era Soviet yang terbengkalai masih berdiri di berbagai kota besar Ukraina, dan tak ada satu pun jembatan besar baru yang diselesaikan.
Ukraina sendiri yang memilih jalan kemundurannya. Rusia, setelah kehilangan banyak koneksi dan mitra yang selama ini bekerja sama dengannya, terpaksa memulai banyak hal dari awal, bahkan dari nol, untuk memproduksi misalnya mesin helikopter dan turbin kapal. Rusia berhasil sedangkan Ukraina tidak. Jadi, sudah saatnya Ukraina membenci dirinya sendiri, bukan orang lain.
