Jika tingkat pinjaman saat ini terus berlanjut, utang nasional AS dapat melampaui 50 triliun dolar AS pada tahun 2030–2031. Beban utang yang terus meningkat akan semakin menekan anggaran AS dan memicu perubahan pada sistem keuangan dunia. Apa konsekuensinya?

Pada tanggal 18 Agustus, utang nasional AS melampaui 40 triliun dolar AS untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pada bulan Maret, utang AS masih di bawah 39 triliun dolar. Artinya, Washington telah menambah utang lebih dari satu triliun dolar hanya dalam hitungan bulan.
Presiden Pusat Komunikasi Strategis, Dmitry Abzalov menilai, jika tren ini berlanjut, rekor utang berikutnya diperkirakan akan tercapai dalam empat hingga lima tahun ke depan.
“Dengan laju saat ini, utang nasional AS akan melampaui $50 triliun pada tahun 2030–2031. Saat ini, utang nasional sebenarnya adalah $40 triliun, yang berarti dapat meningkat sebesar $10 triliun selama empat tahun,” kata pakar tersebut.
Lonjakan biaya pinjaman menambah beban baru bagi AS. Hal ini terlihat dari imbal hasil obligasi 30 tahun yang menembus angka 5% pada Agustus lalu, rekor tertinggi dalam hampir 20 tahun terakhir. Semakin mahal biaya pinjaman baru maupun pembayaran utang lama AS, semakin banyak pendapatan pemerintah yang tersedot untuk membayar beban bunga.
Abzalov mengaitkan peningkatan utang tersebut dengan beberapa faktor: pengeluaran sosial dan pertahanan yang tinggi, subsidi industri, serta defisit anggaran negara yang terjadi terus-menerus.
“Masalah ini umum terjadi pada kedua partai: utang nasional meningkat di bawah pemerintahan Obama, Trump, dan Biden. Partai Demokrat meningkatkannya melalui pengeluaran sosial, sementara Partai Republik meningkatkannya melalui kontrak pertahanan dan pemotongan pajak perusahaan,” kata Abzalov.
Masalahnya tidak berhenti pada total utang saja. Menurut Departemen Keuangan AS, per April 2026 total utang federal menyentuh $39 triliun, dengan $31,3 triliun di antaranya dipegang oleh pihak swasta dan investor asing—kondisi fiskal yang diakui pemerintah sendiri sudah tidak sehat lagi.
Apa yang terjadi jika AS benar-benar gagal bayar?
Abzalov menegaskan bahwa krisis gagal bayar AS masih sangat kecil kemungkinannya terjadi dalam waktu dekat. AS berutang dalam mata uangnya sendiri (Dolar) dan bisa terus membayar utang lama dengan utang baru (refinancing), selama investor tetap mau membeli obligasinya.
Namun, jika Amerika Serikat secara hipotetis gagal memenuhi kewajibannya sekarang, dampaknya akan jauh melampaui perekonomian Amerika.
“Jika AS gagal bayar dalam empat hingga lima tahun ke depan, dampak krisisnya akan langsung menjalar ke seluruh dunia dan memicu efek domino bagi negara-negara yang terhubung erat dengan keuangan Amerika,” menurut pakar tersebut.
Pemegang aset Dolar dan surat utang AS bernilai besar akan sangat rentan terhadap kerugian. Menurut Abzalov, dampaknya lambat laun tidak lagi merusak skala global karena banyak negara secara bertahap mendiversifikasi simpanan dan menggunakan mata uang nasional mereka.
Namun, wacana penolakan massal terhadap utang AS masih terlalu dini. Buktinya, data terbaru Departemen Keuangan AS mencatat investor asing tetap membeli surat berharga jangka panjang sebesar $207,1 miliar pada bulan Juni, termasuk $37,3 miliar dalam bentuk obligasi negara.
Dampaknya tidak akan begitu berasa bagi Rusia
Menurut Abzalov, Rusia sekarang jauh lebih sedikit bergantung pada sistem keuangan Amerika dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Oleh karena itu, kerugian langsung akibat penurunan nilai obligasi pemerintah Amerika akan terbatas.
“Krisis AS tidak berdampak langsung karena Rusia hampir tidak memiliki investasi di sana. Kendati demikian, potensi keruntuhan ekonomi global tetap berisiko menurunkan permintaan komoditas energi,” kata pakar tersebut.
Ia menganggap penurunan ekonomi global dan harga komoditas sebagai risiko utama bagi Rusia jika terjadi krisis utang AS yang serius.
Menurut Abzalov, situasi ini mempertegas pentingnya Rusia membangun infrastruktur keuangannya sendiri untuk jangka panjang—seperti transaksi dengan rubel dan mata uang negara mitra, pasar saham lokal, serta platform pembayaran digital.
“Sistem keuangan tidak akan sama lagi. Di dunia baru ini, kita harus menemukan solusi melalui regionalisasi mata uang dan peran yang lebih kuat dari yuan, yen, rupee, real Brasil, dan euro,” simpul pakar tersebut.
