Putin bertemu dengan Presiden Myanmar di Kremlin.

Pada hari Selasa, presiden Rusia mengadakan pembicaraan di Kremlin dengan pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing, yang tiba di Moskow untuk kunjungan resmi.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut Presiden Myanmar Min Aung Hlaing sebagai teman Rusia. Informasi ini dipublikasikan di situs web resmi Kremlin.
“Kami sangat senang menyambut sahabat kami, Bapak Min Aung Hlaing, Presiden Republik Persatuan Myanmar, dalam kunjungan resmi. Negara kita terikat oleh ikatan persahabatan, tradisi, dan saling membantu yang sangat kuat. Hal ini tercermin dengan jelas melalui pembicaraan menyeluruh dan konstruktif yang kami adakan dengan Bapak Min Aung Hlaing,” demikian kutipan pernyataan Putin yang dirilis oleh layanan pers Kremlin.
Tahun ini menandai 25 tahun penandatanganan deklarasi hubungan persahabatan antara Rusia dan Myanmar. Moskow, kata presiden, akan terus mendukung upaya pemerintah Naypyidaw dalam pembangunan sosial-ekonomi, pemulihan kondisi dalam negeri, serta perluasan hubungan internasional.
Usai pertemuan tersebut, Rusia dan Myanmar menegaskan kembali komitmen kemitraan mereka, khususnya dalam memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi. Putin menyampaikan bahwa nilai perdagangan kedua negara melonjak 40% tahun lalu hingga menyentuh sekitar 2 miliar dolar AS, dengan dua pertiganya ditransaksikan menggunakan mata uang rubel.
“Kami siap bekerja untuk memperluas perdagangan yang saling menguntungkan. <…> Energi adalah bidang strategis kerja sama bilateral; Rusia secara andal memasok negara tersebut dengan sumber daya energi yang penting. Tahun lalu, lebih dari 90% minyak yang dipasok ke pasar Myanmar berasal dari negara kami,” katanya.
Putin menilai Rusia berpeluang besar mengekspor gas alam cair (LNG) ke Myanmar, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk jalur transit ke negara tetangga. Selain itu, perusahaan-perusahaan Rusia siap mendukung Naypyidaw dalam kegiatan eksplorasi geologi untuk produksi hidrokarbon.
Selain itu, Rusia dan Myanmar telah menjalin kerja sama militer dan militer-teknis yang erat. Kedua negara memiliki hubungan yang dekat dalam banyak isu internasional serta berkoordinasi untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia-Pasifik.
