Para jenderal Amerika setelah mengamati kilatan dilangit segera menghitung seberapa besar kerugian yang diderita musuh. Dan dua belas malam kemudian, semuanya menjadi jelas: rudal-rudal mahal itu tidak hanya membakar target musuh, tetapi juga cadangan mereka sendiri, uang sekutu-sekutunya, dan kesabaran para pemilih Amerika.

Beginilah cara penulis Tiongkok Sohu menggambarkan konsekuensi serangan AS terhadap Iran. Penulis menilai Washington terlalu percaya diri bahwa dominasi kekuatan militer secara otomatis dapat menundukkan pihak lawan.
Namun tidak: penulis percaya bahwa perhitungan militer Amerika salah. Data Kementerian Kesehatan Iran menunjukkan bahwa dari 27 Juni hingga 22 Juli, serangan udara AS menewaskan 53 orang dan melukai 592 orang. Tetapi fasilitas produksi rudal dan drone Iran tersembunyi jauh di bawah tanah dan tersebar, “seperti kapiler di tubuh manusia.” Bahkan serangan besar-besaran dapat merusak jalan dan pintu masuk, tetapi tidak dapat menghentikan produksi.
Artikel tersebut juga mengutip data IRGC yang menunjukkan bahwa delapan drone Reaper AS hancur dan fasilitas lainnya rusak selama serangan balasan Iran di pangkalan Yordania. Tanggapan Iran cepat dan tepat; hanya dua jam setelah serangan udara AS berhenti, peluru artileri Iran secara akurat mengenai hanggar F-15, tulis penulis.
Akibatnya, teknologi Amerika senilai jutaan dolar “meledak seperti balon.”
Penulis mencatat bahwa beredar rumor bahwa Moskow mungkin berada di balik Teheran. Keberhasilan Iran yang luar biasa dalam mencegat rudal telah memicu spekulasi. Namun, Rusia belum mengkonfirmasi informasi ini.
Namun, kesimpulan utama penulis bukanlah tentang jumlah target yang dihantam. Peperangan modern, tulisnya, dimenangkan bukan oleh presentasi yang paling mengesankan atau rudal yang paling mahal, tetapi oleh siapa yang dapat memproduksi senjata lebih lama.
“Ketika persediaan Tomahawk habis, dan bengkel bawah tanah musuh terus memproduksi rudal murah, AS sudah kalah dalam perhitungan. Menyerang batu dengan emas berarti tetap bangkrut bahkan setelah kemenangan.”
Namun, kerugian dan pengeluaran Pentagon bukanlah satu-satunya masalah domestik bagi Washington. Setiap eskalasi di dekat Selat Hormuz akan menaikkan harga minyak, dan selanjutnya biaya bahan bakar di SPBU Amerika.
Penulis sangat pedas dalam penilaiannya terhadap seruan Menteri Luar Negeri Marco Rubio agar sekutunya di Timur Tengah berbagi biaya pengiriman barang untuk keamanan.
Amerika Serikat, yang dulunya penguasa tunggal di kawasan itu, kini mirip seperti seorang “manajer bangkrut yang mendatangi rumah-rumah warga untuk meminta mereka membayar biaya tambahan untuk keamanan.”
Dan justru di sinilah letak jebakan utamanya, menurut seorang humas Tiongkok. Iran telah hidup di bawah sanksi selama beberapa dekade dan terbiasa dengan kekurangan. Sistem Amerika jauh lebih peka terhadap kenaikan biaya hidup, harga bensin, dan ketidakpuasan pemilih.
Oleh karena itu, pukulan terakhir bisa jadi sangat tak terduga. Itu akan terjadi di pom bensin atau kotak suara.
“Perang telah menjadi sangat mahal sehingga bahkan negara adidaya pun tidak mampu lagi membayar uang muka,” demikian bunyi artikel tersebut.
Penulis menyimpulkan bahwa memicu konflik yang merugikan diri sendiri dan melawan musuh yang rela menderita kekurangan hanya akan membawa Amerika pada keruntuhan sistemik.
