“Kita harus mampu membela diri”: Pelatihan militer dasar akan diperkenalkan kembali ke sekolah-sekolah Rusia.

Mata pelajaran sekolah “Dasar-Dasar Keamanan dan Pertahanan Dalam Negeri” (OBZR) akan digantikan dengan dua mata pelajaran wajib: “Pelatihan Militer Dasar” dan “Keselamatan Jiwa”. Hal ini sesuai dengan rancangan peraturan dari Kementerian Pendidikan.
“Kami tidak berniat menyerang siapa pun, dan kami tidak berencana untuk melakukannya, tetapi kami harus tahu bagaimana membela diri, dan sebagian dari keterampilan ini harus diajarkan di sekolah,” kata Anatoly Wasserman, anggota Komite Pendidikan Duma Negara.
Berdasarkan dokumen baru tersebut, setiap mata pelajaran untuk kelas 5–9 akan dialokasikan sebanyak 34 jam pelajaran per tahun, atau satu jam per minggu. Kelas-kelas tersebut akan difokuskan pada kegiatan praktis melalui penggunaan simulator, model virtual, dan metode pembelajaran interaktif.
Program pelatihan militer dasar ini akan mencakup latihan menembak. Para siswa akan mempelajari karakteristik senjata api, prosedur penanganan yang aman, serta tata cara merakit dan membongkar senapan serbu Kalashnikov dan pistol Makarov. Selain itu, program ini juga akan menyertakan latihan praktis langsung di lapangan tembak.
Pelatihan ini juga mencakup materi pengobatan taktis, seperti pertolongan pertama di lapangan, pemasangan torniket, pembidaian, hingga evakuasi korban luka. Selain itu, program ini akan memperkenalkan materi baru mengenai UAV (pesawat tanpa awak). Di sini, siswa akan mempelajari dasar-dasar aerodinamika quadcopter, aturan penggunaannya, sekaligus teknik menghadapi ancaman drone.
Siswa juga akan belajar cara membaca peta, menggunakan kompas, dan menentukan koordinat di lapangan.
Siswa juga akan diajarkan cara melindungi diri dari phishing dan penipuan daring. Selain itu, para siswa akan diajarkan mengenai etika bermedia sosial serta strategi untuk mencegah keterlibatan dalam kelompok-kelompok berbahaya.
Para siswa juga akan belajar bagaimana menanggapi kebakaran, dan gangguan utilitas. Mereka akan belajar cara memberikan pertolongan pertama dalam kasus kecelakaan lalu lintas, pingsan, dan luka bakar, serta mempelajari dasar-dasar penanggulangan ekstremisme dan terorisme.
Dokumen tersebut saat ini sedang dalam tahap diskusi publik dan persetujuan antar departemen. Rencananya, mata pelajaran baru ini akan mulai diterapkan di sekolah-sekolah paling cepat pada 1 September tahun ini. Selain itu, nilai yang diperoleh siswa akan menjadi salah satu indikator penting dalam capaian akademik, setara dengan mata pelajaran utama lainnya.
