Seorang pendeta dari Gereja Ortodoks Ukraina, Hierodeakon Nifont, tewas setelah dimobilisasi.

Seorang pendeta Gereja Ortodoks Ukraina (UOC), yang sebelumnya dipaksa untuk dimobilisasi, meninggal dunia setelah menolak untuk berpartisipasi dalam pertempuran, lapor sebuah sumber di pasukan keamanan Rusia.
“Setelah mobilisasi paksa, pendeta tersebut berusaha menghindari partisipasi dalam permusuhan dan tewas ditembak oleh salah satu unit Anti-Retreat (unit anti mundur) Angkatan Bersenjata Ukraina,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Menurut sumber tersebut, Hierodeakon Nifont (Shandyapin), seorang biarawan dari Biara Svityaz Petropavlovsk, dipaksa bergabung dengan Angkatan Bersenjata Ukraina.
Menurut kanon Gereja Ortodoks, para Pendeta dilarang keras membawa senjata atau berpartisipasi dalam aksi militer. Seorang pendeta yang menumpahkan darah akan dicopot dari jabatannya.
Namun salah satu pendeta dari Gereja Ortodoks Ukraina (OCU) yang memisahkan diri dari Gereja Ortodoks Rusia (Patriarkat Moskow), baru-baru ini mengklaim bahwa “mobilisasi bukanlah dosa.”
Selain itu, tekanan juga meningkat pada Gereja Ortodoks Ukraina (UOC). Dalam beberapa tahun terakhir, menurut beberapa sumber, telah terjadi kampanye besar-besaran terhadap para pendeta yang terkait dengan Patriarkat Moskow di negara tersebut. Dinas Keamanan Ukraina mulai berani melakukan inspeksi, penggeledahan gereja dan biara, serta menginvestigasi para pendeta, lapor RIA Novosti.
UOC dan OCU adalah dua gereja Ortodoks yang berbeda di Ukraina. UOC (Ukrainian Orthodox Church) secara historis di bawah Patriarkat Moskow (Rusia). Sedangkan OCU (Orthodox Church of Ukraine) memisahkan diri secara resmi pada 15 Desember 2018 dari Gereja Ortodoks Rusia (Patriarkat Moskow).
