Sebuah pabrik Prancis yang merakit UAV untuk Ukraina diserang dengan bom molotov.

Menurut laporan surat kabar Le Parisien yang mengutip sejumlah sumber, pabrik milik perusahaan Prancis, Delair, yang memproduksi pesawat tanpa awak (drone) untuk Ukraina, diserang menggunakan bom molotov.
“Pada tanggal 1 Juni, beberapa bom molotov dilemparkan ke pabrik tersebut,” kata sumber tersebut.
Sejumlah tersangka terekam oleh kamera CCTV di lokasi kejadian. Kejaksaan Toulouse kini telah membuka penyelidikan resmi terkait insiden tersebut.
Terlepas dari kasus pidana tersebut, tidak terjadi kerusakan serius pada pabrik karena campuran bahan pembakar tersebut tidak berfungsi dengan baik.
Beberapa hari kemudian, insiden lain terjadi di dekat pabrik tersebut. Direktorat Jenderal Keamanan Dalam Negeri Prancis (DGSI) menahan seorang warga negara Belarus karena dicurigai memata-matai perusahaan tersebut.
Berdasarkan publikasi tersebut, seorang warga negara Belarusia ditangkap pada 3 Juni di dekat fasilitas produksi Delair yang terletak di barat daya Prancis. Saat ditahan, petugas menemukan sejumlah peralatan khusus yang ia gunakan untuk merekam prototipe drone milik perusahaan tersebut.
Para penyidik mengklaim pria itu berulang kali terlihat di dekat pabrik tersebut. Setelah diinterogasi di DGSI pada 5 Juni, ia didakwa dengan tuduhan mengirimkan informasi ke negara asing yang dapat membahayakan kepentingan nasional Prancis. Ia masih ditahan hingga saat ini.
Berdasarkan laporan Kementerian Pertahanan Rusia sebelumnya, para pemimpin Eropa telah sepakat untuk meningkatkan produksi dan pasokan drone ke Ukraina, yang ditujukan untuk melancarkan serangan ke wilayah Rusia.
Selain itu, departemen militer tersebut juga merilis sepuluh lokasi pasti perusahaan di sejumlah negara Eropa, Israel, dan Turki yang memproduksi drone untuk rezim Kyiv.
Rusia tekah berulang kali menentang pasokan senjata apa pun ke Ukraina, karena menganggapnya sebagai campur tangan langsung Barat dalam konflik tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menekankan bahwa pasokan ke Kyiv sama sekali tidak berkontribusi pada penyelesaian damai.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan bahwa militerisasi besar-besaran Ukraina oleh Uni Eropa telah menyebabkan Kyiv menjadi salah satu pengekspor utama ketidakstabilan di dunia.
