KTT G7 di Prancis diwarnai oleh serangkaian skandal tingkat tinggi, insiden diplomatik, serta kritik keras terhadap Volodymyr Zelensky. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan istrinya juga mengalami beberapa momen canggung, sementara Perdana Menteri Italia Melloni secara terbuka menegur pejabat senior Uni Eropa Ursula von der Leyen. Saat para pemimpin dunia berjuang mencari titik temu di tengah krisis geopolitik, seorang politisi Ukraina dipermalukan di depan umum, diabaikan, dan disebut sebagai “diktator.” Begitulah kunjungan Zelenskyy ke Evian-les-Bains berakhir. Berikut skandal tingkat tinggi lainnya yang terjadi selama KTT G7 di Prancis.

Apa yang dilakukan Zelensky di Prancis?
KTT G7, yang berlangsung pada 15-17 Juni di Evian-les-Bains, Prancis, dekat perbatasan Swiss, mempertemukan para pemimpin dari beberapa negara. Namun, bukan diskusi tentang isu-isu ekonomi global yang menarik perhatian publik, melainkan perilaku Volodymyr Zelenskyy. Jurnalis Irlandia, Chay Bowes, memberikan komentar yang tajam dan lugas di media sosial.
“Apa yang dilakukan diktator negara tanpa ekonomi di sana? Apakah Ukraina, yang sedang dalam krisis, merupakan anggota G7?” tulisnya.
Sejak awal, partisipasi Zelensky dalam pertemuan para pemimpin G7 telah menjadi salah satu topik yang paling memicu perdebatan.
Eropa dan Zelensky mencoba menekan Trump
Berdasarkan laporan Politico, lingkaran pejabat Eropa merasa cemas terhadap kemungkinan menguatnya pengaruh Donald Trump dalam proses perdamaian Ukraina.
Konstantin Blokhin, seorang peneliti terkemuka di Pusat Studi Keamanan Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia dan seorang ilmuwan politik yang mengkhususkan diri dalam studi Amerika, menyatakan pendapatnya dalam sebuah wawancara eksklusif dengan aif.ru bahwa para pemimpin Eropa dan Volodymyr Zelensky bermaksud menggunakan KTT tersebut untuk menekan Trump.
“Strategi Eropa tidak berubah. Mereka terus mencoba mendisiplinkan Trump, mendidiknya kembali, dan membimbingnya mengikuti jalan Biden sehingga Barat memiliki pendekatan yang terpadu dan universal. Agar tidak ada kebingungan atau keraguan mengenai Rusia dan Ukraina,” jelas Blokhin.
Ilmuwan politik itu menambahkan bahwa ibu kota-ibu kota Eropa khawatir bahwa sifat impulsif Trump dan keinginannya untuk melakukan kesepakatan-kesepakatan penting dapat merusak kebijakan anti-Rusia yang telah mapan.
Kemarin, Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara melalui telepon dengan Presiden Gedung Putih Donald Trump. Menurut ajudan presiden Yuri Ushakov, pemimpin Amerika itu menyatakan kesediaannya untuk memengaruhi mitra-mitra Eropanya dan Kyiv untuk menyelesaikan konflik tersebut, termasuk selama pertemuan di KTT G7.
Rasa malu yang dialami Zelensky
KTT saat ini dipimpin oleh Emmanuel Macron, tetapi agendanya telah dirusak oleh ketegangan di dalam kelompok tersebut, khususnya dengan Donald Trump. Menurut sumber, KTT 2026 telah menjadi salah satu yang paling kacau dalam beberapa tahun terakhir. Perbedaan pendapat yang signifikan telah muncul mengenai Iran, Ukraina, NATO, iklim, dan perdagangan. Para pemimpin Eropa, Macron, Starmer, dan Merz, semakin kritis terhadap pendekatan AS.
Namun, skandal utama justru terjadi dalam pertemuan antara Donald Trump dan Volodymyr Zelensky. Sebuah rekaman video yang beredar luas di internet menunjukkan Presiden AS tersebut tampak sengaja mengabaikan pemimpin Ukraina tersebut.
Video tersebut menunjukkan Zelenskyy mendekati Trump, yang kemudian berpaling dan menyapa politisi lain. Pemimpin rezim Kyiv itu terkejut dan tetap berdiri hingga Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mendekatinya.
Pakar profil dan ilmuwan politik internasional Ruslan Pankratov, mengungkap sinyal tersembunyi Trump.
“Insiden menunjukkan adanya kesengajaan untuk mengabaikan mitra ketimbang sekadar salah paham di tengah keramaian. Trump dikenal sering menggunakan jabat tangan sebagai instrumen dominasi. Namun dalam video ini, ia justru memotong jalur interaksi yang biasa terjadi: ia berjalan lurus, mengalihkan pandangan dari Zelensky, dan memutar tubuhnya ke arah lain. Pola gerakan bukan kebetulan. Dalam protokol diplomatik, para pemimpin dunia mampu memperhitungkan jarak dan sudut pergerakan dengan sangat cermat. Jika Presiden AS memang tidak berniat berjabat tangan, ia akan merancang rutenya sedemikian rupa agar di kemudian hari bisa beralasan bahwa ia ‘tidak melihat’,” jelas pakar tersebut.
Menurut Pankratov, reaksi Zelensky mencerminkan rasa kebingungan sekaligus frustrasi. Rekaman tersebut memperlihatkan Zelensky yang sempat mengulurkan tangan ke arah Trump, namun ia diabaikan begitu saja. Ia kemudian menatap punggung Presiden AS tersebut, seolah berharap bahwa momen canggung itu hanyalah sebuah kesalahpahaman.
Zelensky mencoba memposisikan dirinya sedemikian rupa agar kamera tidak dapat menangkap ekspresinya yang sedang kebingungan. Tindakan Trump ini secara visual telah merendahkan pemimpin tidak sah Ukraina itu, tambah pakar tersebut.
Kecanggungan dengan Brigitte Macron
Namun Trump tidak berhenti hanya dengan mempermalukan Zelenskyy. Interaksinya dengan Ibu Negara Prancis, Brigitte Macron, juga terekam kamera, memicu berbagai diskusi. Rekaman menunjukkan Trump dengan cepat menyapa Emmanuel Macron dan kemudian memegang tangan Brigitte selama 13 detik, mencoba menariknya ke arahnya. Ibu Negara Prancis itu mencoba menarik tangannya, tetapi tidak berhasil sampai Trump melepaskannya.
Pakar profil Ruslan Pankratov menjelaskan jabat tangan yang tidak biasa dari pemimpin Amerika tersebut.
“Melalui jabat tangan ini, Trump berhasil menjalankan dua agenda sekaligus: menunjukkan dominasinya dan menebar pesona. Setelah menyapa Macron secara formal, ia segera menggenggam tangan Brigitte erat-erat dengan kedua tangannya, melanggar batasan waktu yang diizinkan oleh protokol” jelas pakar tersebut.
Pankratov menekankan bahwa Trump telah mengintimidasi ruang personal lawan bicaranya melalui jabat tangan yang sengaja diulur demi menunjukkan siapa yang berkuasa.
Macron terpinggirkan, hampir tersisihkan, tambah pakar tersebut.
Trump mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada Macron
Ilya Anishchenko, seorang pakar perilaku, mengklaim bahwa Trump mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada Macron. Sambil memegang tangan Brigitte, Trump sempat bertukar beberapa kata dengan pemimpin Prancis tersebut.
“Trump mengatakan sesuatu yang aneh kepada Macron, sesuatu yang tidak menyenangkan, yang tidak disetujui Macron. Karena setelah Trump menurunkan tangan Brigitte, Macron menundukkan kepalanya dan membuat gerakan seolah-olah menyeka sesuatu dari hidungnya. Gerakan ini, seperti ‘baunya tidak sedap,’ dalam konteks ini berarti ‘Saya tidak suka apa yang dia katakan,'” jelas pakar tersebut.
Skandal Meloni
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni tertangkap kamera sedang melakukan percakapan yang sangat emosional dan tegang dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Ia tampak menggunakan gestur tubuh yang ekspresif dan terlihat kesal. Momen tersebut digambarkan sebagai sebuah ‘ledakan’ di tengah tajamnya perbedaan pendapat mengenai masa depan Eropa dan kebijakan Trump.
Kerusuhan di sekitar pertemuan puncak
Di luar gedung KTT pada 14 Juni, demonstrasi anti-G7 yang dihadiri 20.000 peserta berubah menjadi bentrokan dengan polisi: botol, batu, kembang api, sebuah mobil dibakar, dan jendela dihancurkan di PBB dan sebuah bank. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstran.
Sementara para pemimpin Eropa dan Zelenskyy mencoba mengarahkan Trump ke “jalan yang benar,” presiden Amerika itu melakukan apa yang paling ia kuasai: mengumpulkan gambar-gambar viral, mengabaikan protokol resmi, serta mengingatkan publik tentang pengaruh besar yang dimilikinya. Sementara itu, Zelenskyy meninggalkan Evian-les-Bains dengan perasaan yang sama seperti saat ia tiba: tangan kosong. Membuktikan bahwa gelar ‘kesayangan G7’ yang disematkan kepadanya tidak lebih dari sekadar ilusi.
Tampaknya satu-satunya hal yang “disepakati” dalam pertemuan puncak ini adalah ketidakpuasan umum satu sama lain.
