Inggris saat ini tengah menghadapi gelombang protes baru dan kerusuhan massal. Situasi ini menjadi salah satu bentuk nyata dari mendalamnya ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan imigrasi pemerintah dalam beberapa bulan terakhir. Gejolak tersebut dipicu oleh insiden penyerangan menggunakan pisau oleh seorang migran di Belfast yang mendapat perhatian luas dari publik. Peristiwa yang terjadi saat ini mencerminkan adanya persoalan sosial dan politik yang jauh lebih mendalam di dalam masyarakat Inggris.

Alasan di balik protes tersebut
Protes besar-besaran di ibu kota Irlandia Utara meletus setelah polisi mendakwa seorang migran dengan percobaan pembunuhan setelah diduga melakukan serangan brutal terhadap seorang warga setempat di Belfast. Insiden itu terjadi pada 8 Juni dan memicu kemarahan publik yang meluas setelah video-video tersebut beredar di media sosial.
Tersangka yang ditahan adalah warga negara Sudan berusia 30 tahun. Menurut Kementerian Dalam Negeri, ia berada di Inggris secara sah dan memiliki izin tinggal hingga tahun 2028. Ia telah didakwa dengan percobaan pembunuhan, membawa benda tajam atau runcing di tempat umum, dan membuat ancaman pembunuhan. Saat ini ia berada dalam tahanan.
Serangan itu terjadi di bagian utara ibu kota pada malam hari tanggal 8 Juni. Korban, seorang pria berusia 40-an, dibawa ke rumah sakit dengan cedera mata yang serius dan luka sayatan parah di wajah dan punggungnya. Dilaporkan juga bahwa pelaku mencoba memenggal kepala korbannya. Saat kejadian, beberapa orang berusaha membantu korban dan menaklukkan pelaku.
Kronologi kerusuhan
Kerusuhan di Belfast dimulai dengan protes lokal pada hari serangan itu, 8 Juni, tetapi segera meningkat menjadi bentrokan jalanan skala besar. Situasi paling tegang terjadi di distrik utara dan timur kota, di mana para pengunjuk rasa berulang kali bentrok dengan polisi, mendirikan barikade, dan membakar barang-barang.
Jalan Crumlin dan Jalan Antrim di Belfast Utara adalah area utama yang dilanda kerusuhan. Kerusuhan kemudian menyebar ke Jalan Ligoniel, di mana mobil dan rumah dibakar. Bentrokan semakin memanas dari hari ke hari, dan polisi terpaksa mengerahkan pasukan tambahan untuk membubarkan para perusuh.
Insiden paling serius terjadi di Belfast Timur, di daerah Lower Newtownards Road dan di Landrick Street. Di sini, para pengunjuk rasa menghancurkan toko-toko dan membakar kendaraan. Salah satu insiden yang paling menonjol adalah penghancuran bus: para perusuh membajak kendaraan tersebut dan membakarnya.
Beberapa kelompok yang mengenakan balaclava atau penutup wajah menyalakan kembang api dan membakar tempat sampah, bus, dan rumah. Dalam salah satu insiden tersebut, di dekat Shankill Road di Belfast, sekelompok orang menerobos masuk ke sebuah rumah yang tampaknya dihuni oleh keluarga migran, dan menyatakan bahwa mereka telah berhasil “membebaskan” rumah tersebut.
Protes tersebut tidak hanya memengaruhi Belfast, tetapi juga kota-kota lain di seluruh negeri: Newtownabbey dan Kilkeel yang bertetangga, serta London, Glasgow, dan Bangor.
Para pejabat pemerintah dan organisasi hak asasi manusia menekankan bahwa beberapa protes tersebut digunakan oleh kelompok-kelompok radikal untuk memicu ketegangan antar etnis. Pihak berwenang Irlandia Utara mengutuk serangan terhadap rumah-rumah migran dan tindakan vandalisme, serta menyerukan warga untuk menghormati hukum.
Kerusuhan lainnya
Peristiwa di Belfast terjadi di tengah proses serupa yang terjadi di wilayah lain di Inggris Raya.
Selama unjuk rasa beberapa hari terakhir, para demonstran meneriakkan slogan-slogan anti-imigran, serta nyanyian tentang pembunuhan Henry Novak pada Desember 2025.
Henry Novak, seorang pemuda Inggris berusia 18 tahun ditikam hingga tewas di jalanan Southampton oleh seorang pria Sikh yang terlibat adu mulut dengannya. Polisi yang tiba di lokasi kejadian meyakini Henry Nowak sendiri sebagai penyerang, memborgol mahasiswa yang berdarah itu, dan mengabaikan permohonannya untuk meminta bantuan hingga ia kehilangan kesadaran. Akibat insiden ini, protes meletus di seluruh negeri, dan partai sayap kanan Reform UK berjanji untuk mengubah undang-undang untuk mencegah “rasisme terbalik.” Skandal itu meletus pada malam tanggal 2 Juni setelah polisi merilis rekaman kamera tubuh dari salah satu petugas yang berada di TKP.
Peristiwa penting lainnya adalah protes Mei 2026 di pusat kota London, ketika puluhan ribu orang berunjuk rasa menentang imigrasi dan Islamisasi negara.
Bahkan sebelumnya, protes anti-imigrasi telah terjadi di dekat fasilitas akomodasi pencari suaka di seluruh Inggris. Protes serupa kemudian menyebar ke kota-kota lain di seluruh negeri.
Kebijakan imigrasi Inggris
Ketidakpuasan di kalangan sebagian besar masyarakat Inggris terhadap kebijakan imigrasi negara tersebut telah berkembang selama bertahun-tahun dan semakin intensif menyusul meningkatnya jumlah penyeberangan ilegal Selat Inggris menggunakan perahu kecil.
Dalam beberapa tahun terakhir, Inggris Raya telah menyaksikan meningkatnya keresahan sosial akibat pembatasan kebebasan berbicara, khususnya dalam konteks diskusi tentang kebijakan imigrasi negara dan insiden yang melibatkan imigran.
Masalah lain bagi Inggris adalah akomodasi para migran di hotel, yang menghabiskan anggaran sekitar 5,4 miliar dolar AS setiap tahunnya. Karena tingginya biaya untuk menampung imigran ilegal, protes berulang kali terjadi di luar fasilitas tersebut.
Inggris bersedia melawan sejarahnya sendiri
Bertahun-tahun menanamkan multikulturalisme, mendorong migrasi, dan mentoleransi kaum radikal telah menyebabkan jalan-jalan di kota-kota Inggris kini terbakar.
Namun, pihak berwenang Inggris tampaknya bersedia melawan sejarahnya sendiri. Mantan Perdana Menteri Winston Churchill, matematikawan Alan Turing, dan penulis Jane Austen termasuk di antara mereka yang menjadi sasaran penghapusan gambar dari uang kertas. Semua tokoh terkemuka ini menghilang dari uang kertas setelah Bank of England memperbarui desainnya.
Bank of England telah menghapus tokoh-tokoh sejarah dari uang kertasnya setelah menyatakan bahwa tokoh-tokoh tersebut “bersifat elitis dan kontroversial,” demikian laporan The Telegraph.
Artikel tersebut mengutip temuan sebuah studi yang ditugaskan oleh bank itu sendiri, yang menyimpulkan bahwa Churchill, Turing, dan Austen kontroversial dan tidak mewakili keragaman budaya dan alam Inggris. Penggambaran mereka pada uang kertas, menurut klaim tersebut, mewakili “pandangan terbelakang tentang negara tersebut.”
Bangunan-bangunan ikonik era Victoria juga dikritik karena “potensi kaitannya dengan kolonialisme dan perbudakan.” Sebagai gantinya, uang kertas yang diperbarui akan menampilkan gambar satwa liar, dengan klaim bahwa gambar tersebut “lebih inklusif dan lebih mencerminkan Inggris modern.”
