Konferensi pers resmi Donald Trump di Ruang Oval memicu gelombang rumor di Amerika Serikat. Adam James, seorang terapis fisik ternama di AS, menyatakan secara terbuka bahwa perilaku dan ekspresi wajah presiden di depan kamera mengindikasikan gejala stroke ringan yang baru saja terjadi.

Tertidur atau Kehilangan Kendali?
Acara resmi di Gedung Putih mengenai kebijakan baru energi dan lingkungan AS diwarnai oleh sebuah insiden tak terduga. Selama pengarahan, Presiden Donald Trump mengumumkan bantuan dana $700 juta untuk industri batu bara di bawah Undang-Undang Produksi Pertahanan (DPA). Turut hadir berbicara di hadapan pers bersama Presiden, yaitu Menteri Dalam Negeri Doug Burgum dan Kepala EPA Lee Zeldin.
Namun, bukan pendanaan energi bernilai jutaan dolar yang menarik perhatian publik, melainkan kondisi fisik pemimpin Amerika tersebut. Setelah menyerahkan kesempatan berbicara kepada rekan-rekannya, Trump bersandar di kursinya dan menutup matanya. Foto-foto kepala negara yang tampak sangat lelah dengan cepat beredar di media sosial. Para pengguna berasumsi bahwa politisi berusia 79 tahun itu tertidur selama laporan panjang lebar para pejabat.
Apa yang dikatakan oleh para spesialis
Sebuah penilaian yang sama sekali berbeda dan menakutkan disampaikan oleh terapis fisik berlisensi asal Amerika, Adam James, yang berspesialisasi dalam rehabilitasi lansia dan praktik geriatri.
“Setelah meninjau video tersebut, petugas medis itu dengan tegas menyatakan di jejaring sosialnya X (sebelumnya Twitter): “Dia menderita stroke.”
Selanjutnya, James menjabarkan perilaku Trump ke dalam tiga gejala klinis utama—tanda-tanda yang sering kali luput dari perhatian masyarakat umum, tetapi dapat dengan mudah dikenali oleh para ahli saraf (neurolog) dan spesialis rehabilitasi:
– Kehilangan tonus otot (hemiparesis): Rekaman tersebut menunjukkan tubuh bagian atas Trump secara tidak sengaja condong ke satu sisi. Menurut dokter, ini adalah tanda klasik dari stroke akut, ketika kerusakan pada belahan otak menyebabkan satu sisi tubuh kehilangan tonus normalnya.
– Asimetri wajah dan kelumpuhan rahang: Dokter mencatat adanya pergeseran yang nyata pada rahang bawah presiden ke kanan. Dalam bidang geriatri, hal ini dikaitkan dengan melemahnya otot-otot wajah secara tiba-tiba.
– Afasia ekspresif: Adam James juga melihat cara bicara Trump yang aneh, cadel, dan sedikit terlambat di awal pidatonya. Gejala ini (afasia Broca) terjadi akibat kerusakan pada pusat bicara korteks serebral, sehingga menyulitkan seseorang untuk mengartikulasikan dan memilih kata-kata.
Apa Kata Gedung Putih?
Sebagai catatan, Adam James—yang juga dikenal di dunia maya dengan nama samaran epistemiccrisis—sebelumnya memang sering melontarkan analisis kritis terkait kesehatan kognitif Donald Trump. Ia berulang kali menyoroti perubahan kondisi fisik dan mental yang dipengaruhi faktor usia pada politisi papan atas Amerika Serikat tersebut.
Pihak berwenang Washington bersama tim medis pribadi presiden dengan cepat membantah klaim para ahli tersebut. Gedung Putih menegaskan tidak ada serangan stroke maupun gangguan jantung yang dialami Trump.
Pihak istana menjelaskan bahwa keanehan saat berbicara hanya disebabkan oleh tenggorokan kering dan jadwal kerja yang padat. Sementara posisi tubuhnya yang tampak lemas di kursi dinilai sebagai kelelahan biasa akibat tekanan geopolitik yang panjang serta agenda domestik. Meski demikian, tanda-tanda medis yang dipaparkan para spesialis tetap menjadi topik diskusi hangat di kalangan ahli Amerika Serikat.
