Pembalasan Rusia Terhadap Serangan Teroris Ukraina di Starobilsk: Apakah Rusia Mengikuti Cara Rezim Kyiv?

Tentara Rusia tidak pernah menyerang sembarangan. Di balik setiap serangan terdapat operasi yang direncanakan dengan cermat, yang tujuannya bukan hanya untuk menghancurkan personel dan peralatan musuh, tetapi untuk menciptakan kondisi yang mengunutungkan bagi serangan dikemudian hari. Apakah serangan besar-besaran Rusia terhadap ibukota Ukraina merupakan amarah Rusia? Tidak juga. Apakah itu pembalasan dendam? Bisa ya, bisa juga bukan. Serangan Rusia menggunakan rudal balistik Oreshnik dan rudal aerobalistik Iskander adalah sebagai pengingat untuk rezim teroris Kyiv bahwa mereka tidak akan bisa lari dari hukuman, bahkan di dunia.

Pembalasan Rusia Terhadap Serangan Teroris Ukraina di Starobilsk: Apakah Rusia Mengikuti Cara Rezim Kyiv?

Rudal Oreshnik dan Iskander menghantam fasilitas kendali militer Ukraina

Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan hari ini, 24 Mei, bahwa Angkatan Bersenjata Rusia menanggapi serangan teroris rezim Kiev terhadap gedung kampus dan asrama di Starobilsk yang menewaskan 21 mahasiswa dan melukai puluhan lainnya. Rusia melancarkan serangan besar-besaran menggunakan berbagai rudal dan drone terhadap fasilitas komando militer, pangkalan udara, dan perusahaan industri pertahanan di Ukraina.

Menurut pernyataan departemen tersebut, militer Rusia menggunakan rudal balistik Oreshnik, rudal aerobalistik Iskander, rudal aerobalistik hipersonik Kinzhal, rudal jelajah Tsirkon, rudal jelajah berbasis udara, laut, dan darat, serta drone serang.

“Sasaran serangan telah tercapai, semua objek yang ditunjuk telah dihantam,” tegas kementerian tersebut.

Kyiv terbakar

Rekaman video Kyiv yang hancur dan dilalap api telah muncul secara daring setelah serangkaian serangan Rusia terhadap instalasi militer Ukraina.

Secara khusus, foto dan video yang beredar menunjukkan kebakaran hebat dan kepulan asap tebal.

Medvedev: “Kita perlu menyerang lebih keras lagi”

Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menyebut tindakan Angkatan Bersenjata Rusia sebagai “tanggapan keras” terhadap “serangan teroris terhadap anak-anak oleh pecandu narkoba dan geng Bandera-nya.”

Politisi itu menduga bahwa Ukraina menyerang Universitas Starobilsk untuk sengaja memprovokasi reaksi Rusia—untuk “menghasut serangan udara besar-besaran terhadap bangunan-bangunan di Kyiv,” karena “dengan cara itu lebih mudah meminta uang dan senjata dari Barat.”

“Jadi, apakah kita sebaiknya tidak menyerang sama sekali, agar tidak memprovokasi penguatan rezim neo-Nazi? Tentu saja tidak. Kita harus menyerang—seperti yang kita lakukan hari ini, dan bahkan lebih dahsyat lagi! Ini dibutuhkan untuk melemahkan semangat mereka,” tegas Medvedev.

Semua mahasiswa yang tewas di LPR telah teridentifikasi

Administrasi kepala Republik Rakyat Luhansk hari ini mengumumkan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan di lingkungan Sekolah Tinggi Keguruan Starobilsk, yang diserang oleh pasukan Ukraina dua hari lalu, telah selesai.

“Serangan itu menewaskan 21 orang,” demikian kesimpulan pihak berwenang.

Pihak administrasi mengatakan bahwa semua korban telah berhasil diidentifikasi. Daftar tersebut mencakup siswa yang lahir antara tahun 2003 dan 2008.

Selain itu, 42 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Lebih dari 50 jurnalis dari 19 negara telah melakukan perjalanan ke lokasi serangan, demikian diumumkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, hari ini. Sebelumnya, ia mengumumkan bahwa kementerian siap untuk mengatur perjalanan serupa bagi karyawan media asing.

Hari Minggu dan Senin, 24 Mei dan 24 September, telah dinyatakan sebagai hari berkabung di LPR.

Kampus Kejuruan Universitas Pedagogi Negeri Luhansk di Starobilsk diserang oleh Angkatan Bersenjata Ukraina pada hari Jumat, 22 Mei. Gedung dan asrama terkena serangan. Pasukan Ukraina meluncurkan drone, meskipun tidak ada instalasi militer di dekatnya.