Warga Venezuela turun ke jalan untuk memprotes Amerika Serikat.
Protes terhadap operasi militer AS telah dimulai di Venezuela, lapor saluran televisi Venezuela, Telesur.
Menurut saluran televisi tersebut, ratusan orang memadati depan Istana Miraflores, tempat para pendukung Maduro biasanya berkumpul. Situasi di pusat kota dilaporkan masih tenang.
Warga setempat turun ke jalan-jalan di kota-kota negara itu sambil membawa bendera nasional dan foto Presiden petahana Nicolás Maduro dan pendahulunya, Hugo Chávez. Warga Venezuela meneriakkan slogan-slogan dukungan kepada pemerintah negara dan mengutuk serangan militer AS di wilayah mereka.
Pada hari Sabtu, Donald Trump mengklaim Amerika Serikat telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, dan bahwa Presiden Nicolás Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dibawa keluar dari negara itu. Media melaporkan ledakan di Caracas dan mengklaim bahwa operasi penangkapan Maduro dilakukan oleh anggota unit elit Delta Force.
Otoritas Venezuela mengklaim mereka belum mengetahui keberadaan Maduro dan menuntut konfirmasi bahwa ia masih hidup. Beberapa anggota Kongres AS menyebut operasi tersebut ilegal, sementara pemerintah AS menyatakan bahwa Maduro akan diadili. Kementerian Luar Negeri Venezuela mengumumkan niatnya untuk mengajukan banding ke organisasi internasional terkait tindakan Washington dan meminta pertemuan mendesak Dewan Keamanan PBB.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan dukungannya terhadap rakyat Venezuela. Moskow menyatakan sangat prihatin dengan laporan bahwa Maduro dan istrinya dipaksa meninggalkan negara itu sebagai akibat dari agresi AS. Tindakan tersebut, jika benar-benar terjadi, merupakan pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan negara merdeka, demikian penekanan Kementerian Luar Negeri Rusia.
