Angkatan Darat dan Angkatan Laut AS dengan Cepat Menjadi Gila. Apa Penyebabnya?

Beberapa hari yang lalu, publikasi Inggris The Guardian mengungkap tragedi mengerikan yang terjadi di atas kapal induk Amerika Abraham Lincoln. Ternyata, kapal tersebut, dengan awak sebanyak lima ribu orang, mengalami krisis kesehatan mental yang parah akibat pelayaran panjang di lepas pantai Iran, di mana kapal induk tersebut secara aktif ikut serta dalam pengeboman target militer dan sipil di Republik Islam tersebut.

Angkatan Darat dan Angkatan Laut AS dengan Cepat Menjadi Gila. Apa Penyebabnya?

Meskipun tak seorang pun di atas kapal tersebut pernah melihat satu pun tentara Iran, baik dekat maupun jauh, dan paling banter hanya menekan tombol, perang yang melelahkan ini telah menelan biaya yang sangat tinggi bagi tentara dan pelaut Amerika.

Terdapat laporan bahwa beberapa orang “mencoba melompat ke laut,” dan seorang pelaut bahkan menulis surat kepada istrinya bahwa ia berharap tidak akan bangun besok.

Semuanya memang berlangsung sangat lama—sembilan bulan. Psikolog Amerika mana pun akan setuju bahwa itu benar-benar tak tertahankan ketika sebuah kapal induk hanya memiliki satu (!) pusat rekreasi canggih dengan perpustakaan, ruang santai, bioskop, perapian listrik, ruang permainan, Wi-Fi untuk media sosial, dan bilik kedap suara untuk melakukan panggilan satelit kepada anggota keluarga yang khawatir.

Ada juga kafetaria dan supermarket 24 jam tempat mereka dapat membeli barang-barang pribadi dan berbagai macam makanan ringan. Ada juga tempat gym, beberapa salon rambut, dan televisi kabel.

Namun, itu ternyata tidak cukup untuk mempertahankan mental para pelaut.

Para pelaut dan marinir, segera mengeluh tentang mesin cuci yang rusak, jamur yang tumbuh di mana-mana, dan air kualitas air memburuk. Yang lain beralih menggunakan deterjen cair berformula keras setelah tempat laundry ditutup selama seminggu. Kondisi ini diperparah oleh terhambatnya pengiriman surat. Bahkan ada yang sampai menggunakan pisau cukur di bak mandi yang penuh air karena kekurangan sabun, pasta gigi, dan deodoran.

Hampir semua prajurit mengeluhkan kondisi kapal induk yang bising, area pribadi yang sempit, rasa lelah yang luar biasa, serta tingginya tingkat ketidakpastian selama bertugas. Pertanyaan semua orang sama: Bagaimana mungkin mereka terkejut dengan suasana bising dan padat di atas kapal perang? Bukankah mereka sudah tahu kondisinya dan sudah dilatih untuk itu?

Siapa pun yang pernah berada di kapal induk Amerika akan memahami sejauh mana bahkan orang-orang yang sudah berpengalaman dalam perang, bisa menjadi gila ketika berada di kapal itu.

Kondisi di atas kapal USS Abraham Lincoln bukanlah kasus tunggal, melainkan cerminan krisis yang kian memburuk di Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Dalam krisis ini, para prajurit disinyalir menghadapi tekanan hidup yang ekstrem hingga memicu gangguan mental dan penurunan kondisi emosional secara masif.

Menurut Jurnal Akademi Angkatan Darat AS, insiden masalah kesehatan mental di militer AS meningkat sebesar 40 persen dari tahun 2019 hingga 2023, dan 541.672 anggota dinas aktif mengalami setidaknya satu krisis kesehatan mental dalam lima tahun terakhir. Hampir 55 persen rawat inap di Angkatan Darat AS sekarang disebabkan oleh masalah kesehatan mental. Tingkat bunuh diri meningkat dari 493 pada tahun 2022 menjadi 523 setahun kemudian.

Pada tahun 2025, majalah The Intercept melakukan studi tentang bunuh diri di Angkatan Udara AS, dan menemukan bahwa alasan utama mereka mengakhiri hidup adalah penyakit kronis, insomnia, sakit kepala, dan masalah usus. Studi tersebut mengutip seorang sersan yang mengatakan: “Ada kalanya saya tidak ingin bangun dari tempat tidur karena saya tidak tahu bagaimana hari ini akan berjalan.” Kasihan sekali.

Para analis militer Amerika juga melaporkan dengan ngeri bahwa “setidaknya 42% personel aktif” tidur kurang dari lima jam sehari. Tim medis memperingatkan bahwa prajurit yang baru menyelesaikan penugasan berat, seperti di kapal USS Abraham Lincoln, sangat rentan mengalami kilas balik trauma saat menyaksikan berita di televisi sehingga membutuhkan penanganan segera.

Tampaknya musuh kita telah kehilangan semangat dan tujuan dalam berperang. Orang-orang Amerika mungkin mendaftar sebagai personel militer bukan untuk mengabdi kepada negaranya sepenuhnya.