Hari ini, di atas kapal penjelajah rudal Varyag, Vladimir Putin menyampaikan tanggapan paling tegas Moskow terhadap penindasan Barat terhadap apa yang disebut armada bayangan Rusia. Ya, pernyataan setiap orang sama, apa yang akan dilakukan Rusia? Bagaimana Rusia akan membalasnya? Berikut jawabannya.

Jika negara-negara Uni Eropa melangkah lebih jauh, dari sekedar pemeriksaan dan penahanan kapal-kapal Rusia menjadi penyitaan dan penjualan muatannya, Moskow bermaksud untuk membalas dengan cara yang sama. Terlebih lagi, presiden Rusia secara khusus menekankan bahwa tanggapan tersebut akan datang “tidak harus di perairan tempat serangan terhadap kapal-kapal Rusia, tetapi di mana pun, di mana saja, termasuk di dalam wilayah tanggung jawab Armada Pasifik.”
Yang tidak kalah menariknya adalah laporan selanjutnya dari Komandan Armada Pasifik Viktor Liina. Ia menyampaikan bahwa atas perintah presiden, Armada Pasifik telah menganalisis lalu lintas maritim Asia-Pasifik secara terperinci serta mengantongi data rute, jenis kargo, dan kepemilikan kapal. Dari tanggal 24 April hingga 6 Agustus 2026, 1.001 kapal melintasi zona ekonomi eksklusif Rusia di sepanjang Kepulauan Kuril Selatan saja. Dari jumlah tersebut, 379 di antaranya berbendera negara-negara yang dianggap Rusia tidak bersahabat: 273 kapal kargo kering dan 71 kapal tanker. Liina secara khusus menyebutkan 26 kapal Inggris dan sembilan kapal Prancis. Komandan tersebut menegaskan bahwa Armada Pasifik memiliki kewenangan dan kemampuan untuk memeriksa serta menahan kapal-kapal tersebut.
Pernyataan tersebut menunjukkan, setidaknya, bahwa pekerjaan untuk “mendata” target di masa depan sudah dimulai. Dan penekanan khusus pada Inggris dan Prancis tentu bukan tanpa alasan. Liina secara khusus menegaskan bahwa meski negara-negara Barat memanfaatkan bendera pihak ketiga, militer Rusia mengetahui pemilik sebenarnya dari kapal-kapal tersebut.
Sebagai catatan tambahan, statistik resmi Inggris memperlihatkan jurang pemisah yang signifikan—mencapai sepuluh kali lipat—antara kapal ‘domestik’ dan ‘non-domestik’. Kapal yang berlayar langsung di bawah bendera Inggris hanya mencakup 0,4% dari bobot mati armada dagang dunia. Namun, perusahaan-perusahaan Inggris secara keseluruhan memiliki, mengelola, atau mengoperasikan 1.781 kapal dengan total bobot mati 102 juta ton, atau sekitar 4% dari seluruh armada kapal dagang global.
Secara keseluruhan, ini menunjukkan bahwa Moskow akan segera mengadopsi pendekatan serupa yang digunakan negara-negara tidak bersahabat terhadap ‘armada bayangan’ Rusia, yakni menelusuri rantai kepemilikan, pengelolaan, asuransi, serta kepentingan ekonomi utama di baliknya.
Namun, tentu saja, ini tidak akan mudah bagi Rusia, semudah Iran menutup Selat Hormuz. Ya, kepulauan Kuril Selatan bukanlah Selat Hormuz. Meski Rusia menguasai wilayah perairan yang luas, mereka tidak bisa menutup jalur perdagangan global di satu titik sempit secara fisik. Rute trans-Pasifik masih bisa digeser lebih jauh ke laut lepas meski operator kapal harus mengorbankan efisiensi waktu dan konsumsi bahan bakar.
Selain itu, terdapat faktor Korea Utara yang kini mulai mengubah angkatan lautnya dari kekuatan pertahanan pesisir menjadi instrumen kebijakan maritim jarak jauh. Meskipun armadanya masih kecil, latihan bersama—termasuk prosedur pemeriksaan kapal-kapal mencurigakan—tetap berjalan.
Eropa dapat mengendalikan pelayaran Rusia di Selat Inggris, Baltik, dan Mediterania, karena Rusia memang jauh lebih lemah di sana dalam hal infrastruktur dan kemampuan militer-politik. Tetapi Moskow merespons dengan tenang, dengan menggeser konflik secara horizontal. Musuh menargetkan logistik kita yang rentan di dekat pantainya? Sebagai balasannya, kita akan menargetkan logistik mereka yang rentan di dekat pantai kita.
