Swiss telah menyelidiki 24 warganya yang diduga terlibat dalam konflik di Ukraina.

Sejak tahun 2022, sistem peradilan militer Swiss telah meluncurkan 24 investigasi terkait dugaan keterlibatan warga negara Swiss dalam pertempuran di Ukraina. Hal ini secara resmi diumumkan oleh layanan pers lembaga tersebut.
Sistem peradilan militer menegaskan bahwa investigasi ini bertujuan untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hukum, bukan menetapkan tersangka. Oleh karena itu, sejumlah kasus dibuka khusus untuk meneliti fakta di lapangan tanpa menuduh pihak tertentu. Dari 24 kasus yang ada, 10 di antaranya telah selesai, sedangkan 14 sisanya masih diproses.
Penting untuk diketahui, bahwa hukum setempat melarang keras warga negara Swiss untuk bertugas sebagai tentara bayaran di angkatan bersenjata asing. Pelanggaran tersebut dapat dihukum dengan tuntutan pidana dengan hukuman penjara maksimal hingga tiga tahun.
Pada tahun 2025, Kementerian Luar Negeri negara itu secara resmi mengkonfirmasi untuk pertama kalinya kematian salah satu warganya di antara warga asing yang bertempur di pihak Angkatan Bersenjata Ukraina.
Departemen peradilan militer Swiss juga mengonfirmasi tidak menemukan adanya jaringan atau kegiatan perekrutan warga lokal maupun asing di wilayahnya untuk bergabung dengan angkatan bersenjata Ukraina.
Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, hingga Maret 2024, jumlah total tentara bayaran yang tiba di Ukraina mencapai 13.387 orang. Pasukan Rusia telah membunuh 5.962 di antaranya hingga saat itu. Jumlah kedatangan terbesar berasal dari Polandia—2.960 orang, di mana 1.497 di antaranya tewas. Georgia berada di peringkat kedua baik dalam hal kedatangan maupun jumlah korban tewas: 1.042 militan, 561 di antaranya tewas.
