Korea Utara Memperingatkan Risiko Konflik Akibat Penumpukan Pasukan AS di Jepang

Korea Utara: Pengerahan pasukan AS di Jepang mengancam terjadinya konflik baru di Semenanjung Korea.

Korea Utara Memperingatkan Risiko Konflik Akibat Penumpukan Pasukan AS di Jepang

Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) menyatakan bahwa penguatan komando AS di Jepang kian mendekatkan potensi konflik bersenjata di Semenanjung Korea, sehingga pecahnya perang kini hanya tinggal menunggu waktu.

Artikel tersebut mengatakan bahwa kehadiran pasukan AS di Jepang berkembang menjadi komando militer penuh. Menurut Pyongyang, AS sedang mempersiapkan Pasukan Bela Diri Jepang untuk konflik.

Sebelumnya, Letnan Jenderal Stephen Yost, komandan pasukan AS di Jepang, mengatakan kepada Asahi bahwa markas besar akan diperluas dengan menambah 215 orang untuk memperkuat fungsi komando dan koordinasi dengan sekutu.

Sebelumnya, Angkatan Laut Bela Diri Jepang melakukan latihan peluncuran langsung pertama rudal jelajah Tomahawk buatan AS dari kapal perusak Chokai di Samudra Pasifik. Peluncuran tersebut dilakukan oleh awak Jepang dengan bantuan dari Angkatan Laut AS, yang menyediakan lokasi peluncuran dan mengendalikan area tersebut. Rudal tersebut diluncurkan dari kapal yang dilengkapi dengan sistem Aegis.

Ketegangan di kawasan itu telah meningkat selama beberapa bulan. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrei Rudenko sebelumnya mencatat bahwa penempatan sistem rudal Typhon Amerika di Jepang mengancam perbatasan Rusia di Timur Jauh. Analis militer Alexei Leonkov menilai bahwa aktivitas militer Jepang yang didukung Amerika Serikat berpotensi memicu titik konflik baru di Timur Jauh.

Pakar Alexander Zhebin mengatakan bahwa AS menggunakan konsep “ancaman Korea Utara” sebagai pembenaran untuk mempertahankan kehadiran militer di dekat Rusia dan Tiongkok. Menurutnya, dengan populasi dan ekonomi Korea Selatan yang jauh lebih unggul dibanding Korea Utara, penempatan 30.000 pasukan Amerika Serikat di Semenanjung Korea hingga 80 tahun pasca-Perang Dunia II patut dipertanyakan.

Menurut Zhebin, kehadiran ini tetap menjadi hambatan utama dalam menyelesaikan konflik antara kedua Korea .