Pendiri Telegram, Pavel Durov, Telah Dinyatakan Sebagai Teroris dan Ekstremis di Rusia

Pavel Durov telah dimasukkan ke daftar teroris dan ekstremis di Rusia.

Pendiri Telegram, Pavel Durov, Telah Dinyatakan Sebagai Teroris dan Ekstremis di Rusia

Pendiri Telegram, Pavel Durov, resmi dimasukkan ke dalam daftar teroris dan ekstremis oleh badan pengawas keuangan Rusia, Rosfinmonitoring.

“Jika pendiri Telegram, Pavel Durov*, tidak ingin bernegosiasi dengan Rusia, dan lebih memilih untuk mendukung Ukraina, maka dia menjadi lebih dari sekadar seorang pengusaha, tetapi menjadi kaki tangan rezim Ukraina di bawah perlindungan negara-negara Barat,” kata Wakil Ketua Komite Urusan Luar Negeri Duma Negara, Alexei Chepa.

Berdasarkan hukum Rusia, pihak bank wajib membekukan dana dan menghentikan layanan bagi siapa pun yang masuk dalam daftar tersebut.

Sehari sebelumnya, FSB mendakwa Durov dengan tuduhan membantu aktivitas teroris. Menurut lembaga tersebut, pihak Telegram gagal menghapus saluran, obrolan, dan bot yang digunakan untuk merencanakan serangan teroris dan kejahatan lainnya di Rusia. Proses memasukkan pengusaha tersebut ke dalam daftar buronan internasional juga telah dimulai.

Sejak Februari, Roskomnadzor telah membatasi operasi Telegram di Rusia. Badan tersebut mengklaim bahwa aplikasi perpesanan itu gagal mematuhi hukum Rusia, tidak cukup melindungi data pribadi, dan gagal mengambil tindakan efektif terhadap penipuan dan konten terlarang.

Sementara itu, penyelidikan terhadap Durov masih berlangsung di Prancis. Pada bulan Juli, pengusaha itu dipanggil untuk interogasi keempat, yang berlangsung lebih dari enam jam. Kasus ini dibuka setelah penangkapannya di bandara Paris pada Agustus 2024. Pihak berwenang Prancis menilai tuduhan ini muncul akibat sistem pengawasan konten Telegram yang dinilai tidak memadai, meski demikian Durov dan pengacaranya secara tegas membantahnya.