Putin menuntut agar Pashinyan segera memilih antara Uni Eropa atau EAEU.

Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan percakapan telepon dengan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, lapor juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.
Percakapan tersebut berlangsung atas inisiatif pihak Armenia. Putin mendesak Armenia untuk secepatnya mengadakan referendum nasional guna memutuskan arah bergabung ke Uni Eropa atau bertahan di EAEU.
Nikol Pashinyan pada gilirannya menyatakan bahwa pemerintah Armenia siap untuk mengadakan referendum tentang apakah negara itu akan tetap bertahan atau meninggalkan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Namun mengenai referendum keanggotaan Uni Eropa, Pashinyan mengatakan bahwa hal itu hanya mungkin dilakukan setelah Armenia mengajukan permohonan resmi kepada Uni Eropa, lapor layanan pers pemerintah Armenia.
Selama percakapan tersebut, Nikol Pashinyan menyatakan bahwa pembatasan Rusia terhadap ekspor barang-barang Armenia bertentangan dengan kerangka hukum bilateral dan norma-norma EAEU. Ia meminta Vladimir Putin untuk “mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah ini,” menurut pernyataan dari pemerintah Armenia.
Pada April lalu, Putin menyatakan bahwa Rusia tidak keberatan dengan hubungan Armenia dan Uni Eropa. Namun, ia menegaskan bahwa Armenia tidak mungkin menjadi anggota Uni Eropa dan EAEU secara bersamaan.
“Berada dalam serikat pabean dengan Uni Eropa dan EAEU sekaligus adalah hal yang tidak mungkin. Dan masalahnya bahkan bukan politik, tetapi murni ekonomi,” katanya.
Pashinyan sepakat bahwa keanggotaan di kedua serikat tersebut tidak dapat berjalan bersamaan. Namun, ia menambahkan bahwa Armenia belum berada di posisi untuk harus memilih.
