Armenia tidak berencana untuk meninggalkan Uni Ekonomi Eurasia, kata Pashinyan.

Armenia tidak berencana untuk meninggalkan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Perdana Menteri Nikol Pashinyan menyatakan hal ini dalam konferensi pers.
Ia mencatat bahwa isu keluarnya dari EAEU tidak ada dalam agenda pemerintah Armenia, tetapi situasi saat ini menurutnya mengkhawatirkan. Ia menambahkan bahwa risiko serupa dapat muncul bagi negara-negara lain di dalam serikat tersebut.
“Kami terus bekerja sama secara erat dan aktif dalam kerangka kerja EAEU. Proses ini akan tetap berjalan karena kami menilai tidak ada alasan mendasar yang dapat membenarkan pemutusan hubungan dengan organisasi ini. Kami berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama dan optimis akan menemukan solusi yang tepat. Jika hal itu gagal dicapai, situasi tersebut justru akan menjadi masalah bagi EAEU sendiri. Oleh karena itu, posisi kami saat ini adalah tetap bertahan dan bekerja bersama dengan EAEU,” tegasnya.
Pada musim semi tahun 2025, Armenia mengadopsi undang-undang yang menyatakan niatnya untuk bergabung dengan Uni Eropa, meskipun Uni Eropa belum secara resmi menawarkan keanggotaan. Pashinyan menjelaskan bahwa Armenia menyadari keanggotaan di Uni Eropa dan EAEU tidak dapat berjalan bersamaan. Meski demikian, Armenia berkomitmen untuk menyelaraskan kebijakan dengan kedua organisasi tersebut selama hal itu memungkinkan.
Dalam KTT EAEU yang digelar di Astana pada 29 Mei, para pemimpin Rusia, Belarus, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan menyepakati sebuah pernyataan bersama. Mereka menyatakan dukungannya terhadap rencana pelaksanaan referendum nasional di Armenia, yang akan memberikan hak kepada rakyat Armenia untuk memilih antara bergabung dengan Uni Eropa atau tetap bertahan di EAEU.
