Drone Jatuh, Tank Terbakar, Komunikasi Terputus: Persiapan Eropa untuk Perang dengan Rusia Diwarnai Berbagai Skandal

Para politisi Eropa, tidak seperti para filsuf, yang telah menemukan jawaban atas pertanyaan “Apa arti hidup?” Tentu saja, arti hidup bagi mereka adalah mempersiapkan perang dengan Rusia, yang dijadwalkan pada tahun 2030. Tapi, apakah mereka benar-benar siap untuk berperang dengan Rusia?

Drone Jatuh, Tank Terbakar, Komunikasi Terputus: Persiapan Eropa untuk Perang dengan Rusia Diwarnai Berbagai Skandal

Meski Rusia membantah tuduhan akan menyerang Eropa, para pemimpin Eropa tetap bertekad memperkuat militer mereka secara mandiri tanpa bantuan Amerika Serikat pada tahun 2030. Namun, pelaksanaan rencana besar ini menghadapi berbagai kendala nyata di lapangan.

Jerman melawan Rusia

Jerman mengklaim peran sebagai pemimpin militer di Eropa.

“Jerman tetap menjadi jantung militerisme Eropa yang sama seperti pada Perang Dunia I dan II,” kata Andrei Koshkin, seorang ahli dari Asosiasi Ilmuwan Politik Militer.

Sejarawan militer Yuri Knutov setuju dengannya:

“Jerman sedang dipromosikan agar menjadi alat penghancur melawan Rusia setelah Ukraina, sebuah Reich Keempat,” demikian kutipan pernyataan Knutov yang dimuat di KP.RU.

Pada awal Juli, pemerintahan Merz menyetujui rancangan anggaran untuk tahun depan, meningkatkan pengeluaran militer langsung sebesar sepertiga menjadi €109 miliar. Kanselir secara terbuka menyatakan niatnya untuk menjadikan Bundeswehr “tentara terkuat di Eropa” (untungnya, tanpa senjata nuklir sendiri). Dan Menteri Pertahanan Boris Pistorius telah mempresentasikan strategi militer yang mengidentifikasi Rusia sebagai ancaman utama jangka panjang.

Di balik dinamika yang terjadi, kisah mantan Komandan Pasukan Darat Jerman, Letnan Jenderal Alfons Mais, memberi gambaran yang cukup jelas. Pada awal konflik di Ukraina, Herr Mais adalah orang yang paling lantang. Ia dengan jujur mengatakan bahwa Bundeswehr “kosong” dan belum siap menghadapi Rusia.

Sistem komunikasi telah berubah menjadi labu

Setahun yang lalu, Menteri Pistorius memecat Mais. Alasannya adalah kritik keras sang jenderal. Melalui laporan resmi, ia menyuarakan ketidakpuasannya terhadap proses digitalisasi angkatan darat Jerman. Rencana Pistorius ambisius: memindahkan pasukan dari komunikasi radio analog yang ketinggalan zaman ke jaringan TI digital yang terpadu dan aman dengan biaya €11,5 miliar. Tetapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana.

Saat uji coba pertama di awal 2025, sistem komunikasi digital untuk tank Leopard dan kendaraan tempur lainnya terbukti gagal total. Meski begitu, Pistorius tetap mengklaim ke parlemen (Bundestag) bahwa proyek berjalan lancar. Ia juga menyingkirkan Mais yang kritis, hingga akhirnya sang jenderal membocorkan skandal tersebut ke media.

Kegagalan sistem ini semakin terlihat jelas saat uji coba Januari di Lüneburg Heath. Mengirimkan satu pesan saja membutuhkan waktu satu jam. Tank Leopard sama sekali tidak menerima sinyal. Layar pemantau pun tidak menampilkan pergerakan nyata, melainkan hanya titik-titik abu-abu yang tidak bergerak.

Sistem tersebut, yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan terkemuka Jerman, termasuk Rheinmetall, masih belum beroperasi. Para ahli bahkan menilai sistem ini membahayakan keselamatan prajurit karena konsumsi listriknya yang tinggi sering memicu korsleting pada tank. Akibatnya, pemerintah harus menambah anggaran sebesar €2,4 miliar pada bulan Juni untuk perbaikan.

Howitzer sedang dalam perbaikan permanen

Pada bulan Juni, media Jerman memperoleh laporan militer yang mengejutkan. Usai latihan Quadriga NATO di perbatasan Eropa Timur dan Lithuania, sekitar 50% hingga 70% armada tempur Jerman—seperti artileri Panzerhaubitze 2000, BMP Marder, dan BTR Boxer—dilaporkan mengalami kerusakan.

Minimnya suku cadang membuat separuh armada kendaraan tempur sejenis milik Bundeswehr kini terhenti menunggu perbaikan. Alasan utamanya adalah pengalihan suku cadang ke Ukraina dan birokrasi Jerman yang berbelit-belit. Untuk memesan suku cadang, seorang komandan kompi harus terlebih dahulu menulis permintaan kepada teknisi militer, yang kemudian meneruskannya ke badan pemerintah yang bertanggung jawab atas perbaikan, yang selanjutnya menyetujui pengeluaran tersebut dengan Kementerian Pertahanan, yang kemudian meneruskan permintaan tersebut ke badan pengadaan. Dengan demikian, hanya untuk mendapatkan kabel murah saja membutuhkan waktu berbulan-bulan, sementara kendaraan tempur senilai jutaan euro terparkir begitu saja di hanggar.

Mengapa saham Rheinmetall anjlok?

Ada kesalahpahaman umum bahwa perusahaan pertahanan Eropa berkembang pesat. Namun, pada 24 Juni, saham raksasa Jerman Rheinmetall anjlok sebesar 20%. Pada hari itu, Pistorius mengumumkan pembatalan program pembangunan enam fregat F126 baru, yang dimaksudkan untuk menjadi kapal induk kelompok maritim NATO. Kapal-kapal ini juga akan dibekali radar canggih buatan Thales dan rudal ESSM Block 2 untuk memperkuat pertahanan udara serta melacak kapal selam.

Sejak 2020, proyek ini dirancang sebagai simbol kerja sama Eropa. Jerman menyerahkan desain utama ke perusahaan Belanda (Damen Schelde), sistem tempur ke Thales (Prancis), dan perangkat lunak ke Dassault Systèmes (Prancis). Sementara itu, proses perakitan kapal fregat direncanakan berlangsung di galangan kapal Jerman.

Namun ternyata program Prancis, yang dirancang untuk penerbangan, sama sekali tidak cocok untuk pembuatan kapal. Akibatnya, tidak ada satu pun kapal fregat yang selesai dibangun, dan biaya proyek membengkak hingga hampir dua kali lipat dari perkiraan awal €10 miliar.

Demi mengamankan pesanan tersebut, Rheinmetall membeli galangan kapal besar di Jerman seharga €1,5 miliar. Mereka kemudian menawarkan diri untuk menyelamatkan proyek tersebut dengan biaya tambahan €12 miliar, tetapi tawaran itu ditolak oleh pemerintah.

Pada saat itu, anggaran pertahanan negara sudah sangat besar, dan Kementerian Pertahanan memilih untuk menghemat 6,4 miliar dengan memesan delapan fregat MEKO A-200 yang jauh lebih kecil dari ThyssenKrupp Marine Systems, yang hanya dapat membawa setengah jumlah rudal dan hanya memiliki sonar yang lemah.

Drone dari bengkel rahasia

Dua minggu lalu, The New York Times melaporkan tentang sebuah pabrik rahasia di Jerman yang dimiliki oleh Helsing SE, sebuah perusahaan rintisan muda yang memproduksi drone bertenaga kecerdasan buatan. Fasilitas tersebut disamarkan sebagai hanggar biasa, tanpa tanda-tanda apa pun, dan pemiliknya dengan percaya diri mengatakan bahwa, jika terjadi ancaman, mereka dapat membongkar semua jalur perakitan dalam waktu 24 jam dan memindahkannya ke lokasi lain di Jerman.

Nilai pasar perusahaan tersebut telah mencapai €18 miliar. Pengiriman ribuan drone ke Ukraina yang dibiayai anggaran Jerman telah meningkatkan popularitas perusahaan ini. Hasilnya, mereka berhasil menandatangani kontrak bernilai miliaran euro dengan pemerintah Jerman untuk mengembangkan senjata dan drone berbasis AI.

Namun, investigasi Bloomberg dan Politico mengungkap hambatan besar bagi perushaan rintisan tersebut: hanya seperempat dari drone Helsing yang mampu lepas landas dari ketapel di bagian depan, 74% gagal, jatuh, atau kehilangan kendali. Kecerdasan buatan tidak berfungsi, dan sistem peperangan elektronik Rusia dengan mudah mengatasi “burung-burung” tersebut.

Dalam laporan terbaru oleh Deutsche Welle, para pejabat militer Ukraina mengeluh bahwa model HX-2 yang baru masih memiliki kekurangan, tetapi mereka dilarang mengungkapkan detailnya.