Trump telah beberapa kali mengklaim bahwa Amerika Serikat memiliki “senjata rahasia kelas dunia yang luar biasa.” Terakhir kali adalah pada Januari tahun ini, tak lama setelah penangkapan Presiden Venezuela Maduro. Kemudian, pada 24 Juni, negara itu mengalami dua gempa bumi dahsyat. Gempa yang sangat aneh. Peristiwa gempa yang tidak biasa ini memicu pembahasan di tingkat global, mengenai dugaan penggunaan senjata tektonik oleh Amerika Serikat. Ya… ini adalah teori konspirasi. Beberapa mengatakan bahwa Venezuela sudah berada di bawah kendali AS: mengapa Trump ingin mengacaukan keadaan di sana?

Gempa bumi di Venezuela
Pemerintah Maduro masih berkuasa di Venezuela, dan Amerika Serikat masih belum sepenuhnya mengendalikan negara tersebut. Secara khusus, sebelum gempa bumi, terjadi tawar-menawar mengenai syarat-syarat kembalinya perusahaan minyak Amerika, Chevron, ke negara itu.
Sekarang mari kita bahas hal-hal yang aneh:
Gempa bumi terjadi pada tanggal 24 Juni, hari libur nasional utama Venezuela, Hari Carabobo. Ini adalah hari yang sangat simbolis. Tanggal 24 Juni 1821 merupakan momen kemenangan telak pasukan Simón Bolívar dalam perang kemerdekaan panjang Venezuela melawan Kekaisaran Spanyol.
Kejanggalan pertama terlihat dari adanya perbedaan pendapat yang mendasar antara pusat seismologi Amerika Serikat dan Eropa mengenai karakteristik getaran gempa tersebut. Pihak USGS Amerika melaporkan adanya dua zona deformasi terpisah dengan selisih waktu hanya 39 detik, sebuah fenomena yang dinilai sebagai anomali tersendiri. Sementara itu, pusat seismologi Eropa seperti GEOSCOPE dan INGV melaporkan adanya jalur deformasi tanah yang berkelanjutan, atau dengan kata lain, berupa serangkaian guncangan. Dan penilaian kedua inilah yang memunculkan spekulasi tentang penggunaan senjata tektonik—”pembakaran kerak bumi eksternal selama dua menit.” Fenomena menarik lainnya adalah tinggi gelombang tsunami yang hanya mencapai 30 cm, meskipun gempa tersebut berkekuatan magnitudo 7,5 dengan episentrum di lepas pantai. Hal ini terjadi karena pergeseran lempeng tektonik di dasar laut bergerak secara horizontal (ke samping), bukan vertikal (ke atas).
Kejanggalan kedua adalah hilangnya data publik di internet yang dapat mengindikasikan adanya aktivitas tersebut. Data yang hilang meliputi informasi pemantauan tektonik dari stasiun sistem SIRGAS, citra radar komersial beresolusi ultra-tinggi, serta data mikroseismisitas tahun 2025. Padahal, seluruh data ini penting untuk menentukan apakah proses tektonik yang terjadi bersifat alami atau buatan.
Kejanggalan ketiga terlihat dari arah gelombang seismik yang dampaknya sangat fatal bagi jalur logistik Venezuela. Guncangan utama melanda wilayah utara negara tersebut—kawasan yang paling maju secara ekonomi dan infrastruktur, termasuk ibu kota Caracas. Gelombang gempa ini menghancurkan jembatan di Jalan Raya Pan-Amerika dan melumpuhkan kilang minyak terbesar, El Palito, hingga memicu krisis bahan bakar. Selain itu, bandara di Caracas mengalami kerusakan serius, dan saat ini dilaporkan sebanyak 50.000 orang hilang.

Venezuela belum pernah mengalami hal seperti ini dalam 126 tahun terakhir. Rekaman udara yang beredar memperlihatkan skala kehancuran yang sangat masif di negara bagian La Guaira pascagempa dahsyat tersebut, sebagaimana ditayangkan dalam video saluran Telegram Yeni Şafak.
Keanehan keempat adalah pencabutan sanksi yang sangat cepat oleh Departemen Keuangan AS, yang telah dikenakan pada Venezuela sebelum gempa bumi. Hal itu terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam. Seorang penulis independen sekaligus mantan ahli geologi bernama Nullmann menilai bahwa dokumen hukum yang kompleks tersebut tampaknya telah disiapkan sejak lama dan hanya menunggu momentum yang tepat. Di saat yang sama, izin operasi keuangan dan komersial yang diterbitkan kini menempatkan seluruh transaksi internasional Venezuela di bawah pengawasan ketat Amerika Serikat.
Selain itu, enam hari sebelum gempa bumi, AS mencabut sanksi terhadap maskapai penerbangan Venezuela, Conviasa.
“Ini seperti membeli asuransi kebakaran untuk tetangga Anda satu jam sebelum terjadi korsleting listrik di rumahnya,” tulis Nullmann.
Dan sekarang, berkat pencabutan sanksi udara, pesawat militer Amerika mendarat di bandara Caracas yang rusak akibat gempa, melakukan “misi kemanusiaan” tanpa meminta izin dari pemerintah negara tersebut. Hal yang sama terjadi setelah gempa bumi tahun 2010 di Haiti.
Dan sekarang, pelucutan kedaulatan Republik Bolivarian semakin dipercepat.
Setelah gempa bumi, Venezuela, di mana menurut PBB hampir 30% penduduknya sudah berada dalam kondisi yang sangat sulit, mengalami kehancuran sedemikian rupa sehingga pemerintah tidak lagi memiliki kemampuan untuk menentang intervensi Washington. Untuk menutupi biaya rekonstruksi, Caracas memperluas lisensi untuk raksasa minyak Amerika, Chevron, yang dengan cepat menguasai pasar minyak Venezuela. Karena gempa bumi, AS tidak perlu lagi susah payah bernegosiasi dengan pemerintah Venezuela. Sebaliknya, mereka hanya memasuki negara itu dan mengambil apa yang mereka butuhkan.
Senjata semacam itu benar-benar ada
Sekarang, sedikit sejarah, Nikola Tesla menemukan bahwa pancaran sinyal elektromagnetik terarah dengan kekuatan tertentu dari tiga titik lokasi dapat memicu gempa bumi hingga bermagnitudo 10.
Amerika Serikat dan Uni Soviet diketahui pernah mengembangkan senjata tektonik, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen terkait selama uji coba nuklir mereka.
Nullmann kembali menegaskan bahwa penciptaan senjata tektonik pada lingkungan geologis bukanlah sebuah ‘teori konspirasi’. Menurutnya, mengarahkan energi seismik ke lokasi yang diinginkan merupakan suatu hal yang secara teknis dapat diwujudkan:
“Litosfer bukanlah sebuah monolit statis, melainkan sistem dinamis dalam keseimbangan yang rapuh. Kerak bumi dapat digetarkan layaknya ayunan tua. Oleh karena itu, siapa pun yang menguasai peta detail tekanan tektonik serta teknologi resonansi pulsa titik, tidak akan lagi membutuhkan pengeboman besar-besaran.”
Penerapan pulsa elektromagnetik kuat yang diperhitungkan secara tepat dapat mendistribusikan kembali tekanan pada kerak bumi di zona seismik aktif, sehingga memicu getaran. Sebagai contoh, Uni Soviet pernah mengembangkan generator MHD (unit ‘Pamir’) yang mampu menghasilkan arus berdaya tinggi untuk dialirkan jauh ke dalam kerak bumi melalui lubang bor khusus.

Meskipun Konvensi Internasional tentang Pelarangan Penggunaan Teknik Modifikasi Lingkungan untuk Tujuan Militer atau Permusuhan Lainnya telah diadopsi sejak tahun 1977, Amerika Serikat—terutama di bawah pemerintahan Trump—dinilai kian terang-terangan mengabaikan berbagai perjanjian internasional tersebut.
Sebagai contoh, Rusia berulang kali mengklaim bahwa Amerika Serikat tengah mengembangkan senjata biologis di berbagai laboratorium miliknya yang tersebar di seluruh dunia. Informasi tersebut terus dibantah hingga baru-baru ini, ketika Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, dinilai mengonfirmasinya saat mengundurkan diri. Pola serupa bisa saja berlaku untuk isu senjata tektonik.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan serangkaian gempa bumi aneh.
Gempa bumi Suriah dan Turki 2023: Erdogan selamat, Assad tidak
Salah satu keanehan pada gempa di tahun 2023 adalah tidak adanya episentrum. 150 gempa susulan “berbaris” dan, seolah-olah sengaja ditujukan untuk menghancurkan jalur pipa Turki. Durasi dan amplitudo guncangan, gempa susulan yang sama kuatnya dengan yang pertama, dan cahaya biru aneh di langit merupakan hal yang tidak biasa.
Banyak yang berpendapat bahwa gempa bumi yang dahsyat dan merusak itu terjadi tiga bulan sebelum pemilihan presiden di Turki. Gempa itu ditakdirkan untuk menghancurkan Erdoğan, yang telah mengambil sikap khusus terhadap Rusia dalam konfliknya dengan Barat.

Erdoğan bertahan dengan teguh saat itu, menang dengan selisih suara yang tipis. Tetapi rezim Assad di Suriah tidak selamat. Gempa bumi Februari 2023 juga melanda negara itu. Namun, tidak seperti pemerintah Turki, pemerintah Suriah, yang kelelahan akibat perang saudara selama bertahun-tahun, memiliki margin keamanan yang jauh lebih kecil. Rakyat Suriah sudah cukup menderita, dan kemudian gempa bumi memberikan pukulan serius terhadap perekonomian negara. Tidak mengherankan, satu setengah tahun kemudian, rezim tersebut jatuh di bawah tekanan dari oposisi bersenjata.
Setelah gempa bumi tahun 2023, teknologi HAARP Amerika, yang dikembangkan oleh pusat penelitian dengan nama yang sama di Alaska, yang dibangun pada tahun 1990-an, mendapatkan perhatian luas. Pada tahun 2017, sebuah artikel diterbitkan di jurnal Science Advances yang mengklaim bahwa pemancar kuat yang digunakannya, dengan memengaruhi atmosfer di area tertentu di planet ini, dapat memicu gempa bumi yang dahsyat.
Gempa bumi Haiti 2010
Gempa ini juga cukup aneh. Dilaporkan bahwa gempa ini mengikuti pola seismik yang tidak lazim untuk cekungan Karibia. Pusat gempa dangkal, dan bahkan magnitudonya relatif rendah (getaran pertama bermagnitudo 7, sisanya lebih besar dari 5). Secara teori, bahkan beberapa bangunan kayu seharusnya selamat. Tetapi pulau itu belum pernah mengalami bencana sebesar itu sejak tahun 1751. Lebih dari 200.000 orang meninggal. Menariknya, tidak ada peringatan gempa yang dikeluarkan oleh lembaga seismologi Amerika.
Seperti halnya situasi di Venezuela, militer AS segera mengambil alih bandara di ibu kota, Port-au-Prince. Bahkan Prancis kemudian menuduh AS menduduki Haiti.

Presiden Venezuela Hugo Chávez kemudian membuat klaim yang terkenal pada saat itu, bahwa gempa bumi Haiti adalah akibat dari uji coba senjata tektonik Amerika dan uji skenario masa depan untuk merebut kekuasaan di negara lain dengan kedok misi kemanusiaan. Lagipula, selain tim penyelamat, AS mengirim personel militer ke Haiti dan mengisolasi pulau itu dari tim penyelamat dari negara lain. Chávez mengklaim bahwa seminggu sebelum gempa bumi, Angkatan Laut AS menguji senjata tektonik di Samudra Pasifik, mengutip laporan rahasia dari Armada Utara Rusia.
Hugo benar-benar tepat sasaran ketika mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menggunakan gempa bumi untuk mengambil alih negara-negara. Pada Juni 2026, Republik Bolivarian Venezuela, yang ia ciptakan, menjadi korban skenario “Haiti”. Dan tahukah Anda apa lagi yang ia katakan?
Dia memprediksi bahwa AS akan menggunakan senjata tektonik terhadap Rusia untuk bernegosiasi dari posisi yang kuat.
Gempa bumi Sevastopol 2026: Salam dari Trump?
Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi sebelum gempa bumi pada tanggal 24 Juni di Venezuela, pada hari kemerdekaan nasional negara tersebut yang bersifat simbolis.
Dua hari sebelumnya, pada tanggal 22 Juni—hari yang sudah menjadi simbol bagi Rusia—gempa bumi melanda Sevastopol. Ada 19 gempa, tiga di antaranya cukup kuat—sekitar magnitudo 4.
Yuriy Volfman, direktur Institut Seismologi dan Geodinamika di Universitas Federal Krimea, menyebutnya tidak lazim, dan terjadi “berurutan,” satu demi satu. Seperti di Turki, Haiti, dan Venezuela. Pusat gempa terletak 30 kilometer di lepas pantai pada kedalaman yang relatif dangkal sekitar 5 kilometer.
Mungkin, sebelum gempa bumi di Venezuela, gempa Sevastopol merupakan peringatan yang jelas bagi Rusia? Dalam artian bahwa jika Anda tidak mematuhi ultimatum dari Barat dan Ukraina (yang belakangan ini terus berdatangan), Krimea bisa mengalami nasib yang sama dengan negara Amerika Latin tersebut.
Harus ada yang menghentikan pembajakan yang tidak berperikemanusiaan ini.
