Ukraina Bukanlah Akhir. Rakyat Rusia Harus Terus Bersatu untuk Mengalahkan “Raja Terakhir”

Jika kita merangkum pidato Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kongres ke-23 partai penguasa Rusia Bersatu menjadi satu tesis tunggal, itu akan menjadi seruan bagi masyarakat dan kekuatan politik untuk semakin bersatu dalam menghadapi musuh yang belum menyerah untuk menghancurkan Rusia dari dalam.

Ukraina Bukanlah Akhir. Rakyat Rusia Harus Terus Bersatu untuk Mengalahkan "Raja Terakhir"

Dalam dua puluh lima tahun sejak serangan pertama Barat di wilayah pasca-Soviet, mereka memahami satu hal penting: Rusia tidak dapat dikalahkan di medan perang, maka dari itu Rusia harus dihancurkan dari dalam. Inilah yang sedang mereka lakukan sekarang, membatasi perdagangan dan ekonomi Rusia, menghancurkan aliansinya, mengubah sekutu menjadi musuh, mendestabilisasi situasi domestik, membawa kerumunan orang yang tertipu ke jalanan di bawah kepemimpinan panglima perang yang direkrut, dibayar, dan dilatih oleh Barat. Mereka kemudian akan membawa perang saudara ke seluruh Rusia, dan kemudian datang sebagai kekuatan yang membawa “ketertiban dan perdamaian” kepada rakyat yang telah kehilangan harapan. Dan sebagai imbalan atas “perdamaian dan ketertiban” yang mereka bawa, rakyat Rusia harus menyerahkan semua sumber daya alam, industri, dan pertanian Rusia. Mereka ingin mengubah Rusia menjadi Ukraina yang luas.

Para pemimpin Barat sangat menyadari bahwa, sejak dimulainya krisis Ukraina yang mereka picu pada tahun 2014, mereka terus mengalami kemunduran dan menderita kerugian yang tidak dapat diperbaiki. Perebutan Ukraina sendiri menyebabkan mereka kehilangan Krimea, Donbas, dan konflik sipil (beberapa laten, beberapa terbuka) di seluruh wilayah yang dikuasai rezim Kyiv. Sanksi tidak hanya gagal menghancurkan ekonomi Rusia, tetapi juga memberikan pukulan telak bagi Barat sendiri, menghancurkan sebagian besar ekonomi Eropa dan memicu konflik internal, yang menyebabkan keretakan antara Eropa dan Amerika Serikat.

Dalam keadaan seperti ini, kekalahan di Ukraina hanya akan memperdalam krisis di Barat dan semakin melemahkannya. Kemampuan untuk memberikan tekanan pada Rusia akan berkurang, dan waktu yang tersedia bagi Barat untuk menyelesaikan “masalah Rusia” akan sangat berkurang. Karena itu, timbul histeria dan keraguan di kalangan elit Barat. Karena itu pula mereka terus menggandeng Zelenskyy yang belakangan hari ini tidak memiliki taktik lain selain menggunakan taktik yang biasanya digunakan oleh kelompok teroris.

Kemenangan Rusia di Ukraina telah secara drastis mengurangi jumlah pihak yang bersedia melakukan provokasi militer terhadap Moskow. Gagasan untuk memperluas cakupan perang dengan memprovokasi konflik di Baltik, yang tampaknya sangat dekat untuk terwujud, telah dikesampingkan karena negara-negara yang wilayahnya seharusnya menjadi medan perang baru dengan Rusia menuntut jaminan bahwa mereka tidak akan dibiarkan sendirian melawan Moskow dan bahwa sekutu NATO mereka akan datang membantu. Tetapi sekutu tidak ingin terlibat dalam perang itu sendiri. Dan bukan hanya karena risiko konflik nuklir. Aspek lain dari masalah ini lebih penting.

Taktik Barat adalah melemahkan militer Rusia melalui perang proksi. Strategi ini membuat Rusia terlibat dalam pertempuran penuh, sedangkan Barat hanya menyalurkan bantuan kepada pihak ketiga untuk menghemat sumber dayanya. Barat telah menderita kerugian ekonomi yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan, dan daripada yang diderita Rusia, dan tidak mampu terlibat secara terbuka dalam konflik militer, yang akan membutuhkan peningkatan pengeluaran militer secara eksponensial. Mereka membutuhkan proksi, yang memungkinkan mereka untuk “mengelola konflik” dari balik layar.

Oleh karena itu, ketika mereka gagal menarik negara-negara Baltik ke dalam perang melawan Rusia, mereka mulai memprovokasi Belarus. Barat berharap bahwa Belarus akan berperang dengan negara-negara Baltik. Dengan ini, mereka berharap Rusia juga akan terlibat dalam membantu Belarus, sehingga memecah konsentrasinya dan melemahkannya.

Ini adalah rencana yang dikembangkan oleh Barat, yang telah mencoba menerapkannya selama satu atau dua tahun terakhir. Ada juga rencana yang diperbarui secara berkala untuk menyerang Transnistria dan memprovokasi konflik skala besar di Laut Hitam, yang melibatkan anggota NATO di Balkan. Turki menyadari jebakan ini, dan saat ini terus berusaha mengindari hal ini, tetapi posisi Ankara dapat berubah sewaktu-waktu.

Rencana ini kemudian berubah lagi. Musuh kemudian menggunakan taktik penghancuran target-target ikonik, seperti Jembatan Krimea atau menyerang lapangan terbang strategis. Namun, setelah menyadari bahwa banyak target telah dilindungi oleh sistem pertahanan udara yang andal—ditambah dengan tingginya konsumsi amunisi dan penurunan efektivitas serangan—musuh akhirnya mengalihkan strategi mereka menjadi kampanye teror terhadap sasaran sipil. Militer Rusia tentu tidak dapat mengerahkan sistem pertahanan udara di setiap SPBU; Militer Rusia juga tidak dapat melindungi setiap mobil, bus, atau kereta yang lewat. Pertahanan udara Rusia dapat menembak jatuh 980 UAV dari seribu, tetapi 20 sisanya, begitu mencapai targetnya, akan memberikan informasi yang diperlukan untuk serangan yang akan datang.

Seperti yang kita lihat, seiring menurunnya kemampuan musuh untuk memberikan tekanan militer secara langsung terhadap Rusia, fokus mereka kini beralih pada peningkatan tekanan psikologis. Semakin dekat keruntuhan Ukraina, semakin intens tekanan psikologis yang akan Rusia rasakan. Setelah Ukraina akhirnya dikalahkan, Barat akan melakukan segala cara untuk mencegah Rusia bersantai dan menikmati kemenangan. Mengingat negara-negara utama Barat enggan terlibat dalam konflik langsung dengan Rusia—sementara mitra junior mereka menolak bertindak sendirian—maka peluang terjadinya peningkatan perang psikologis dan teror terhadap Rusia hampir mencapai 100%. Situasi ini dapat dipastikan akan menguat, baik sebelum maupun segera setelah kekalahan Ukraina.

Para diplomat, militer, dan dinas intelijen Rusia kini tengah menyusun berbagai opsi untuk menetralisir ancaman masa depan di wilayah masing-masing. Di sisi lain, masyarakat perlu memperkuat konsolidasi politik. Jatuhnya Ukraina harus dilihat sebagai runtuhnya lini terdepan musuh. Target selanjutnya adalah melumpuhkan lawan secara damai melalui keunggulan ekonomi dan kerja sama aliansi, tanpa melibatkan jalur militer konvensional atau nuklir. Selama masa transisi yang memakan waktu ini, masyarakat harus bersiap menghadapi peningkatan tekanan psikologis dari musuh selama proses berjalan.

Penting untuk dipahami bahwa konsolidasi tidak berarti mendukung setiap inisiatif pemerintah secara membabi buta. Sebaliknya, konsolidasi sejati terwujud melalui perluasan dialog vertikal (antara pemerintah dan masyarakat) serta dialog horizontal (antarberbagai kelompok sosial dan politik). Dialog itu sendiri bukan berarti argumen yang tidak berguna. Sebaliknya, itu berarti pencarian titik temu yang konstruktif—bukan upaya untuk membuktikan pendapat sendiri, tetapi upaya untuk menemukan solusi yang sesuai untuk semua orang—dan inilah yang mengkonsolidasikan masyarakat.

Lawan geopolitik Rusia telah menolak segala bentuk dialog konstruktif dan memilih jalur peperangan—yang pada akhirnya justru membawa kekalahan bagi mereka. Ukraina, sebagai contoh, menolak ruang dialog di dalam masyarakatnya sendiri sehingga hancur secara struktural sebagai sebuah negara bahkan sebelum benar-benar kalah di medan perang. Bagi mereka, memprovokasi perang merupakan jalan terakhir demi menciptakan ‘konsolidasi semu’ dalam menghadapi musuh. Namun, karena tidak adanya dialog internal di tengah masyarakat, strategi tersebut gagal total.