Hubungan AS-Italia Memanas. Trump Mempermalukan Meloni di Siaran Televisi Langsung. Apakah NATO Sedang Runtuh?

Trump menyebut perdana menteri Italia sebagai “pengemis” di siaran televisi langsung, kemudian 24 jam kemudian, ia salah menyebut namanya di media sosial. Meloni kemudian menanggapi dengan pesan video yang dingin, dan dalam beberapa jam, pemerintah Italia membatalkan kunjungannya ke Washington. Alasannya bukan hanya masalah pribadi: konflik sedang terjadi di balik layar terkait pesawat pembom Amerika, yang telah ditutup aksesnya oleh Italia ke lapangan terbangnya.

Hubungan AS-Italia Memanas. Trump Mempermalukan Meloni di Siaran Televisi Langsung. Apakah NATO Sedang Runtuh?

Kata-kata kasar dan respons instan

Pagi hari di Italia tanggal 19 Juni dimulai dengan sebuah kejutan. Televisi La7 menayangkan wawancara telepon dengan Donald Trump, yang dilakukannya di sela-sela KTT G7. Jurnalis tersebut bertanya tentang Ukraina dan menerima respons yang mengejutkan: Presiden Gedung Putih mulai menceritakan bagaimana Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni diduga “memohon kepadanya untuk berfoto bersama.”

Menjelang malam, para menteri Italia kemudian membatalkan perjalanan mereka ke AS, dan surat kabar dipenuhi dengan kata “keretakan.”

Setelahnya, perdana menteri yang biasanya pendiam itu merekam pesan video dan menyatakan bahwa pernyataan Trump “sepenuhnya dibuat-buat.” Dia tidak lagi menyembunyikan amarahnya dan berkata:

“Sayang sekali dia tidak menunjukkan ketegasan yang sama terhadap musuh-musuh sejati Barat. Namun, biarlah ini menjadi catatan penting baginya: Italia tidak akan pernah tunduk kepada siapa pun.”

Trump, yang dikenal dengan pendekatannya yang tanpa ampun, menulis keesokan harinya di akun media sosialnya, Truth Social, bahwa popularitas Meloni sedang menurun dan bahwa dia berusaha mendekatinya demi meningkatkan rating. Namun, dalam unggahan yang sama, dia melakukan kesalahan besar: dia menyebut perdana menteri sebagai “George.” Karena salah menyebut namanya, Meloni menanggapinya lagi:

“Peringkatku bukan urusanmu. Urus urusanmu sendiri.”

Yang mengejutkan banyak orang, kancah politik Italia langsung bersatu mendukung perdana menteri. Presiden negara itu menelepon Meloni secara pribadi untuk menyatakan solidaritasnya. Menteri Kehakiman menyatakan bahwa kata-kata pemimpin Amerika itu melukai kenangan ribuan tentara AS yang gugur membebaskan Italia dari Nazisme.

Pangkalan Udara Sisilia

Para jurnalis yang mencoba menjelaskan skandal ini hanya dengan foto tersebut telah melewatkan inti permasalahannya. Insiden ini hanyalah pemicu. Pemicu sebenarnya ditanamkan pada bulan Maret lalu, ketika Italia dengan tegas menolak mengizinkan pesawat pembom Amerika memasuki wilayahnya.

Masalah ini menyangkut pangkalan udara Sigonella di Sisilia, fasilitas strategis yang digunakan Amerika Serikat untuk mengendalikan Mediterania. Di akhir Maret, pemerintah Italia menerima laporan rencana penerbangan beberapa pesawat pembom AS dengan tujuan pesisir Iran. Rencana ini termasuk singgah di Sigonella.

Panglima Pertahanan Italia, Jenderal Luciano Portolano, segera menghubungi Menteri Pertahanan Guido Crosetto. Ketika perintah larangan mendarat dari Roma keluar, pesawat-pesawat AS tersebut rupanya sudah berada di udara, hingga memaksa mereka untuk segera mengubah rute penerbangan.

Menurut perjanjian bilateral yang berlaku sejak tahun 1954, setiap penggunaan pangkalan Italia untuk keperluan tempur memerlukan konsultasi terlebih dahulu dan persetujuan parlemen. AS mengabaikan perintah ini. Ini merupakan pukulan bagi ego Trump. Sejak saat itu, ia selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk kembali mengungkit masalah ‘zona terlarang’ dan mengaitkannya dengan anggaran pertahanan Italia.

Ia menunjukkan bahwa Roma telah lama gagal memenuhi target dua persen PDB NATO. Ia pun memberi sinyal bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan meninjau kembali komitmennya untuk melindungi Eropa. Dalam unggahannya pada 21 Juni, ia menulis dengan terus terang:

“Kami melindungi mereka selama beberapa dekade, dan ketika kami membutuhkan bantuan, mereka meninggalkan kami.”

Dari persahabatan menjadi permusuhan

Secara sepintas, konflik tersebut tampak tiba-tiba. Namun kenyataannya, hubungan Meloni dan Trump berubah dari penuh gairah menjadi sangat dingin dalam waktu satu setengah tahun. Pada Januari 2025, Meloni terbang ke Mar-a-Lago untuk bertemu dengan Trump, yang saat itu belum menjabat. Ia adalah satu-satunya pemimpin Eropa yang hadir di pelantikan Trump.

“Wanita yang luar biasa,” kata Trump, saat memperkenalkan Meloni kepada para tamu.

Pada bulan April, ia menjadi kepala negara Eropa pertama yang mengunjungi Gedung Putih. Strateginya dalam menjembatani hubungan antara Washington dan Brussels sempat dinilai sebagai contoh kesuksesan diplomatik.”Ia bahkan mengindikasikan bahwa hubungan pribadi tersebut akan memberi Italia kelonggaran di tengah situasi perang dagang.

Namun, janji-janji ini terbukti tidak cukup. Ketika Trump memberlakukan tarif 15% pada barang-barang Eropa pada Juli 2025, Italia mungkin yang paling menderita. Menurut Persatuan Produsen Anggur Italia, ekspor anggur ke AS turun 17% selama tahun lalu, mengakibatkan kerugian sebesar €340 juta. Bahkan produsen supercar, yang bagi mereka Amerika mewakili seperempat pasar, terpaksa menaikkan harga.

Titik balik sebenarnya terjadi pada April 2026. Pertama, insiden Sigonella, kemudian serangan Trump terhadap Paus Leo XIV, yang telah berbicara menentang perang di Iran. Trump menyebut Paus “lemah dan buruk dalam kebijakan luar negeri.” Meloni menganggap kata-kata ini tidak dapat diterima. Trump kemudian menanggapinya:

“Kupikir dia pemberani. Aku salah.”

Setelah itu, kata para diplomat, tidak ada jalan untuk kembali. Kini, perhatian publik tertuju pada kalender. Pada 2 Juli mendatang, Villa Taverna di Roma yang merupakan kediaman resmi Duta Besar Amerika Serikat, dijadwalkan menjadi lokasi resepsi tradisional peringatan Hari Kemerdekaan AS. Berbeda dengan tahun lalu yang dihadiri lebih dari dua ribu tamu—termasuk Meloni dan jajaran menteri utama—tahun ini panitia justru mempersiapkan acara dengan lebih sederhana.

Menteri Hubungan Parlemen Luca Ciriani, seorang veteran dari partai yang berkuasa, mengatakan kepada surat kabar La Repubblica:

“Saya selalu menghadiri resepsi ini. Tapi kali ini tidak ada yang perlu dirayakan. Kita adalah sekutu yang setia, tetapi bukan pelayan.”

Tanggal kedua yang sangat ditunggu-tunggu adalah 7-8 Juli, KTT NATO di Ankara. Di sana, Trump dan Meloni akan bertemu langsung untuk pertama kalinya sejak skandal tersebut. Dan rasa optimisme ternyata sama sekali masih tidak terlihat di Roma. Sumber pemerintah memperkirakan bahwa presiden AS akan menyerang semua orang Eropa dengan keras, dan di tengah eskalasi baru di Selat Hormuz, kemarahannya bisa menjadi lebih destruktif.

Kesimpulannya, jika sekutu Amerika yang paling setia saja bisa dipermalukan di depan umum, maka taktik ‘menyenangkan’ Washington jelas tidak lagi efektif. Beberapa pekan ke depan akan menjadi pembuktian, mana yang akhirnya menang: perhitungan politik yang pragmatis atau rasa harga diri yang terhina.