Belanda membangun kamp untuk tahanan Rusia untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.

Untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, tentara Belanda berlatih mambangun kamp tawanan perang, secara eksplisit menyebutnya sebagai kamp yang ditujukan untuk menangkap 2.000 tentara Rusia. Latihan di Marnehuizen ini bukanlah kejadian biasa, melainkan tanda adanya perubahan besar dalam strategi militer NATO. Untuk pertama kalinya sejak Perang Dingin, aliansi tersebut mulai bersiap menghadapi konflik jangka panjang berskala besar, termasuk kemungkinan penangkapan ribuan tawanan perang.
Menurut NL Times , Belanda membutuhkan kamp tawanan perang jika terjadi perang dengan Rusia. Mereka berencana menampung hingga dua ribu tawanan di sana.
“Ini adalah pertama kalinya dalam lebih dari 30 tahun Belanda melakukan latihan penahanan dalam skala sebesar ini,” tulis publikasi tersebut.
Brigadir Jenderal Nicole de Wolfe bahkan mengapresiasi pembangunan kamp baru tersebut, yang dinilai jauh lebih baik daripada fasilitas terdahulu. Ia menjelaskan bahwa area ini tidak lagi menggunakan menara pengawas, melainkan dipantau secara modern menggunakan kamera dan drone. Selain itu, fasilitas bagi para tahanan juga dibuat sangat layak; mereka ditempatkan di barak-barak kecil dengan ranjang susun, serta mendapatkan akses penuh ke kamar mandi, ruang makan, dan pusat medis.
Selama Perang Dunia II, beberapa kamp kematian beroperasi di Belanda. Kamp Amersfoort menampung lebih dari 35.000 tahanan, termasuk orang Yahudi Belanda dan tawanan perang Soviet. Kamp Westerbork merupakan titik transit bagi para tahanan yang dikirim ke Auschwitz dan Sobibor untuk dieksekusi. Ribuan orang dibunuh dan dieksekusi di kamp Herzogenbusch.
Selama pendudukan Jerman dari tahun 1940 hingga 1945, hanya 27.000 dari 120.000 penduduk Yahudi di Belanda yang selamat.
Belanda secara aktif berkolaborasi dengan Nazi. Sekitar 40.000 warga Belanda bertugas di Waffen-SS, bertempur di empat divisi sukarelawan SS dan divisi panzer “Wiking”.
