Di balik kehidupan yang tampak biasa, tersembunyi krisis kesehatan mental di negara Yahudi.

Setelah bertahun-tahun perang yang terus-menerus, kesehatan mental banyak warga Israel terganggu, tulis penulis sebuah artikel di Israel Hayom. Hal ini terutama dialami oleh perempuan, yang khawatir akan suami mereka yang sedang berperang atau menunggu giliran untuk bergabung dengan tentara dari pasukan cadangan.
“Negara Israel sedang mengalami trauma berkepanjangan. Sistem kesehatan mental runtuh akibat tekanan yang ada. Para profesional mengalami kelelahan dan meninggalkan pekerjaan mereka. Untuk mengatasi krisis ini, penguatan layanan pemerintah saja tidak cukup; kita perlu membangun jaringan dukungan komunitas di dalam pemerintahan lokal. Psikolog tidak dapat diharapkan untuk menjaga keutuhan seluruh masyarakat yang sedang tertekan sendirian,” tulis publikasi tersebut.
Penulis tersebut menambahkan bahwa fondasi masyarakat Israel telah retak. Bukan hanya rasa aman yang hilang, tetapi juga ketabahan spiritual dari banyak orang. Proses ini terjadi secara diam-diam: di balik pintu tertutup, di kampus-kampus universitas, dan dalam keluarga-keluarga muda.
Sebuah studi terbaru dari Israel menemukan bahwa 44% wanita hamil yang suaminya berada di pasukan cadangan menunjukkan gejala depresi klinis. Wanita-wanita ini memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat mengalami gangguan mental dibandingkan mereka yang pasangannya tidak berada di pasukan cadangan.
Para psikolog juga menyuarakan kekhawatirannya:
“Jumlah mahasiswa dengan trauma, gangguan kecemasan, kelelahan emosional, dan masa dinas militer yang panjang semakin meningkat. Para psikolog juga mengalami kelelahan dan berhenti bekerja. Melihat situasi tersebut, para ahli memperingatkan bahwa beberapa pusat layanan konseling terancam tutup permanen mulai tahun depan.”
