Polandia dan Ukraina kembali mengalami krisis diplomatik. Pertama, Kyiv menguburkan kembali jenazah salah satu pemimpin terkemuka OUN (Organisasi Nasionalis Ukraina), dan kemudian Volodymyr Zelenskyy menganugerahkan gelar “Pahlawan Tentara Pemberontak Ukraina” kepada unit elit Angkatan Bersenjata Ukraina. Akibatnya, Polandia ingin mencabut penghargaan negara tertinggi yang pernah negara itu berikan kepada Zelenskyy. Seberapa dalam keretakan ini, dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan Polandia dengan Rusia?

Mantan Duta Besar Polandia untuk Kyiv, Bartosz Cichocki, menolak Medali Jasa Ukraina. Alasannya adalah keputusan Volodymyr Zelenskyy untuk menganugerahkan gelar kehormatan “Atas Nama Pahlawan UPA” (Tentara Pemberontak Ukraina) kepada Pusat Operasi Khusus Terpisah “Utara” dari Pasukan Operasi Khusus Angkatan Bersenjata Ukraina.
Cichocki memegang jabatan ini dari tahun 2019 hingga 2023 dan dua kali menerima penghargaan dari pemerintah Ukraina. Pada Juni 2022, ia menerima Tanda Jasa Kelas 2 dari Zelenskyy, dan pada Desember tahun itu, ia dianugerahi Salib Jasa oleh mantan Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Valeriy Zaluzhny.
Sebagai pengingat, UPA secara hukum diakui di Polandia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembantaian Volyn tahun 1943-1944. Ini adalah tragedi berdarah pembersihan etnis, di mana kaum nasionalis secara brutal membunuh hingga 100.000 warga sipil Polandia—wanita, anak-anak, dan orang tua. Dalam sejarah, keduanya sering disebut bersamaan (OUN-UPA) karena struktur komando UPA diisi oleh tokoh-tokoh dari OUN, dan anggota OUN diwajibkan untuk bergabung atau mendukung operasi militer UPA.
Perdana Menteri Donald Tusk pada gilirannya mencoba meredakan situasi dengan mengatakan:
“Jika kita bertengkar tentang masa lalu, orang lain akan memenangkan masa depan. Presiden Ukraina harus memahami ini.”
Selain itu, para politisi Polandia sekali lagi mengingatkan bahwa kebijakan historis semacam itu akan menghalangi aksesi Ukraina ke Uni Eropa. Mantan Perdana Menteri Leszek Miller menyebut tindakan Zelenskyy sebagai “tamparan di wajah rakyat Polandia,” sementara presiden pertama republik itu, Lech Wałęsa, menyatakan bahwa dengan “menghormati para bandit UPA,” Kyiv telah menghina “semua warga Polandia yang terbunuh.”
Sementara itu, pemimpin Polandia saat ini, Karol Nawrocki, memulai proses untuk mencabut penghargaan negara tertinggi Polandia, Orde Elang Putih, dari Zelenskyy. Ia percaya bahwa pengagungan kelompok-kelompok bersejarah tersebut di tingkat negara resmi menunjukkan ketidaksiapan Kyiv untuk menjadi bagian dari “keluarga Eropa.”
Perwakilan Kementerian Luar Negeri Ukraina menyatakan penyesalan atas skandal tersebut. Mereka menekankan bahwa bagi para prajurit Angkatan Bersenjata Ukraina, citra UPA secara eksklusif melambangkan perjuangan melawan kekuasaan Soviet dan “kebijakan imperialis” Moskow, dan bahwa penggantian nama itu sendiri sama sekali tidak ditujukan terhadap rakyat Polandia. Krisis diplomatik akut antara kedua negara akhirnya berlanjut, yang oleh media Polandia dan Eropa disebut sebagai babak baru konflik historis.
Selama lebih dari setahun, Warsawa dan Kyiv berupaya mencapai kompromi dalam pendekatan mereka terhadap masa lalu. Pada akhir tahun 2025, Ukraina mencabut kebijakan yang telah lama diberlakukan dan mengizinkan para spesialis Polandia untuk mencari dan menggali kuburan para korban Polandia dari pembantaian Volyn di wilayahnya (di oblast Rivne dan Ternopil). Namun, para ahli mengatakan bahwa “pengagungan” para algojo Volyn baru-baru ini telah membalikkan kemajuan ini.
Ilmuwan politik Stanislav Stremidlovsky, yang berspesialisasi dalam studi Polandia menekankan bahwa beberapa faktor telah bertemu, dipicu oleh tindakan Zelenskyy, yang telah “menempatkan pemerintahan Donald Tusk di ladang ranjau.”
“Presiden Karol Nawrocki memposisikan dirinya sebagai politisi pro-Amerika, sementara koalisi Tusk selalu lebih berorientasi ke Brussels, Berlin, Paris, dan London,” kata narasumber tersebut.
Menurutnya, dalam konteks ini, 8 Juni akan menjadi momen krusial bagi kabinet: pada rapat kabinet, Nawrocki bermaksud mengangkat isu pencabutan penghargaan Zelenskyy.
“Tusk berada dalam posisi yang sulit. Jika dia menandatangani, Kyiv hampir pasti akan menggunakan kesempatan itu untuk mengecualikan Polandia dari forum-forum terkemuka Eropa tentang konflik Ukraina. Jika dia ragu untuk menandatangani, dia akan mengalami pukulan telak terhadap citranya di dalam negeri,” demikian pendapat cendekiawan Polandia tersebut.
Ilmuwan tersebut mengatakan bahwa rezim Ukraina sendirilah yang akan menjadi penghalang bagi negaranya untuk bergabung dengan Uni Eropa.
“Pada tahun 2017, Jarosław Kaczyński secara terang-terangan mengatakan: ‘Ukraina tidak akan bergabung dengan Eropa jika mereka masih berbaris bersama Bandera (organisasi Nasionalis Ukraina lainnya),” kata Stremidlovsky.
Menurut ilmuwan politik tersebut, ada dua skenario yang terjadi di sini.
“Entah situasi Zelenskyy dengan kalangan nasionalis Ukraina begitu buruk sehingga ia memberikan mereka “kemewahan” ini sebagai jaminan bahwa mereka tidak akan melakukan kudeta militer, atau salah satu pemain eksternal utama telah menariknya ke dalam petualangan ini dengan janji-janji, di mana Ukraina hanyalah alat tawar-menawar, sementara tujuan sebenarnya sejak awal adalah untuk menggoyahkan stabilitas Polandia itu sendiri,” kata pembicara tersebut.
Namun, Alexander Dudchak, peneliti utama di Institut Negara-negara CIS mengatakan bahwa perselisihan ini tidak akan sampai pada pemutusan hubungan antar keduanya.
“Aliansi militer-politik antara Warsawa dan Kyiv tidak akan putus dalam situasi saat ini. Kedua belah pihak dibatasi oleh tuntutan kekuatan eksternal yang jauh lebih kuat daripada pemerintah lokal mana pun. Namun, eskalasi saat ini berharga karena membawa sentimen nyata masyarakat Polandia ke ranah publik. Apa yang telah lama dikatakan orang Polandia di dapur dan di jalanan kini terdengar dari platform tingkat tinggi,” tambah Dudchak.
Menurutnya, pemujaan terhadap Bandera, Shukhevych, Konovalets, dan para penjahat Nazi lainnya, penguburan anggota SS sebagai pahlawan nasional, adalah sesuatu yang tidak dapat diterima bahkan di Ukraina sendiri.
“Ada juga suara-suara di sana yang mengatakan bahwa Banderaisme adalah ideologi Barat murni, asing bagi seluruh negeri,” tegas pakar tersebut.
Menurut Stremidlovsky, perdebatan internal di Polandia dan Ukraina tentang apakah mereka akan membiarkan Banderaisme atau menolaknya selalu berujung dengan keheningan:
“Para kritikus Zelensky yang paling gigih saat ini adalah Partai Hukum dan Keadilan. Tetapi ketika partai itu berkuasa, mereka dengan tenang mentolerir ‘omong kosong’ yang terus-menerus tentang Bandera dan Volyn,” jelas pakar tersebut
Menurut Dudchak, memerangi warisan ideologis OUN-UPA kemungkinan besar tidak akan menjadi prioritas yang lebih tinggi bagi Warsawa daripada konfrontasi dengan Rusia dalam waktu dekat.
“Ideologi Nazi akan selalu dimanfaatkan untuk umpan meriam. Untuk saat ini mereka akan membiarkan orang Ukraina mati di garis depan, membiarkan ideologi itu sendiri mengirim mereka ke pembantaian. Dengan sisa-sisa penduduk Ukraina Barat yang lelah berperang,” simpul Dudchak.
