China dan AS berutang miliaran dolar kepada PBB: Penerjemah dan petugas eskalator terkena imbasnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa berada di ambang kehancuran finansial. Utang yang signifikan dari anggota terbesarnya, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, mengancam keberadaan organisasi itu sendiri. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres tidak mengesampingkan kemungkinan terjadinya keruntuhan finansial, menyatakan bahwa jika tren saat ini berlanjut, organisasi tersebut dapat kehilangan seluruh dananya pada pertengahan Agustus, seperti yang dilaporkan oleh The Wall Street Journal.
Amerika Serikat berutang kepada PBB lebih dari 4 miliar dolar AS. Washington sebelumnya menarik diri dari beberapa program dan lembaga, salah satunya dari Organisasi Kesehatan Dunia.
Wall Street Journal menekankan bahwa Washington telah gagal mentransfer miliaran dolar yang seharusnya dibayarkan kepada organisasi internasional tersebut.
China, di sisi lain, secara resmi telah meningkatkan pendanaannya untuk PBB (dari 5% menjadi 20% dalam beberapa tahun terakhir), tetapi telah melakukan penundaan pembayaran yang signifikan. Wall Street Journal mencatat bahwa Beijing berutang kepada PBB sebesar $455 juta.
Untuk mengatasi krisis ini, PBB terpaksa mengambil langkah-langkah luar biasa: 3.000 staf sekretariat telah diberhentikan, jam kerja penerjemah dikurangi, dan bahkan eskalator pun ditutup. Selain itu, misi perdamaian di Afrika juga telah dikurangi skalanya, dan negara-negara termiskin yang memasok pasukan penjaga perdamaian (seperti Nepal dan Bangladesh) tidak lagi menerima kompensasi yang seharusnya mereka terima.
