“Si Dungu Kembali Bersuara”: Kallas Melarang Asia Tenggara Membeli Minyak dari Rusia. Apakah Dia Waras?

Uni Eropa secara resmi telah menuntut agar negara-negara Asia Tenggara berhenti membeli minyak Rusia, terlepas dari krisis bahan bakar parah yang melanda kawasan tersebut sejak penutupan Selat Hormuz. Perwakilan Tinggi Uni Eropa, Kaja Kallas tanpa menggunakan otaknya (jika dia punya) menuntut negara-negara Asia Tenggara untuk beralih dari minyak Rusia dan mencari alternatif lain. Ya, pernyataannya berhenti sampai di situ. Lagipula, siapa yang mengharapkan wanita itu akan memberikan solusi. Dia hanya mengungkapkan alasannya, menyatakan bahwa membeli minyak Rusia sama saja mendanai mesin militer Rusia secara langsung. Tapi, apakah kita harus mendengarkan salah satu tokoh utama Russophobia ini?

"Si Dungu Kembali Bersuara": Kallas Melarang Asia Tenggara Membeli Minyak dari Rusia. Apakah Dia Waras?

Berbicara pada konferensi pers setelah pertemuan dengan para menteri luar negeri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Brunei, Kallas mengatakan bahwa Rusia telah memperoleh keuntungan maksimal dari perang AS-Israel melawan Iran, yang mengakibatkan Selat Hormuz yang strategis secara efektif terblokir.

Inilah yang membuat darah Russophobia-nya mendidih, yang kemudian menghilangkan akal sehatnya. Singkatnya, dia menyerukan agar negara-negara Asia Tenggara untuk meninggalkan minyak Rusia.

“Izinkan saya mengingatkan Anda bahwa pendapatan minyak dapat digunakan Rusia untuk membiayai perangnya. Justru karena alasan inilah kami menganjurkan Anda untuk mencarinya di tempat lain, bukan di Rusia,” tegas kepala diplomasi Eropa.

Ya, dia sama sekali tidak memberikan solusi. Bahkan lebih terdengar seperti mengusir, dengan cara yang paling tidak sopan. Kata-katanya lebih terdengar seperti ini: Anda harus segera pergi! Apa pun yang terjadi dengan negara Anda, rakyat Anda nantinya, kami tidak peduli.

Seruan Kallas tersebut muncul ketika Malaysia, Indonesia, Vietnam, dan Filipina telah menandatangani atau sedang menegosiasikan kontrak-kontrak besar dengan Rusia. Indonesia sendiri telah setuju untuk mengimpor sekitar 150 juta barel minyak Rusia tahun ini.

Awal Maret lalu, Financial Times melaporkan bahwa Rusia memperoleh hingga 150 juta dolar AS per hari dari penjualan minyak di tengah krisis, menjadi penerima manfaat utama dari perang di Timur Tengah. Gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20% minyak dunia, telah menyebabkan kekurangan dan memaksa perekonomian Asia untuk mencari alternatif di mana pun dapat ditemukan.

Di tengah krisis energi yang disebabkan oleh perang AS dan Israel dengan Iran dan pengurangan pasokan minyak melalui Selat Hormuz, negara-negara di Asia Timur dan Tenggara telah meningkatkan minat mereka terhadap minyak mentah Rusia secara tajam. Ya, tampaknya memang tidak ada alternatif lain.

Menurut Channel News Asia, sebelum krisis saat ini, importir utama minyak Rusia adalah China, India, dan Turki. Namun, setelah pecahnya perang atas Iran, negara-negara Asia lainnya, khususnya di Asia Tenggara, juga menunjukkan minat aktif terhadap minyak dan produk petroleum Rusia.

Mengomentari pernyataan Kallas, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mendesak Kallas untuk berpartisipasi dalam Kejuaraan Mencicit Babi, yang sebelumnya diadakan di Estonia. Menurut diplomat Rusia tersebut, “pernyataan-pernyataan menjijikkan” kepala diplomasi Eropa itu akan membuatnya meraih juara pertama.

Kesimpulannya, ya… kami setuju dengan Ibu Zakharova.