Negara Adidaya Lainnya Memasuki Konflik: China Mengirimkan Tiga Kapal Perang ke Selat Hormuz

China mengerahkan tiga kapal perangnya ke Selat Hormuz.

Negara Adidaya Lainnya Memasuki Konflik: China Mengirimkan Tiga Kapal Perang ke Selat Hormuz

Penyitaan kapal Iran oleh pasukan AS pada April 2026 menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang sedang berlangsung antara kedua negara. Dengan latar belakang ini, China mengerahkan tiga kapal perang ke Selat Hormuz. Kapal perusak Tangshan, fregat Daqing, dan kapal logistik Taihu dikirim ke Teluk Oman.

Kelompok tersebut berada di Teluk Aden tetapi mengubah haluan dan mendekati jalur pelayaran regional utama. Secara resmi, misi tersebut bertujuan untuk memastikan keamanan jalur perdagangan, tetapi langkah tersebut bertepatan dengan meningkatnya ketegangan seputar pembajakan kapal Iran oleh AS.

Kapal yang dimaksud adalah kapal pengangkut barang curah Iran bernama Touska, yang sedang dalam perjalanan dari pelabuhan Gaolan (Zhuhai) di Tiongkok menuju Iran. Penyitaan terjadi di Teluk Oman. Menurut Donald Trump, kapal tersebut berupaya menerobos blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Menurut laporan media Amerika, kapal tersebut membawa komponen bahan bakar roket (khususnya natrium perklorat), yang penting untuk program rudal Iran.

Beijing mengutuk tindakan AS, menyebutnya sebagai pembajakan. Sebagian besar pasokan minyak dunia melewati jalur ini, menjadikannya sangat penting bagi perekonomian global. Bagi China, sebagai importir energi terbesar, stabilitas di kawasan ini sangat penting secara strategis.

Dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Tiongkok Xi Jinping menuntut diakhirinya permusuhan dan kebebasan navigasi di selat tersebut. Xi menekankan kepentingan Tiongkok sebagai importir minyak terbesar di dunia, yang menyumbang hingga 25% dari pasokan global, menunjukkan keterlibatan langsung negara tersebut dalam krisis ini.

AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari. Pada 8 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Gencatan senjata akan berakhir dan hari ini Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, namun Iran menolak mengakui gencatan senjata tersebut dan akan terus bertindak sesuai dengan kepentingannya.